Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Mahasiswi Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Mahasiswi Akuntansi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

Andai Bumi Bisa Ngomong

Aku adalah bumi. Aku terkenal karena dapat dihuni oleh manusia dan mahluk hidup lain. Mungkin aku juga terkenal karena kerusakan di sana sini di umur yang setua ini.
Andai ada yang mau menanam tumbuhan, aku pasti nggak gundul di sana sini. Tapi, manusia cuma bisa menebangi pohon untuk rumah dan lain sebagainya. Kalau ada banjir pada musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau, mereka cuma bisa menyalahkan alam. Aku juga kan yang kena.
Andai mereka tau kalau sebenarnya aku kesakitan digali di sana sini. Mereka malah sibuk menambang dan kelama-lamaan menjadi rakus. Aku dieksploitasi habis-habisan. Kalau sudah sampai level ‘hampir habis’, mereka baru sadar. Ada sebagian yang mau hemat energi, tapi sepertinya belum banyak yang menyadarinya.
Andai teknologi dan industri belum ada, pasti aku nggak ditimbuni sampah di sana sini. Paling nggak mereka peduli dalam urusan daur ulang sampah saja, aku bisa sedikit lega. Aku benci plastik dan styrofoam! Kawan-kawanku, para bakteri pengurai, bekerja keras menghancurkan benda-benda itu. Butuh waktu lama sekali, padahal plastik-plastik sudah menumpuk dan bertebaran di kulitku. Aduh!
Selain itu, penemuan-penemuan manusia cuma bikin aku susah. Mereka jadi melupakanku. Mereka mencemari segalanya, dari tanah, air, udara, sampai pada tahap pemanasan global. Sebagian dari tubuhku hilang karena mencair. Tempat-tempat indah di berbagai benua akan lenyap. Oh, aku akan kalah keren dari planet-planet lain.
Kupikir aku dan manusia bersahabat baik. Tapi nyatanya manusia tidak peduli padaku. Jadi, jangan salahkan jika akhir-akhir ini aku marah. Mereka bahkan tidak menyelamatkanku secara total, malah mulai mencari planet lain yang mungkin bisa dijadikan tempat tinggal. Huhuhu, aku akan ditinggalkan.
Ah, seandainya aku bisa ngomong….



Artikel ini pernah diikutin lomba dalam rangka menyambut Hari Bumi 2011, di FMIPA UM (yang ngadain dari HMJ atau BEM, aku lupa. :p). Karena kalah serius sama artikel lain, akhirnya aku berhasil jadi juara 2....., dari bawah. Kaok~ kaok~ kaok~...
Lepas dari itu, semoga artikel ini bisa menumbuhkan rambut, hash, kesadaran pentingnya sayang sama bumi. Toh sebagian dari bencana alam yang lagi ngeksis di Indonesia, datangnya dari kelakuan nggak bertanggung jawab manusianya sendiri. :)

Rabu, 08 Januari 2014

Dance Dance Revolution

Selain aku, adakah wahai para-pelirik-anak-manis yang juga suka maen DDR?
Apa sih tujuanmu nge-game? Pengen jadi pemecah rekor, nilai sempurna, iseng aja, ngilangin stress. pengen nampang di game center, atau apa?
Kalau aku sih karena emang suka dance. Dan penghilang stress. :D
Jangan dikira aku pakai level expert atau skor A melulu. Malah dari dulu level beginner nggak kelar-kelar. Dan hanya di mesin yang punya empat arah. Padahal kan mesin jenis itu udah mulai langka, lagu-lagunya juga jadul bingit.
Udah nyoba yang lain, tapi nggak sreg. Coba kenapa, hayo?
Karena aku pengen menikmati tiap ogelan dengan elegan dan penuh penghayatan. Karena aku suka dengan spesifikasi yang aku sebutin di atas. :D
Kadang masih suka mangap optimal sih kalo liat mas-mas cakep dan mbak-mbak yang DDRan pakek level expert atau yang sekalian atraksi ala Step Up. Hehe...
Dan aku masih ngakak aja kalo ingat pertama kali DDRan di Timezone Pasar Besar Malang, sekitar tahun 2007. Pertama kali memberanikan diri nyoba ya di situ itu (ceritanya udah pengen dari lama, tapi malu tingkat nasional). Menurutku, aku sih biasa aja. Pas udah selesai tiga lagu, aku noleh...., waduh busyet... yang nonton banyak juga. Lumayan, kalo HTM @ IDR 10.000,-, bisa buat bayar kos sebulan. #abaikan :D
Pas itu cuma bisa GLEK! #telenmesinDDR wakakaka
Dari kejadian itu, aku mulai sadar. Aku nggak perlu membandingkan diriku dengan yang lain. Menikmati jadi diri sendiri bakal bikin aku bersinar.
Oiya, setelah menjadikan DDR-an sebagai hobby, ada pelajaran lain yang bisa diambil lho.
Kalo aku salah langkah, harus terus fokus melangkah, jangan kacaukan gerakan selanjutnya.
Tau apa istilah lainnya?
Yep! MOVE UP! :)


Jumat, 20 Desember 2013

Kenangan: Pemanis Hujan



Terjebak hujan (lagi). Di tempat yang sama saat aku nulis Cerita Hujan beberapa bulan lalu. Kali ini aku memilih untuk berdiri di luar, bukan menunggu di food court maupun kedai di deretan depan mall. Entah kenapa, aku memutuskan berhadapan langsung dengan hujan. Kurang dari semeter, aku bisa menyentuhnya. Harusnya membosankan. Berkat mobil berpelat N bla bla bla AK, aku sukses melamun. Hihi. Sekarang aku tau kenapa hujan identik dengan penggalauan. Derasnya hujan kadang bikin kita terjebak, terdiam, menjadikan kenangan sebagai satu-satunya bagian dari kita yang bekerja lebih giat daripada yang lainnya.

Plat N. Malang. Kota yang lama tidak kujenguk. Aku merindukannya.
Aku merindukan... hmmm..., kotanya?
Kota?
Seandainya sahabatku tak tersisa satupun di sana, apakah aku akan kembali?
Seandainya tak ada satupun yang menemaniku berkeliling, apakah aku masih tetap bahagia?
Setelah dihujani kenangan pahit di sana, apakah aku masih bisa tersenyum saat kembali?
Apa yang sebenarnya yang aku rindukan? Kenangan yang lalu?
Di saat aku terjebak di gedung ekonomi bersama teman-teman? Dimana sebagian dari kami lapar, mungkin mengantuk, juga lelah, menantikan langit berbelas kasihan untuk mengerem tangisnya?
Saat aku meringkuk di bawah payung dalam perjuangan pulang ke kos yang lumayan jauh jaraknya?
Ngobrol saat mengantri membeli makanan, lalu makan beramai-ramai, “tidak penting kemana tapi bersama siapa”?
Saat aku mendengar sapaan dari teman sekostku yang baru pulang kuliah? Saat kami mengerjakan tugas bersama, dimana lebih sering bercandanya daripada seriusnya?
Saat aku sok menyusup ke fakultas lain?
Seandainya semua yang kurindukan ternyata berubah, apakah ada kelegaan ketika aku bertemu?
Apa yang aku rindukan?
Karena jika kau merindukan seseorang, kau harus siap menerima segala perubahannya setelah sekian lama tak berjumpa.
Karena jika kau merindukan tempatnya, kau harus siap berpetualang sendirian, maupun bersama orang asing.
Jadi, apa yang kurindukan? Kenangan?
Kenangan itu kompleks, mengembalikan kejadian. Ada orang, tempat, dan keadaan. Yang tersulit untuk direka ulang. Karena hal sama sulit untuk terulang kedua kalinya.
Apa yang sebenarnya kuinginkan? Menciptakan kenangan baru di sana?
Kenangan baru? Oke, kedengarannya bagus.
Jika aku telah memilih bahagia, harusnya aku akan bahagia dengan “apa ada”nya.
Kenangan oh kenangan. Kamu memang pemanis hujan.

Udah ah. Gini ini kekurangannya jadi dewasa. Jadi banyak seriusnya. Kata-katanya jadi dominan menyayat perasaan. Saatnya dinetralisir dengan menjahili orang. Dan ngakak. #kaburkedunianyata :D
Ketemu lagi di postingan selanjutnya yaa~ :)

Rabu, 13 November 2013

Nasihatpun Berkode

...apa hayoo? apa hayoo? :D
(hobi banget sih ngomong gini akhir-akhir ini)

Aku mau cerita soal om, yang alhamdulillah jadi profesor kimia di salah satu PTN di Surabaya. (ini cuma biar para pembaca tau, sapasih orang yang "ngomong seenaknya" ini. Yang nyangka sombong, disapu dulu geh negthinknya. :) )
Konon katanya, mahasiswanya pada takut. Yang dipanggil, dikira bermasalah.
Padahal...
om itu kadang cuma mau ngerjain. Biar mahasiswa lebih disiplin & rajin. :D


Sekitar 4 tahun yang lalu, pas aku masih jadi mahasiswa, diceritain sesuatu sama om.

Cerita apa hayoo? apa hayoo?

Kasi tau ngga yaa? :3

#plakplak #hakdes :D

Jadi, ceritanya...
Beliau suka bilang gini dengan wajah lempeng di depan mahasiswanya yang khawatir sama sidang skripsi, "Kalian pasti lulus kok~ Semua pasti lulus~ Cuma ya itu. Harus ujian dulu."
*senyum santay*

Ohmeeen!

Aku sebagai mahasiswa, mbayangin ekspresi dan perasaan yang diomongin gitu itu, kok.... jadi jengkel ya.
Ujian kan susah.
Kok gampang banget gitu dibuat bercandaan.
Om udah profesor mah enak bilang gitu. Yang masih S1???
Mpft!

...dan ternyata...

...setelah dihayati dan dipahami...

Sebenernya omongan om itu nggak nyebelin kok. Itu kan semacam mengandung kode.
"Kalo mau lulus ya ujian. Biar ujiannya lancar jaya, ya belajar! Usaha dong!"

Iyaya.
Orang yang gampang ngeluh itu, bisa jadi usahanya minim. Semangatnya kecil, rame galaonya. Butuh dipecut, cyin... :D



Dan ada lagi...

Pas aku di Surabaya, dulu hampir selalu kalap sama komik Detective Conan.
Kena omel deh.
Sebel deh.
Masa aku dikatain, "Gunanya buku begituan apa coba? Baca buku itu yang bisa buat seminar, kayak om!"
Nggak terima deh.
Njawab deh...
"Buat belajar jadi detektif dong!"
Hiyaa~

...dan setelah ditinjau ulang...

Itu maksudnya, "Jangan kebanyakan baca buku buat maen-maen. Sekolah yang serius!"

Iyaya.
Kalo udah terlanjur suka itu bisa bikin lupa diri. :D



Dan selanjutnya...

Kami diskusi soal idealis realistis. Maksudnya gini, kamu berbakat & berminat di suatu bidang, tapi di lain sisi, ada tuntutan buat menjalani bidang yang lain. Trus itu gimana?

"Ya contoh Tompi dong. Dokter yang bisa nyanyi."

Seperti biasa, anak muda ini nggak paham. :P


...dan setelah disesuaikan dengan kenyataan hidup...

*hening*

*flashback*

Akuntansi itu (sebenarnya) pilihan hidup ketiga setelah kedokteran dan arsitek tata ruang.
Jauh juga dari hobi nulis.

Karena suatu hal,... akhirnya ngeyel nyemplung akuntansi. Dan sebenernya, agak kaget sama pelajarannya. Heuheu. Jangan ditanya ngeluhnya kayak apa. Padahal setelah lulus, perjuangan bersama para sahabat yang dikangenin. :P
Biar tambah cinta sama jurusan, akhirnya nyoba cari sesuatu yang menyenangkan. Nyoba njodohin si idealis sama si realistis deh.
Yang kedokteran kan suka forensiknya. Akuntansi keuangan juga ada forensik kok. Namanya auditing dan sistem informasi akuntansi. Seru juga jadi detektifnya uang dan sistem, ngga kalah sama analisa korban pembunuhan. Aku sukses ambil tema manipulasi laporan keuangan buat skripsi. *\(^o^)/*

Oke, om. Sekali lagi, Anda benar!

"Tompi itu belajarnya pasti rajin. Makanya sukses jadi dokter. Trus setelah sukses & mapan, dia bisa nyanyi sepuasnya. Kerennya jadi dua kali lipat kann..."
Kesimpulanku sih itu. Hehe.



Jadi, sudahkah kamu memahami nasihat dari orang-orang bijak nan unyu di sekitarmu?
Yuk, jadi lebih peka di jalan yang benar. Puter otak, buka hati. ;)

Minggu, 07 Juli 2013

Kupu-kupu itu Aku

..judul yang sama dengan catatanku.. Catatan yang bahkan aku lupa kalo aku pernah bikin. Catatan yang teronggok dengan elegan di pojokan folder, menunggu dengan setia untuk dibaca lagi. Padahal isinya membakar semangat loh. :D

29 Agustus 2011.
Itu tanggal buatnya.
Mungkin catatan ini aku buat di Malang dan kejadian sebenarnya di Madiun.
Dan mungkin juga aku abis ngomel unyu atas sesuatu (terduga sih pas krisis semangat ngejar target skripsi atau deg-degan mau ujian skripsi. Bhihik!) dan kebetulan papa abis baca atau nonton yang bikin beliau terinspirasi untuk menyemangati anak bungsunya.

Ini isi catatanku:

Aku anak yang penuh ketidaksempurnaan. Aku sering menangis, walau terlihat baik-baik saja.

Suatu hari Papa berkata:

“Ada professor yang sedang mengamati kepompong. Ada dua kepompong dan pada dua-duanya terlihat kupu-kupu yang kesulitan keluar dari kepompong. Profesor itu membantu kupu-kupu pada kepompong pertama untuk keluar dan membiarkan yang satunya berjuang sendiri.
Kupu-kupu pertama yg sudah keluar sedang belajar terbang. Sedangkan yang lainnya tampak menderita karena kesulitan keluar. Butuh waktu yang lama untuknya agar lepas dari jeratan kepompong.
Apa yang terjadi?
Kupu-kupu pertama yang sudah lama belajar terbang tetap tidak bisa terbang dengan sempurna. Kepakan sayapnya jelek.
Kupu-kupu kedua yang baru saja keluar, mengepakkan sayapnya dengan anggun dan dapat terbang dengan indah. Sempurna!”

Aku mendengarkan cerita Papa dengan asyik. Lalu tiba-tiba Papa menyambung, 

“Kamu itu kupu-kupu kedua. Walau harus menderita dulu, papa tau kamu bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan baik. Ada prosesnya…”

Aku cuma bisa tersenyum bangga. Ya, kupu-kupu itu aku!


Aku bacanya sambil mlongo. Dasarnya pelupa yaa.. jadi terasa kayak baru dikasi motivasi. Hehehe.. Terharu dan makjleb di saat yang bersamaan. :D


Teruntuk diriku sendiri dan untuk siapa saja yang sedang berjuang, baca ini berulang kali.
Hadapi tantangan dan jangan pernah menyerah! ^^/

Rabu, 22 Mei 2013

Keren Dari Hati

Hayhay!
*nari hula-hula*

Anak manis kembali... Ngga tahan buat nulis. Karena rating tertinggi di otak adalah tema "percaya diri", jadilah postingan ini.

Manusia selalu ingin tampil sempurna. Apalagi cewe yang identik sama kerempongan make up, pakaian, sepatu, bla bla bla...dan bla bla bla. :D

Salah seorang sahabat & roommate gue dulu sering nanya, "Bagus ngga? Pantes ngga?" pas doi ganti kostum sebelum pergi. Itu nanyanya pake wajah H2C, ngga yakin.

Gue sih nanya balik, "Kamu nyaman ngga pakek itu?"

Kenapa nyaman?
Karena saat lo ngrasa nyaman sama sesuatu, rasa percaya bakal tumbuh kalo sesuatu itu emang pantes sama lo dan lo bangga sama sesuatu itu, akhirnya aura elegan lo bakal terpampang nyata. :D
Rasa percaya yang gue maksud itu rasa percaya diri.
Gue percaya segala sesuatu yang datang dari hati bakal kelihatan lebih "huwow!". Dan gue juga yakin, lo mau nglakuin apapun, orang-orang bakal komentar. Selalu ada komentar. :))
Jadi, cara terbaik jadi mahluk keren adalah jadi diri sendiri.

Mau pake gaun atau setelan jas sebagus apapun, kalo lo ngga pede ya percuma. Tapi ya bukan berarti lo pake pakaian compang-camping trus nampang yaa... Itu pembunuhan karakter namanya. :D
Jadilah yang terbaik yang lo bisa tanpa meninggalkan jati diri, dari sikap dan penampilan, gue yakin matahari bakal kalah hot dari lo. :)


Ketika Lo Ngga Pede
Saat lo ngga pede, rentan muncul penyakit rumput-tetangga-lebih-ijo. Padahal lo ngga tau mereka juga berpikir yang sama ke elo. :D

Contoh paling simple yak.
Semua orang yang bisa liat gue di dunia nyata menyatakan kalo gue bongsor. Oke, gue akuin setaun ini terjadi penyusutan.
Suatu hari, gue jogging pake C.L.B.K. (Celana Lawas Bersemi Kembali - soalnya yang laen kebesaran xD ) yang pas badan. Ketemu kenalan cewe di tengah jalan dan tersenyumlah gue. Eh, doi ngliatin gue pake tatapan kamehameha dan senyumnya kecut. Trus ketemu lagi kedua kalinya, doi ngliatin atas-bawah-atas-bawah dan colek-colek.
Karena gue agak lo-la kalo urusan diri sendiri, jadinya telat nyadar kalo kenalan gue itu ngliat gue lebih "ijo". Masyarakaaaat... Ngakak aja mah gue sambil tetap tersenyum manis. Padahal blom tentu lebih ringan gue daripada doi. xD

atau yang kayak gini...

Pas pake baju yang biasa dipake, trus ada orang yang nunjuk-nunjuk penuh totalitas, "HAH, LONGGAR!" sambil melotot, bukan kagum, tapi kesannya cemburu.
Untung itu bilangnya ngga pake gaya Arya Wiguna sambil nggebrakin perabotan, banting odong-odong, cabut-cabutin rumput, atau pukul-pukul tembok. xD
#ngakakngesot


Muehehehe.. sekian dulu cerita dari anak manis.

Jadiiii, sudahkah lo keren hari ini? :D


(mengenang sahabat dalam keabadian yang akan selalu hidup di hati, Septi Ratna)

Rabu, 15 Mei 2013

Trauma Sinyal Palsu

Aloohaa!

Anak manis kembali lagi.
Kemaren bikin postingan soal masa kecil, sekarang urusan umur 20-an... :D
Eh, sebenernya tema kali ini ngga cuma buat umur 20-an sih, segala usia berhak kok "terjangkiti" anugrah yang satu ini.
Apa hayooo?

Suka...

Cinta...

Sayang...

Hmm, sebenernya gue masih bingung sama beda tiga kata di atas. Mungkin..., mungkin lho ini. Tiga kata itu sebenernya adalah tingkatan. Suka dulu, baru cinta, trus jadi sayang. Bener ngga sih? Ah, entahlah... perasaan kan abstrak, jadi susah buat dijelasin, tapi jadi basi kalo ngga diungkapkan, eh, diakui. :p

Manusia yang normal harusnya bisa jatuh cinta. Cinta dapat datang kapan aja, dimana aja. Cinta ngga pernah salah. Jatuh cinta itu menyenangkan.
Yang jadi masalah adalah, hati lo jatuh ke orang yang tepat apa ngga?
Pengalaman nih,
hati gue pernah jatuh,
diambil sama orang,
dikasi sinyal begitu meyakinkan,
ternyata digantungin kayak jemuran,
ditarik ulur kayak layangan,
bonus dijadiin lelucon komunitas,
trus terakhir ditinggal gitu aja tanpa pernyataan apapun.
Kaplok-able, yes? BIG YES!
Tapi gue ngga bakal menodai tangan gue yang halus dengan menyentuh manusia "haram" itu. Biarkan Tuhan yang menangani segalanya.
"Ya Allah, sumpah hamba ngga jadi nelpon sniper atau dukun santet kok..."
wakakakaka
Yang bisa gue pastiin orang geje, derajat kerennya langsung turun 50%. Sumpah deh. Trauma bener gue.


Gara-gara itu, gue bisa belajar move on, bangkit untuk jadi cewe yang lebih hebat lagi, lebih cinta sama diri sendiri, dan pastinya jadi pemaaf. Hey, gue cerita begini bukan diambil paitnya ya, tapi hikmahnya. Lagian, gue lebih bahagia di masa sekarang, jadi ngga mungkin mau kalo disuruh mundur. Cewe bener harusnya berjodoh sama cowo keren (tingkah lakunya). :D

Gara-gara itu juga, gue tau tipe rumah, eh, cowok apa yang ngga sesuai sama gue (dari nasihat om MT). Kadang kalo kita mau nemuin sesuatu yang cocok, harus melewati sistem trial and error. Asal bisa move on sih. Ngga buang-buang waktu buat hal yang ngga ada gunanya. :)

Gara-gara peristiwa itu, gue sadar sepenuhnya cinta butuh pengakuan dan kalo perlu di depan umum, untuk menghindari kegejean terulang. Selama ngga ada pengakuan atau pernyataan yang menyebutkan Subjek-Predikat-Objek, gue anggap sinyal yang datang itu buat umum, ngga khusus ke gue. Dan tentunya, gue bebas berteman dan bercanda sama siapa aja.
Karena apa?
Belom ada ikatan sama siapapun. :)

Btw, gue maafin orangnya, tapi ngga bakal gue lupain pengalamannya. Dan gue bakal susah maafin diri gue sendiri kalo sampe yang semacam itu terulang (mau digejein orang). :)
Oh ya, ada yang bilang pacaran itu bahaya. Bahaya? Kenalan secara personal, sama temen-temennya, keluarganya, komunitasnya itu bahaya? Bahaya kan tergantung niat, kesempatan, dan orangnya. Kalo yang cowo brengkes, yang cewe mau di-brengkesi, terjadilah "bahaya". Dan, percayalah.. gue keras kepala. ;) #menurutguesih

Gara-gara itu, gue nemuin sahabat yang bisa diandalin. Yang rela ndengerin ocehan gue sebegitu lamanya, yang mau jadi detektif tanpa disuruh, ah... masa-masa itu berasa manis karena mereka.
Salah seorang dari mereka pernah bilang,"Ih, Ela berani yaa, ngakuin suka sama orang."
Ouw, pas itu gue masih bodo, naif, dan sok. Sekarang? Gue capek. Meskipun aslinya, gue agak ngga sabaran dan mulai ragu, tapi gue yakin masih ada cowo yang berani... dan baek... dan bertanggung jawab... dan setia... dan sevisimisi sama gue di dunia ini. Amin!  :D


Lho? Jadinya curcol nih?
Bagi pengalaman aja, kali aja ada yang nasibnya sama. Biar cepet bangkit setelah jatuh. Biar lebih berani lagi buat apaaa? Jatuh cinta! ^^/
..dan bikin pengakuan, tentu aja (buat cowo). :D

Kamis, 29 November 2012

Sensasi Didadar

Yuhuuu...
Di tengah kerinduan yang memuncak akan kegiatan kuliah, kepikiran untuk nulis keadaan pas didadar. Aku udah jadi Sarjana Ekonomi, dan gelar itu nggak akan bisa diraih tanpa adanya pendadaran.
Jurusanku, akuntansi, di Universitas Negeri Malang mewajibkan pendadaran sebagai salah satu syarat kelulusan. Beda sama jurusan lain, kebanyakan penguji di jurusanku bertampang duarius. Ga serius lagi. Dan diusahakan didadar tiga orang sekaligus. Tiga orang! Hitung aja berapa rius yang ada disana! Enamrius! *abaikan :D

Cerita malam sebelom pendadaran ada di sini.

Jadi, pas hari pendadaran itu, aku usahain datang lebih awal. Aku diuji setelah dhuhur. Setengah jam sebelomnya udah standby di kampus. Parkiran agak jauh dari lokasi pendadaran. Buku yang aku bawa banyak. Kayak iya-iya aja sempat baca. Padahal jantung udah mau keluar jalur. Selain itu, karena naik motor ke kampus, jadilah awalnya pake celana, harus ganti dulu ke rok panjang. (FYI, pas pendadaran diwajibkan pake bawahan gelap, atasan putih + almamater, ngga boleh pake kebaya atau bikini).
Sialllnya, sejam sebelomnya, salah satu dosen penguji berhalangan nguji. Omigooood, harus diganti tuh. Dan dosen penggantinya random. Muka udah kayak mau nangis aja pas itu.

Kurang 15 menit.
Aku nunggu dosen penguji di PDB (Pusat Data Bisnis). Alhamdulillah ada temen. Hap-hap yang emang setia nemenin, sama ketambahan si Tewel yang jadi mahluk penghibur. Oh iya, ada Mbak Ratih (yang jagain PDB) yang udah berbaik hati mbolehin aku nitipin barang , yang lebih mirip dagangan buku dan baju, di PDB. :p
Dug dug dug....

Akhirnya tiba saatnya, aku digiring ke ruang eksekusi.
Jantung udah kayak mode getar aja. Rrrrrrr....
Alhamdulillah, dosen penggantiku lebih sabar. Favoritku... dosen pujaan hati dah pokoknya!
Gobloknya, deg-degan ku nggak ilang-ilang. Eh, kalo ilang, berarti jantung berhenti berdetak = mati dong? :p

Singkat kata, beberapa pertanyaan mematikan ada di awal, berdebat sana sini. Tangan udah nggak bisa diem, saling meremas dan berpilin satu sama laen.

Alhamdulillah lagi, dosen yang paling mematikan di situ, dipanggil ke ruang sebelah. Katanya kekurangan penguji. Wuaaaa..., menahan diri nggak ogel-ogel di depan dua penguji lainnya.

Alhamdulillah selanjutnya, dosen pengganti yang suabarrr itu tau-tau dipanggil buat semacam acara makan-makan di ruang dosen. Beliaunya keluar setelah puas nguji. Berarti tinggal satu!

Nah, dramatisnya malah di dosen terakhir. Pertanyaannya ringan, tapi akunya jadi cengeng.
Yang biasanya suka usil, jadi nangis tersedu-sedu. Miapah coba?
Gara-garanya ditanyain pekerjaan orang tua, jadi ingat papa yang lagi sakit di rumah. Demi Tuhan, aku nggak maksud lebay. Papa emang lagi sakit lumayan parah di rumah. Malah diingetin, jebol lah bendungan aer mata.

-adegan nangis-

Dosen sampe tercengang. Aku bilang aja sekalian minta maaf. Papa sakit. Bu kos lama cari masalah, jadi disibukin pindahan daripada belajar. Teraniaya dobel-dobel lah pokoknya.
Begitu akunya slese nangis, malah ditanyain soal Madiun dan sekitarnya. Trus, dia titip salam buat mama papa, sekalian dikasitau aku lulus dengan nilai B. Wuaaa, alhamdulillah. Tuhan Maha Penyayang!

Saking emosinya, aku langsung telpon mama. Ngasi tau kalo pendadaran lulus. Papa udah pulang dari dokter, katanya udah baikan. Aku disuruh jangan mikir. Jangan mikir gimana coba? Mama mentolo takcubit, ih!
Nangis part dua mulai deh. Yang ini nangis plong, bersyukur. Semuanya baik-baik aja.
Lucunya, dua temenku yang nunggu di luar malah ngiranya aku dibantai sama dosen. Mereka ngintip dari pintu. Setelah memastikan ngga ada siapapun di dalam kecuali aku, mereka masuk.
Brak!
"Ada apa? ada apa?" tampang panik mereka unyuuuu banget. Haduh, maafin temenmu ini. Hahahaha
Mereka melongo liat aku telpon-telponan sama mama.
Dosen penguji pertama yang lewat depan kelas bahkan ikut ngintip! Aku nangis ngga karuan soalnya. Untung beliaunya cuma sekilas lihat, trus berlalu tanpa tindakan apapun. :p

Abis telpon, cepet-cepet aku jelasin kalo akunya ngga apa-apa.
Mereka langsung bilang, "Ya ampuuun, kita pikir kamu dibantai sampe nangis."
"Atau kamu ngga dilulusin."
"Nggak kok,rek. Aku lulus. Dapet B!"
Mereka malah heran. Yang ujian lebih dulu malah ngga dikasitau nilainya, malah kayak digantung gitu statusnya. Halah!
Akhirnya, sang putri dan teman-temannya kembali ke PDB dengan menjijing high heels dan tersenyum bahagiaaa.
Muehehehehe.


Nggak ada pesen moral kayak biasanya sih.
Cuma ngingetin aja, doa orang teraniaya itu mujarab. Pake banget!
Jadiii, ya jangan suka menganiaya orang. *plak :D

Rasanya pas itu kayak mau loncat ke hari berikutnya aja sebelom pembantaian, eh, pendadaran. Ternyata rasanya ngangenin. Suka ketawa sendiri kalo ingat ekspresi pas itu. Untung aja kampus sepi, bisa rusak reputasiku kalo ditonton massa. :D
Trims Tuhan, ortu yang setia doain aku sebandel apapun diriku, dosen-dosen yang baek di balik keduariusan, teman-teman yang hadir di kala duka... Kalian hebaaat... :*


Sekian dan terima kasih.

Selasa, 16 Agustus 2011

Sahabatku Guruku


Matanya memancarkan kelelahan…akumulasi beban hidup yang dengan sabar ia jalani..beban yang benar-benar beban, bukan sekedar patah hati atau hal ‘sepele’ lainnya..
Matanya memancarkan kelelahan…Semoga Allah membalasnya dengan senyuman tanpa putus… Amin!

Allah mendatangkan ia padaku, mengizinkan aku berteman dengannya dan mengisi harinya dengan tawa, yang mudah-mudahan dapat mengusir masalah-masalahnya barang sejenak.
Mengizinkan kedua telingaku berfungsi dengan baik, mendengarkan curahan hatinya..
Mengizinkan mulutku berucap, mengingatkannya ketika ia lupa..
Mengizinkan kedua kaki dan tanganku membantunya, ‘sedikit’ membantu, karena aku tau beban hidupnya jauh lebih banyak.
Mengizinkan aku dekat dengannya untuk mengisi hidupnya yang sepertinya sebatang kara.
Ia seolah membalas semua itu dengan pelajaran hidup yang berarti..
Walau beban hidup menghadang, tak menghalanginya membantu orang..
Dia selalu ‘ada’..
Membuatku malu jika aku ingin manja atau saat ingin berfoya-foya..entah berfoya-foya waktu, tenaga, ataupun materi..
Membuat hatiku serasa dipecut saat aku tidak bisa membantunya walau itu hal sepele..
Aku baik-baik saja dan dia sedang tidak baik-baik saja, tapi dia jauh lebih baik daripada aku dalam mengatasi rintangan hidup..
Semoga ini jadi bagian berarti dalam pendewasaanku.. berkaca padanya.. sahabatku, saudaraku…

Berteman Dengan Sepi


Kesepian adalah musuh bagiku…
Contohnya pindah ke tempat baru..
Susah untuk dijelaskan bagaimana rasanya..
Sendirian di sebuah ruangan berkapasitas tiga orang. Adaptasi yang harus kuhadapi sendiri. Untungnya ini sudah melalui pertimbangan yang matang.
Namanya saja pilihan, ya pasti susah buat dipilih. Ada positif dan negatifnya, tergantung dari sudut mana kita memandang suatu kejadian. Pindah ke tempat baru, pasti ada pertimbangannya. Karena ini pilihan dan masuk prioritas, jadi mau nggak mau harus ada yang dikorbankan. Contohnya rasa kesepian sekarang ini.
Mau nggak mau berteman sama sepi..
Cuma ada aku, nini, dan lepi. Lagu-lagu dream high. Paling abis ini nge-game.
Kata Ria, ‘dinikmati aja,mbak…’
Iya, ya.. kan mumpung di malang. Sepinya cuma di kos. Pagi sampe sore bisa aktivitas di luar. Masih banyak urusan, terutama revisi geje. Ah, dinikmati saja. Mumpung masih ada. Mumpung masih bisa merasakan sepi, pasti nanti bisa rame-rame kalau udah waktunya. J

Senin, 04 April 2011

Serunya nonton OVJ nang Malang



Baru posting sekarang nih, kemaren masih sibuk ngurus skripsi.. hohoho

Jadi gini ceritanya..,
Tanggal 21 Maret aku baru balik ke Malang, anak-anak langsung heboh masalah dapetin tiketnya. Ada yang bilang beli  Rp 100.000,-. Ada yang bilang harganya Rp 25.000,-.

Malah temenku udah dapet tiketnya dari temennya yang mboking 10 tiket. Udah ada CP-nya dari jauh hari. Tapi cuma seminggu doank nomernya aktif.

Dasarnya tiket gratis kali ya.. Mana artisnya Sule dkk, jadi bikin gempar Malang.

Phoe ngasih saran buat ikutan kuis di radio-radio. Ya udah, aku ikut aja ngetag foto sama bikin cerita gokil di Elfara.

Besoknya, gantian teman-teman kost yang pada heboh. Katanya ngumpulin fotocopy KTM ke dosen Teknik Tata Busana bisa dapet tiket gratis. Ngebutlah aku ke teknik.. Meskipun aku mahasiswi FE, tapi udah lumayan akrab sama teman sekelasnya Amoy dan Cupi. Jadilah KTM-ku nampang di deretan mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika. Pede.. hahaha..

Lanjuuut…, setelah nunggu beberapa abad di depan gedung, si Bapaknya datang. Langsung dikejar sama teman-teman. Walau nggak kenal, tetap pede nyodor-nyodorin map isinya fotocopyan KTM sekelas. Katanya sih ketua kelompok-ny a bakal dihubungi buat ambil tiket. UM punya jatah 3000 tiket.
Karena merasa udah dapet info ‘berharga’, jadi aku kasih taukan ke teman-teman.

Nggak tau gimana, ternyata di Graha Cakrawala juga ada pengumpulan fotocopy KTM buat dapetin tiket OVJ.. hwayuuuh.., tau-tau yang daftar udah 4000 orang. Akhirnya UM memutuskan buat ngundi sesuai proporsi jumlah mahasiswa per fakultas. Oh, harapanku tipis sudah..

Sementara itu, di depan Cakrawala banyak calo tiket. Teman-teman pada ragu nih, beli apa nggak. Kalo aku sih buat apa beli untuk tiket yang seharusnya gratis.

Besoknya,  aku sama Phoe keliling cari informasi di radio-radio. Kami menemukan peluang di Makobu dan bikin rencana jam 5 pagi ikut ngantri pembagian tiket disana. Udah njarkom ke anak-anak juga biar ikut ngantri.

Oiya, sebelumnya Phoe udah diajak temannya ke Radar Malang, ternyata juga tiketnya habis dalam waktu kurang dari 30 menit. Hoff…

Dan, besoknya lagi adalah kesempatan terakhir dapetin tiket. Tau nggak sih, jam 05.30 di depan Makobu udah panjaaaaaang antriannya. Aku sama Phoe udah di sana duluan, Chan-chan dan Aita nyusul soalnya masih nunggu angkot. Gila nih orang-orang, pada nginap di parkiran apa ya?? hahaha

Kami udah didorong sama polisi buat membentuk huruf L, ternyata luapan antrian dari sisi kiri bikin bentuk barisan kayak amoeba. Kebetulan aku nganti di sebelah sekumpulan mahasiswa yang cowok-cowoknya pada mbanyol. Ngilangin bete pas ngantri, lumayaan.. hahaha

Antrian udah hampir nutup setengah jalan Soekarno Hatta pas polisi datang, dari 1 bertambah jadi sekitar 3 orang… Mulailah aksi dorong-mendorong karena nggak sabar. Ada beberapa orang yang datang telat mau nyrobot antrian jadi depan sendiri, malah malu sendiri gara-gara disorakin mas-mas di sampingku. Ada juga beberapa orang yang udah menyerah sebelum kantor Makobu dibuka.
Setelah nunggu sejam, akhirnya pegawainya datang juga. Wah, mulai nggak sabar. Katanya sih yang dibagiin ada 200 tiket. Prediksi kami, pasti dapet deh ini. Begitu pintu dibuka, makin parah aksi dorong mendorong disana. Suasana tambah panas karena yang udah dapet tiket malah pamer, nglambai-lambaiin tiketnya bagai Putri Indonesia.. haduuh..

Nggak terasa udah makin dekat sama pintu depan Makobu, barisan dipersempit jadi 2-2. Aku udah bisa nyesek ke tengah, Phoe diusir sama polisi gara-gara nggak bisa masuk ke tengah. Dorong-dorongan nggak bisa dihindari. Mas sebelahku langsung berteriak pas kegencet. Eh, sama polisinya malah dikira nantang. Astagaaa.., polisi mau nonjok si masnya. Untung aku pake helm, keadaannya mirip demonstrasi pas itu. Tau-tau polisi di depan sendiri nongol buat ngasitau kalo tiket udah abis. Rasanya mau tepar aja. Phoe pasang muka kecewa.

Langsung kami pergi dari situ, sarapan di Taman Krida, nyusul Chan-chan dan Aita yang udah duluan ke situ. Kami memutuskan liat pengumuman di kampus dan Elfara. Aku sama Phoe ke Elfara. Wow, ternyata dia menang undian. Dan, sapa sangka, aku menang undian KTM di kampus.. Horeee…
Sayangnya teman-teman yang lain nggak bisa ikut L
Amel menang undian KTM juga, tambah Irna yang juga dapet tiket dari radio.



PAS HARI H (26 Maret 2011)
Hwiii…
Nggak sabar pas hari H. Kami berempat tambah adek kostnya Amel dapat yang siang.
Jam 10 jalanan dah pada macet gara-gara kru OVJ konvoi dulu sebelum syuting off air.
Jam 10an kami udah standby di samping gedung Cakrawala. Pintu depan buat masuk tiket VIP, samping buat pintu masuk tiket Festival. Lah, kami yang para penonton Tribun, lewat mana donk?
Dan jadilah kami ikut berpartisipasi merusak taman Cakrawala gara-gara kegejean pintu masuk. Maafkan kami, pak bon… huhuhu

Lamaaa banget ngantri masuknya, jam 2 siang baru bisa masuk. Itu pun berebutan tempat strategis di tribun. Sebelum masuk harus nunjukin tiket dan dicap pake stempel fosfor . Stempel fosfor itu bisa keliatan pake sinar khusus dan di kegelapan. Ini aja aku taunya pas ngeyel ke mas Trans Corp kalo belum dicap, padahal udah, cuma nggak keliatan aja. hihihihi

Ada 4 setting tempat plus satu tempat sinden dan pemusik di tengah-tengah. Setelah naik turun tribun akhirnya kami duduk di tribun bawah sayap kanan. Lumayan lah.. Setelah dikasi pengarahan sama mbak Trans Corp soal yel-yel, mulailah acaranya. Oiya, kami disuruh matiin hape biar nggak ganggu audio, juga dilarang makan-minum selama syuting, takutnya hasilnya nggak bagus kalo ada orang ngunyah-ngunyah selama syuting. Total ada 6 sesi. Sesi 1 dimulai dari Sule dkk masuk ke peti ala Pharaoh.. Huwiiii, sumpah keren… Dalang sama sinden pake ungu-ungu. Sesi 2 isinya cuma para sinden nyanyi dan kami semua gulung-gulung lengan trus gerakan kebyar-kebyar sambil teriak: Eeee… aaaa!!

Semakin lama kami makin putus asa, dari tadi nggak kena sorotan kamera.. Akhirnya datang juga kesempatan show up pas Kristina, sebagai bintang tamu, nyanyi Jatuh Bangun. Aku yang udah pegal-pegal karena kelamaan duduk, langsung berdiri dan mulai njoget-njoget. Teman-teman juga.. Akhirnya kamera tertarik juga nyorot kita… Masuk tipi… aaaaaa… ^^V

Selesainya sekitar jam 5 sore, suaraku abis, badanku belang di bagian lengan gara-gara kepanasan, tapi menyenangkan.., asalkan bersama teman-teman.. ;)

Meledaknya Akumulasi Perasaan

Sekarang sedang hujan..
Dan kalo ada ujan sama petir menyambar-nyambar di film, biasanya hal buruk terjadi…
Sama kayak sekarang.., bukan kejadian sih, tapi firasat…
Semacam kesalahpahaman melanda..
Secara implisit saja kuceritakan,

Kalau ada seorang yang kamu  sayangi, mau bunuh diri karena dipikirnya itu jalan terbaik, apa yang kamu lakukan?

Dan ketika kamu memperingatkan, dia terus melangkah, lalu maju-mundur di tepi jurang, apa yang kamu lakukan?

Ketika kamu memperingatkannya dengan cara halus tidak berhasil, lalu apakah kamu membiarkannya?

Bagaimanakah jika kamu bosan memperingatkan hal yang sama dan tidak ada kemajuan?

Bagaimanakah perasaanmu jika kamu memperingatkannya dengan cara yg tidak sopan –sebagai jalan terakhir- dan ternyata dia marah?

Dan ketika kamu tau dia lebih bersikap pemaaf kepada orang yang mendorongnya ke jurang daripada kamu –yang menariknya dengan kasar agar tidak jatuh- , kecewakah kamu?

Bagaimanakah perasaanmu jika  dia mempersepsikan tindakanmu sebagai pengkhianatan atas suatu hubungan? Dan selanjutnya menghembuskan persepsinya ke telinga orang lain?

Mau dibiarkan saja?

Atau mencari pembelaan orang lain?

Atau berusaha menyelamatkan diri sendiri dengan membersihkan nama baik?
Ah, entahlah… aku bingung.. kalo kamu?


Kalau  seseorang yang kamu bela ternyata dalang di balik suatu bencana, apa yang kamu lakukan?

Kalau segala pembelaan yang dilakukan justru membuatnya manja, apa yang kamu lakukan?

Pada saat kamu selalu berpikir ‘kita’, dan ada beberapa orang yang berpikir hanya ‘aku! Aku! Aku!’, kecewakah kamu?

Kalau kamu memang seorang troublemaker, namun dituduh untuk suatu hal yang kamu tidak kamu lakukan, marahkah kamu? Dan ternyata si dalang tidak mencoba membelamu lebih tegas, sakitkah kamu?

Sebenarnya siapakah yang membuat semua jadi begini?

Aku ragu, jangan-jangan kamu tidak ingin ‘kita’, tapi hanya ‘dia’..
Harus kecewakah aku?


Apa yang akan kamu lakukan?

Apa yang akan kamu lakukan?

Apa yang akan kamu lakukan?
Aku bingung, kalo kamu?


Kalo memang aku tak diperkenankan marah atau kecewa,
Pecat saja dari hubungan ini..
Saya akan merasa tidak bersalah membiarkanmu jika kita bukan apa-apa..

Sebuah akumulasi perasaan yang telah meledak ...

Kamis, 24 Maret 2011

Ngemper

Ngemper = nongkrong = cangkrukan = kumpul-kumpul


gambarnya terlalu kyut buat me and the genk..wakakaka


Dulu (semester setengah tua), aku dan teman-teman kampus suka sekali ngemper di teras gedung kampus. Kami punya dua tujuan : refreshing dan mengerjakan tugas. Mungkin dosen-dosen yang kebetulan melihat kami, beranggapan bahwa kami hanya buang-buang waktu.
Kenapa nggak langsung pulang dan mengerjakan tugas?

Sebagai catatan:
Kami adalah mahasiswa akuntansi -yang dulu saya pikir isinya hanya menghitung dan ternyata tidak hanya itu!- yang dengan jadwal 2-3 mata kuliah sehari (belum tambahannya), 5 hari seminggu, dimana (kelihatannya) para dosen memberi tugas (seolah-olah) hanya itu satu-satunya pekerjaan kami di dunia ini.
Lebay?? kadang! itupun karena stress... :p

-kembali ke topik utama-
Justru dengan berkumpul itu kami bisa mengerjakan tugas sekaligus belajar. Mungkin membutuhkan waktu yang lama karena kami selalu membuat 'plesetan' bahasa akuntansi dan lelucon gokil lainnya. Kalo ada orang yang kebetulan lewat, mungkin dia akan ngerasa sensasi petasan di kuping. Hahahahaaa...

Kami menyiapkan presentasi dengan selingan (biasanya aku) berpura-pura jadi dosen, 'kesurupan' mendadar teman-teman, lengkap dengan senyuman sadis... :D

Oiya, jangan lupa camilan yang selalu tersedia buat isi tenaga (untuk apa coba?? ya buat ketawa donk).. Hahahahaa...

Salah satu teman yang menurutku punya banyak kenalan selalu disapa orang yang lewat di depan kami setiap 5 menit sekali. Dan aku berteriak "klonthang!" (suara uang logam dilempar ke dalam kaleng-- biasanya untuk pengemis).., lalu kami tertawa terbahak-bahak. Kadang sampai menangis karena terlalu menjiwai lelucon... :D

Kalo hujan turun, semua akan berdempetan, menyesak ke tengah. Kadang ditambahi mas-mas ngrokok yang numpang berteduh. Lalu kami akan beruhuk-uhuk ria dan mengeluarkan tisu untuk filter lubang hidung. Bisikku: "mas, aku nggak mau mati muda..., kan belum diwisuda.." dan spontan langsung disambut derai tawa teman-teman... :D

Kenapa aku nulis ini?
Karena pas aku diem sendiri ngesot di lantai nungguin teman-teman selesai kuliah, aku liat para yunior ngemper membentuk lingkaran amoeba 100 meter di sampingku. Ngoceh, ketawa- ketiwi, makan jajan sambil ndengerin musik.
Itulah 'masa muda'ku.
..dan aku merindukannya..
momen-momen itu bersama teman-temanku yang sekarang sedang berada di dalam kelas. :')

Sabtu, 05 Maret 2011

Aku Didadar

(ditulis pada tgl 3 Maret 2011)



Aku ketakutan malam ini...
besok, Jumat, 4 Maret 2011, jam 13.00, aku akan didadar.
Pendadaran khas akuntansi fakultasku tercinta berarti kamu akan ditanyai mengenai materi kuliah yang kamu dapat selama 3,5 tahun..
... secara lisan...
... di depan tiga dosen....
... sendirian...
ini bahkan lebih menakutkan daripada presentasi SIA pertama kali..
Bisa dianggap sebagai simulasi wawancara kerja
,"cuma" bedanya,
kamu butuh mengingat dan memahami buku-buku tebal sebanyak tiga kerdus besar..
..ditambah suasana tegang dan sensasi nge-blank..
membuat hidup sehari sebelumnya menjadi tak tenang...
dan ketakutan...
Yap, aku takut dengan kegagalan..
Lebih takut lagi mengecewakan kedua orang tuaku..
yang suaranya aku dengar lima menit sebelum menulis ini..
yang berusaha menenangkan putrinya yang panik
dan cuma bisa menangis..
"Mama, kalau adek gagal gimana?"
"Nggak papa... nanti diulang.., yang penting sekarang usaha sama doa."
Terima kasih.. terima kasih.. terima kasih...
Sebagian beban terangkat, diganti dengan ketabahan.