Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Mahasiswi Akuntansi Part 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Mahasiswi Akuntansi Part 2. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 September 2017

Catatan Gadis Penyusup (2)

Lebih dari empat belas purnama..
Di sebuah lorong bermandikan cahaya.
Bingkai hitam yang menatap lurus ke depan,
apakah yang engkau pikirkan?
Langkah tegas tak berpaling.
Tak diacuhkannya si kerudung pink.
Tergambar suatu rancangan dan gadis pujaan,
Satu dari keduanya mungkin di dalam renungan.

Selasa, 14 Februari 2017

Komedi Anak Akuntansi

"Lho katamu aku disuruh tunggu di gedung F, malah kamunya udah di gedung G. Aku udah di sini, kamu suruh tunggu di sana? Gimana sih?"kataku.

"Lho aku nggak maksud gitu. Kecepatanmu untuk datang lebih daripada permintaanku untuk nunggu. Jadi ya udah, kita ketemu di sini." justifikasinya.

"Oke, stop! Kamu tau siapa yang salah di sini?" balasku.

"Siapa?" tantangnya.

"Gaya gravitasi! Gravitasi hatimu membuat aku cepat ketarik ke sini. Ke ruangan ini."

EAAAAAA..

sementara ituu.., adik-adik di ruangan itu yang mendengarkan celotehku dan sahabatku (cewek) langsung nyeletuk,"Aku pusing dengerin mbak berdua ini."

Bwahahahaha

-----------------------

Berfikir jauh ke depan itu penting, tapi menikmati ke-disini-an dan ke-sekarang-an itu lebih penting. Transkrip percakapan ini ditulis saat aku berpikir apakah derai tawaku tadi adalah yang terakhir di kota ini, bersama sahabatku?

Sebuah cerita dari bunga dan pohon di taman yang sama.
Terima kasih telah berjuang bersamaku, AIK.

------------------------

Peringatan:
Jangan pernah berharap wajah kami serius, karena hahaha.., ekspektasimu mungkin jauh lebih tinggi daripada kenyataan, tentang anak pascasarjana, bu ibu dosen, filsuf, atau apalah sebutannya. :D

Senin, 13 Februari 2017

Kehilangan Makna

Saat hujan,
dalam perjalanan pulang..
Aku baru menyadari jalanan lebih lengang, padahal di jam yang sama, sama-sama hari kerja.
Yang membedakan hari ini dengan hari-hari itu adalah.. hujan.
Lalu aku terbahak, apalah gunanya mobil, kendaraan beratap..jika dibandingkan dengan sepeda motorku. Apalah gunanya jas hujan.. Apalah gunanya payung..
Kenapa hujan begitu menakutkan?
Dengan kata lain, mobil kehilangan fungsinya untuk melindungi pengendara dan barang-barang di dalamnya dari cuaca.
Jas hujan dan payung juga kehilangan fungsinya untuk jadi alat bantu menembus hujan, hanya karena orang-orang takut basah.
Takut basah. Takut keluar. Terlalu banyak ketakutan yang menghalangi kita bersenang-senang.
Waktu untuk pulang dan hujan tak terlalu deras, mau takut apa lagi? Takut baju basah dan make up luntur? Buat apa? Rumah adalah tempat yang hangat yang menerima kita apa adanya. Mau sampai ke rumah dengan acak-acakan, pintu itu akan selalu terbuka. Jika ada orang yang kusayangi menunggu di rumah, buat apa menunda pulang? tidakkah kau khawatir bahwa ia (mereka) di rumah mencemaskanmu? Sepadankah dengan hujan yang tak terlalu deras?
Ah, sudahlah. Belum tentu mereka yang berkendara lebih elit padaku bertujuan pulang. Bisa jadi mau belanja, jalan-jalan, tak punya tujuan, atau tak punya rumah yang hangat. Jangan-jangan pandanganku yang terlalu normatif. Yang seharusnya. Lho, tetapi kan aku melakukannya.

Lebih kasihan lagi jas hujan dan payung. Dibeli tapi belum tentu dipakai. Dicari tapi kehilangan makna intinya.

terpekik kegirangan saat melintasi genangan,
penutup dalam bab perjuangan kali ini,

Cahaya.

Interpretif Kecil Kecilan

Tahun lalu, saat aku penelitian.. dan menyebar kuesioner.. salah satu responden menolakku dengan kata-kata yang menurutku menyakitkan karena ia tidak paham. Katanya,”Anak UB itu kok banyak ke tempat saya. Coba ke lain saja.”
Wanita ini  adalah salah satu pengusaha di sebuah kampung di Malang dan tempat usahanya bisa dibilang lumayan besar apabila dibandingkan tetangganya. Harapanku kala itu besar sekali untuk mendapatkan responnya. Penolakan adalah hal biasa, asalkan dilakukan dengan halus. Toh saya tidak maksa. Kata sahabat saya, “Tidak hanya memberi, menerima juga harus ikhlas.” Yang dimaksud adalah mau diterima maupun ditolak, kita harus terima, tidak boleh memaksa juga. Nah, dalam kasusku, aku dengan kemampuan “kemana-mana”ku, menangkap segala pernyataan sombong di semua jawaban yang dilontarkan wanita pengusaha itu saat aku menjelaskan dengan sopan. Kalau (boleh) saya intisarikan, dia ingin pengusaha lainnya di kampung itu juga didatangi untuk objek penelitian. Aku tidak menganalisa tanpa bukti.
Pertama, dua hari berturut-turut aku ke tempat usaha itu dan berkeliaran di kampung itu, aku sama sekali tidak menemui mahasiswa yang lain, baik yang se-almamater, maupun beda kampus. Tau kan ya, mahasiswa yang lagi penelitian, wajib memakai identitas kampus: jas atau jaket almamater. Banyak peneliti ke tempatnya? Yakin nih?
Kedua, pengusaha lain juga sering dijadikan responden, tidak hanya wanita ini. Pengusaha lain yang dengan tangan terbuka menerima kedatanganku bahkan tidak pernah menyombongkan “berapa kali dia didatangi mahasiswa”, tidak sedikitpun keberatan di dalam kata maupun bahasa tubuh. Bukti di dalam bukti kedua ini aku dapatkan secara tidak sengaja. Saat aku sudah lulus dan bertemu rekan se-objek penelitian, ternyata memang pengusaha lain yang baik hati ini adalah salah satu dari dua orang di kampung tersebut yang bersedia menerima peneliti macam aku, temanku, kami para mahasiswa yang benar-benar penat di-ping-pong birokrasi penelitian.
Hal yang paling mengecewakanku adalah wanita itu menyebut Tuhan dalam status whatsappnya, berfoto di Tanah Suci, namun kata-katanya seolah tak berTuhan.

Mengapa hal lama ini kuungkit lagi?
Bagi seorang melankolis, luka di masa lalu tak sepenuhnya bisa sembuh. Pengungkitnya bisa hal serupa. Hari ini kualami hal serupa dengan tema pendidikan.
Singkat cerita, saat mengurus administrasi, aku menerima calon kuitansi yang salah ketik. Kusebut calon kuitansi, karena belum kutandatangani dan masih di tangan si mbak admin. Ternyata salah ketik itu disebabkan salah paham dia mengenai jumlah SPP yang kubayarkan. Ya, kuingatkan saja soal temuanku.
“Lho mbak ini kok ngerti sih. Padahal kan kuitansinya belum dikasikan,”katanya.
Maksudku aku menghaluskan istilah kepo sekaligus bercanda. “Haha, iya nih kan dari akuntansi. Mungkin pas jiwa auditnya lagi kumat,”kataku nyengir.
“Aku aja kuliah ga dapat apa-apa,”tanggapannya. Nada pedih. Aku turut berduka untuk pernyataannya.
Setelah kutandatangani kuitansi dan menghitung ulang uangnya, kupastikan lagi,”Sudah mbak. Ga ada tanda terima atau apa gitu yang kubawa kan ya?” Mengingat salah satu Surat Keterangan Lulus-ku dibawa olehnya.
“Kan tadi udah tanda tangan kuitansi. Ya udah..Beres.. Di akuntansi diajarin kan?” katanya sinis.
Kecewaku tidak berhenti hanya dari ucapan kasarnya. Kalau kusintesiskan, dia membully dirinya sendiri karena tidak dapat apa-apa semasa kuliah (akuntansi), lalu jengkel dengan orang yang dia kira dapat ilmu lebih darinya saat kuliah, yaitu aku. Selain itu, sebelum melayaniku, kudengar dia mengakui keteledoran yang ia buat terhadap temannya dan menyebut kata “Ya Allah.” Dia berhijab, bahkan lebih menutupi aurat daripada aku jika dilihat dari lebar hijabnya. Tapi apa yang ia perbuat padaku, TUHANNYA DIKEMANAIN,MBAK?? minimal juga kalo ga paham akuntansi, mulutnya harusnya ikut kuliah, tau sopan santun. Aku percaya wanita berkelas tak selalu dari make up atau parfum mahal, atau tak bisa dijustifikasi juga melalui hijabnya, tapi penghadiran Tuhan di kelakuannya.

Refleksinya..
(1) Orang yang sedang "sakit" memiliki kecenderungan menyakiti orang lain, entah lewat apapun itu.. ucapannya, perilakunya, bahkan di jaman terelektronisasi, penyakit itu bisa disebarkan lewat dunia maya. Sejatinya, dia bermasalah dengan dirinya sendiri.
(2) Ya, aku marah. Marah itu kulampiaskan lewat tulisan ini. Balas dendamku berupa pengikisan biji sawi yang tumbuh berupa sifat sombong di hatiku, dengan berkaca betapa tidak elegannya orang “sok” itu. Jika memang sedang bermasalah dengan diri sendiri, hendaknya diam, bukan menyeret yang lainnya ke neraka yang penuh jiwa-jiwa ga tenang dan galau.. Sebelum berbicara, pikiranku harus lebih panjang dari gelarku.. Setelah menyakiti orang lain, kamu mungkin bisa minta maaf, tapi bekas lukanya belum tentu bisa hilang.
(3) Manusia berTuhan tidak akan merusak hubunganNya dengan Penciptanya dan sesama ciptaanNya. Agama bukan hanya simbol. Substansi dan bentuk harus saling berlomba mengungguli. Substansimu. Bentukmu. Untuk menghadirkan Tuhanmu. Hijabmu. Akhlakmu. Untuk mendekat pada Allah.
(4) Anak melankolis harus sering istighfar, latihan putus hubungan emosional sesingkat mungkin. Anak melankolis yang masih lajang tidak mungkin bersama dengan mahluk berperilaku celometan dan kasar. Anak melankolis yang masih lajang dan suka mikir kemana-mana, tidak cocok dengan orang berpikiran kaku, sempit, dan ke”aku”an tinggi. Kalau belum tau, setidaknya ada sistem eliminasi. Lho kan, sistem lagi. wkwkwk, ini sih refleksi yang jauh ke depan banget. :D

Salah benarnya anggapanku, biar Tuhan yang menegurku. Mari belajar jadi versi terbaik. :)

Jumat, 15 Juli 2016

Mengalahkan Kecerdasan Seorang Wanita

Entah kenapa obrolan sore bersama seorang kawan membuat jariku ingin mengelus laptop. WIDAAA, KAMU KUSEBUT LHOO.. *lalu aku dilindes motornya agar bungkam* wkwkwkwk

Riset menyatakan kecerdasan anak diturunkan sekitar 75% dari ibunya dan 25% dari ayahnya. Mendengar hasil riset, harusnya pria lajang berlomba-lomba mencari wanita single cerdas.
Tapi nyatanya wanita cerdas disegani, bahkan ditakuti. Apalagi yang gelarnya sepanjang coki-coki, sekolahnya setinggi langit di angkasa. Meskipun tak bertitel bukan berarti tak cerdas. Mamaku contohnya, gadis lulusan SMA yang mengabdikan dirinya untuk keluarga. Kan nggak mungkin kakakku, si juara bertahan dari SD sampai kuliah, mengambil DNA tetangga atau ibu-ibu yang numpang lewat depan rumah. Jadinya ntar FTV Anakku Bukan Anakmu. Eh? wkwkwk

Aku sering kok diganggu, sampai dibully kaum adam, karena dia merasa "senior". Biasanya setelah tau aku anak pasca, dia bungkam. MAS, NGGAK TAU AKU ANAK SIAPA HAH??? uwuwuwuw.
Padahal kan niatku jujur. Aku anaknya ga sombong kok, serta suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Eh, malah sononya yang kayak ganti kebully. wkwkwk.

Selain perkara gengsi, ada juga pria yang segan ngibulin wanita cerdas. Lho, cari partner sehidup semetong, apa nyari "calon korban penipuan" sih? mwahaha.
Aku jadi ingat kajian pranikah beberapa minggu lalu. Garis besarnya adalah kita perlu menentukan tujuan kita dalam mencari pasangan, apakah mencari yang cocok dengan diri kita.., atau mencari seseorang yang dapat menjadi ayah (ibu) anak-anak kita kelak.
Maksudnya, kita diajak menjadi visioner. Kita membayangkan versi yunior dari seseorang -yang jadi target kita- dengan segala sifatnya yang melekat di dirinya. Sifat anak kan pasti didapatkan dari orang tua. Nah, bayangin mbesok anak kita kayak apa kalo sifat orang tersebut menurun. Kupikir, ini juga perkara kecerdasan.
Bedanya dimana? Ya kalau para pria mementingkan gengsi ya harus cari yang wanita yang level kecerdasan di bawahnya. Kan biar cocok sama maunya.
Kalau pria tersebut mampu berpikir visioner, ya pasti cari wanita yang -kalo bisa- lebih cerdas daripada dia. Untuk Indonesia yang lebih cerdas, mas~ uwuwuwuw~


Terus, menyoroti perkara gengsi.. Pria takut kalah debat? Itu mau lomba apa nikah sih? hahaha.
Takut dikudeta? Buset dah, kecerdasan ada 3 lho. Intelektual, emosional, spiritual. Seseorang dengan kecerdasan emosional dan spiritual tinggi tak mungkin menyakiti orang lain memakai intelektualnya.
Takut ga bisa naklukin? Setiap wanita punya perasaan yang bisa kamu kuasai dulu, sebelum menundukkan dia, secerdas atau sehebat apapun ia. Eaaa..


Dari tempat legalisir ijazah dengan cinta,

anak manis

Minggu, 03 Juli 2016

Nge-DOTS Dulu Yuk~

NgeDOTS? Mentang-mentang lagi jadi aunty penuh waktu, kamu bawa-bawa istilah bayi, Laa??

Hehe.. Bukan. DOTS yang kumaksudkan adalah judul drama Korea ngehits tahun 2015: Descendants of the Sun. Harap maklum, saking sibuknya hamba, seluruh episode baru selesai ditonton pada 2016. Meskipun begitu, postingan ini bukan untuk ngeri, eh, ngereview jalan ceritanya.

Ada satu adegan yang bikin aku terkesan dan menyadari sesuatu.
Yang mana hayoo?
Bukan yang berdua-duaan, bukan juga yang waktu tembak-tembakan.
Tapiii.., pas mbak dokter Korea nolong si mas mafia Amerika.

Saat itu mbak dokter dihadapkan pada pilihan membiarkan musuh meninggal karena menurutnya membiarkannya meninggal akan menyelamatkan banyak nyawa yang lainnya.., atau menolongnya atas dasar rasa kemanusiaan. Di saat dia bambang, eh bimbang.. mas tentara sang gebetan mengingatkan kalo si mbak dokter harus menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, dokter ya menyelamatkan nyawa tak peduli siapapun itu. Tanpa mas tentara ngomong pun, hal tersebut sudah ada di sumpah profesi.

Oke, masuk ke pemahaman kemana-mana ala aku..
Dokter punya sumpah sebagai berikut:

SAYA BERSUMPAH BAHWA :
  • Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan.
  • Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.
  • Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
  • Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan dan keilmuan saya sebagai dokter.
  • Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien.
  • Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial, dalam menunaikan kewajiban saya terhadap penderita.
  • Saya akan memberikan kepada Guru-Guru saya, Penghormatan dan Pernyataan Terima Kasih yang selayaknya.
  • Saya akan memperlakukan Teman Sejawat saya sebagai saudara kandung.
  • Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
  • Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan Hukum Perikemanusiaan, sekalipun saya diancam.
  • Saya ikrarkan Sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Pertanyaanku adalah, apakah kita perlu menunggu mencapai posisi tertentu atau diakui memiliki profesi tertentu, baru bersumpah yang baik-baik?
Bagaimana dengan "profesi" kita sebagai manusia? Menurutku itu profesi inti yang dipikul setiap orang, begitu ia lahir di dunia. Sering dari kita merasa bukan siapa-siapa padahal sudah jelas kalau kita punya jabatan otomatis sebagai manusia, Lucunya, orang mencari kesana kemari untuk sebuah pengakuan, dan pada akhirnya merasa segalanya pada saat seharusnya ia makin merasa bukan siapa-siapa. Bertolak belakang dengan ilmu padi, kan? :)
Adegan dari drama Korea itu membuka satu kesadaran terdalamku (saat ini). Bahwa kita seharusnya tak perlu menunggu jadi siapapun atau apapun itu untuk berbuat kebaikan. Pasti ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk dunia. Mau contoh?

Dari sumpah
  • Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan dan keilmuan saya sebagai dokter.
kita sebagai manusia yang bukan dokter juga dapat melakukannya dengan cara simpel: menjaga rahasia orang lain, menjauhi pergunjingan dan menjaga martabat orang lain, siapapun itu, tanpa memperdulikan ada tidaknya kepentingan.

Dari sumpah
  • Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial, dalam menunaikan kewajiban saya terhadap penderita.
kita sebagai manusia yang bukan dokter juga dapat melakukannya dengan cara: membantu siapapun itu untuk bertujuan meringankan bebannya, bukan karena pencitraan, ingin imbalan, atau karena ia "cocok" atau hutang budi.

Pemahaman lebih jauh dariku adalah aku sebagai manusia sudah diberi kelebihan tertentu oleh Tuhan. Tuhan percaya padaku, bahwa menitipkan segala kemampuan itu untuk digunakan dalam kebaikan. Aku tidak mau mengkhianati kepercayaanNya, titipanNya yang tak kubawa ke alam kubur ini, jadi ya dimanfaatkan untuk pengabdian kepada sesama ciptaanNya.
Kesimpulannya, MENGABDI TAK HARUS PUNYA GELAR PROFESI [dari manusia], kan? :)







Senin, 20 Juni 2016

Mengalah Bukan Berarti Kalah

Hari ini...
saat aku lelah mencari responden penelitianku,
aku duduk di deretan kursi belakang. Sepi, tapi cukup strategis untuk mengamati segala sesuatunya dalam diam.
Di deretan sebelah, tiba-tiba seorang ibu menyapaku.
Batinku, "Wah cerita apalagi kali ini?"
Aku sudah terbiasa mendengar keluhan sampai sesumbar akhir-akhir ini, pertanda telingaku bukan sekedar tempat melekatnya earphone atau bergelayutnya si anting.
Aku sudah terbiasa pula diwawancarai. Ya, peneliti yang dikepoin sama respondennya. Metode penelitian, justifikasi sembarang kalir yang pernah kupresentasikan kala ujian proposal itu kuulang lagi di depan orang asing. Status pendidikan sampai nasihat pra nikah juga tak luput jadi bahasan. Hahaha..

Kali ini, ibu yang menyapaku mulai menduga aku berasal dari Direktorat Jenderal Pajak. Aku tersenyum, menggeleng. Aku biasanya sungkan menyebut kepascasarjanaanku, jadi kubilang saja nama universitasku dan prodi umum: akuntansi. Aku ditanya semester berapa, kukatakan saja empat. Kalau ibu itu jeli, tentunya sudah menduga ada yang aneh.. Hehe.. Tapi ternyata tidak!

Mata ibu itu berkaca-kaca. Dia menceritakan putrinya yang tidak kunjung diterima di universitas negeri sebagai mahasiswi.

Aku tanyakan mengapa tidak kuliah di universitas swasta. Sang anak hanya ingin masuk di sekolah negeri.

Aku tanyakan mengapa tidak ambil jalur mandiri di universitas negeri. Sang anak tidak ingin memberatkan orang tuanya. Katanya, lebih baik bekerja daripada harus membebani orang tuanya yang buruh tani. Bendungan air mata si ibu sudah hampir jebol. Kata-kata "buruh tani" diucapkan dengan terisak.

PLAK!

Aku ditampar.
Aku sudah mencicipi hampir 4 tahun kuliah strata satu, lalu hampir 2 tahun di strata dua. Sebesar apapun rintangan yang kuhadapi selama kuliah dan penelitian, aku tak pantas mengeluh. Masih banyak yang kurang beruntung tak bisa merasakan tantangan yang kadang kukeluhkan.
Mereka ingin tapi tak bisa.
Aku bisa tapi masih ada aja yang diomelkan.
Hey, tantangan itu nikmat ternyata!

Ketika kembali dari lamunanku, aku segera berkata, "Bu, kenapa putrinya tidak berwirausaha saja? Tidak mampu duduk di bangku kuliah belum tentu tidak mampu menciptakan pekerjaan sendiri, kan?"

Si ibu mengangguk setuju. Di saat yang bersamaan, temannya datang dan mengajak si ibu pulang. Aku disalaminya dengan wajah sedikit lega.
Gantian aku yang agak nggak lega. Kepikiran sampai kutuliskan di sini. Bagiku, curhatan ibu itu adalah cara Tuhan mengingatkanku tentang mata kuliah "bersyukur", "berjuang", dan "mengalah".

Mengalah?
Ya, mengalah untuk orang yang kita sayangi bukan berarti kita kalah. Justru itu adalah kemenangan melawan ego dan kebodohan emosional. :)



Dari tempat penelitian dengan cinta,

anak manis

Sabtu, 30 April 2016

Teman Paling Bahagia di Dunia Persilatan

Haloo..
Aku sempat-sempatin nih nulis.. Akhir pekan, cuaca ga jelas, macetnya Malang di malam minggu juga sangat tidak efektif untuk dibuat berpetualang, mau ngerjain tesis juga masih setengah nyambung.. Hayati lelah, bangg~ wkwkwk

Jadi begini ceritanya..
Barusan menyapa teman-teman di grup untuk sebuah pengumuman, ketika aku menyadari aku kok yang paling cerewet di antara mereka. Kalau ada apa-apa, sangat ekspresif, minta dikelarin saat itu juga, tudepoin, simpel, nyeplosnya terlalu jujur. Masalah ya harus dicari solusinya. Sesuatu yang mengandung ambiguitas harus di[re]definisikan saat itu juga. Selama keyakinanku tidak penuh atas sesuatu dan merasa resiko yang signifikan, maka penilaianku atasnya adalah "sesuatu yang tidak wajar". #eaaa #ilmuauditnyakeluar

Akibatnya...
Aku butuh kuping duapuluhempat jam.
Papa udah pernah menasehatiku bahwa curhat paling sipp itu sama Tuhan. Perbanyak doa.
Tapi yagimana yaa.. namanya juga cewek. Logikanya cuma seberapa sih.. Perasaan paling banyak dipake. Itu keadaan normal lho, belum pas datang bulan. Bisa-bisa, kamu cuma salah bilang antara "kamu gemukan yah" sama "kamu segeran yah" udah beda nasib antara didorong ke sumur tetangga atau dapat senyuman manis. Para pria, camkan! :D
Mahluk-mahluk berwujud bernama teman itu adalah cara Tuhan untuk menitipkan solusi dan menjadi tempat berbagi. Kan manusia udah dikasi gelar kehormatan sebagai mahluk sosial.

Lalu implikasinya...
Aku butuh teman-teman yang selalu ada.
Agak berlebihan ya, emangnya temanku sebangsa Indomaret atau Alfamart yang buka 24 jam? wkwkwk
Maksudku adalah aku merasa jadi teman paling bahagia saat mahluk-mahluk itu...
...tak menaruh iri saat aku berbagi berita bahagia,
...menyeretku saat aku bilang aku tak sanggup,
...berdebat dengan elegan untuk sesuatu yang memerlukan jawaban dari sintesis pemikiran rame-rame,
...mendengarkan segala raunganku tanpa mengajak saingan derita,
Jadi, jangan heran kalo diriku nggupuhi jaya di sisimu ya, pemirsa.. wkwkwk

Aku tidak khawatir berada di tempat yang salah. Orang-orang dengan sifat dominan sama akan mendekat dan berkumpul. Orang yang penuh cinta akan berkumpul dengan yang penuh cinta (bukan yang menye-menye ala estehduagelas ya, tapi bagaimana menjadi rahmat untuk semesta ;D).
Saat menemukan dan berinteraksi secara langsung dengan mahluk-mahluk semacam itu, aku [mungkin] jadi teman mereka yang paling bahagia. Ga tau juga sih perasaan mereka sama-sama bahagia apa nggak, gara-gara sering kujahili, minimal kuketawai. wkwkwk

Teman paling bahagia, udah.
Teman hidup kapan, Laa?
#makjleb #ribuanbamburuncingmengoyakhatiku

heuheu..
Ah, sudahlah.. anak manis pamit dulu ya, pemirsah~ tangann~

Senin, 22 Februari 2016

Akyu Ngefans Kamyu~

Tulisan ini berangkat dari ngelamun part sekianku, yang otomatis mengalir. Semoga tidak bingung, wahai para pengintip anak manis.. haha

Aku memotret beberapa kejadian di keseharian.

Ada orang yang mungkin aslinya baik-baik saja atau baru “coba-coba” sesat dikit menjadi sesat dengan penuh totalitas HANYA karena dia ngefans atau bergaul dengan seseorang yang prinsip hidupnya begitu juga. Dari yang sifat yang semacam rakus, tamak (HAH, LEMAK?? *ditabok* *LOL*), sampai pada penyimpangan seksual. Padahal masih ada cewek kece single, kok cintanya sama sesama cowok sih? EHEM~

Ada fans artis tertentu yang rela bela mati-matian idolanya, padahal sama orang tuanya belom tentu berbakti segitunya. Artisnya baru dikritik dikit, mungkin dia rela ngontak Korea Utara. LOL.

Ada individu yang nggak mau menikah kalo bukan sama gebetannya yang itu. Diiyain aja biar cepet, dia cuma butuh jatuh cinta lagi. Kalo jodohnya bukan sama yang itu, yakali mau bertengkar sama Sang Sutradara? Hihi..

Ada ABG yang rela nodong orang tuanya dan ngancam-ngancam mau terjun ke parit tetangga, kalo nggak dibolehin nonton konser artis luar negeri. Padahal kan surga ga ada di telapak kaki artis. Mwahaha.

Ada beberapa orang yang cinta “buta”. Buta, karena cuma lihat apa yang dicitrakan seseorang di media sosial, cuma denger suaranya sesekali, cuma lihat senyumnya sekilas, cuma lihat postingan di blognya. EH, BENTAR.. *dadah-dadah ala Putri Indonesia*

Khusus yang ini, aku termasuk orang yang mudah jatuh cinta sama pola pikir, kelakuan seseorang. Padahal sejak kecil aku nggak gampang ngefans (backsound: KAMU PIKIR SEMUA INI MUDAH BUAT AKUH, BANGG??? *okay* *LOL*), meskipun lingkungan, eh, teman-teman sebayaku njerit-njerit kayak kejepit pintu pas lihat artisnya di majalah atau TV. Meskipun orang itu pejabat, kaya, kenal sama presiden, pernah gendong kucingnya Tarzan, kalo ngelap ingus pakek seratusribuan, suka tebar-tebar cek kosong di jalan depan rumah, hidungnya mancung kayak menara Eiffel, TRUS MEMANGNYA KENAPA? Nggak cocok ya nggak cocok aja. Agar memastikan ngefans sama mahluk yang tepat, biasanya aku mengamati atau sekalian nguji***. Lho kok gitu? Tuh lihat bio, kan bidadari jahil. *cengengesan* Aku percaya sama orang-orang yang pada saat sesuatu-yang-nggak-banget terjadi, dia (beliau) konsisten sama citra yang ia (beliau) tampilkan sebelum ada apa-apa. Menurutku, pencitraan itu bisa dibikin atau kitanya yang salah interpretasi saking sukanya. Kedewasaan dan keimanan seseorang sangat diuji saat titik terendah dalam hidup. Kan, tua belum tentu dewasa. Yakali calon mahasiswa aja yang bisa diuji saringan masuk. J

JADI LAA, SELAMA INIHH... :))

Ya gitu deh. Segala sesuatu di dunia ini nggak ada yang abadi. Kecuali dia berhasil membawamu maju. Maju kemana? Maju mudur cantik? wkwkwk. Maju urusan dunia akhirat dong, kak. J

Cintai seseorang secukupnya saja.. Tanpa cinta, hidup nggak sedap. Tapi kebanyakan penyedap rasa, juga nggak enak kan?
Aih, sedhappp~

***tidak termasuk Rasulullah SAW, bagi yang mengimaninya. J

Jumat, 12 Februari 2016

Siapakah Juaranya?

"You got a fast car
I want a ticket to anywhere
Maybe we make a deal
Maybe together we can get somewhere
Any place is better
Starting from zero got nothing to lose
Maybe we'll make something
Me myself I got nothing to prove"
(Tobtok feat River - Fast Car)


Suatu waktu, dalam sebuah perjalanan panjang -halah-.. aku dengerin anak kecil yang duduk di belakangku berceloteh ke ibunya..
"Bu, ibu.. ada bus, bu.."
Ibunya mengiyakan saja.
"Ibu tau ndak siapa yang menang? Ya bus yang sampai duluan ke terminal!" katanya bersemangat.

Nggak tau kenapa, aku menolak pernyataan anak itu. Buktinya, sampai sekarang aku ingat detil perkataan anak itu. Biasanya mah pelupa. :p


Eh, bentar.. aku bahas apa tadi?
Oh ya, kata- katanya anak kecil.
Hehehe..

Aku nggak setuju kalo bus yang menang adalah bus yang duluan sampai terminal. Kalo itu yang jadi patokan pemenang, pasti semua sopir ugal-ugalan. Kan, yang duluan yang sampai terminal yang juwarak!
Menurutku, yang menang ya yang bus yang woles tapi tepat waktu, yang nggak ugal-ugalan tapi juga nggak jalan kayak siput, yang nggak bikin penumpangnya mual gara-gara nikung ala Fast & Furious, yang nggak suka ngerem mendadak kayak detak jantung kalo mendadak ketemu sama gebetan. KOK SALAH FOKUS YA INI?? okay. maap.

Pokoknya intinya, yang terburu-buru, yang paling cepat, belum tentu jadi juara.

YA MEMANGNYA PENTING MBAHAS ITU, LA?

Ya coba dimetaforakan gitu.. Misalnya, yang belum ketemu jodohnya, yang belum selesai tesisnya.. padahal di sekitar udah pada berkomitmen, udah pada ujian komisi, ujian proposal..

Semua pasti menemui akhir dari pencarian. Tapi tidak semuanya menikmati perjalanannya. Nemuin jodoh, jodohnya ya [inshaallah] satu untuk selamanya. Bikin penelitian atau ujian akhir untuk satu judul, satu jurusan ya [inshallah] sekali seumur hidup. Masa iya, stress tiap hari pas berproses? :)

Lagian, membandingkan diri sendiri sama orang lain itu nggak ada abisnya. Menurutku, musuh terbesar ya diriku sendiri. Mau mbanding-mbandingin, mau ngetawain kesalahan, ya pantesnya ke diri sendiri yang kemaren. Jadi, kita tau diri kita yang sekarang lebih elegan -UHUK- bukan dari siapapun, melainkan dari si penggalao yang kemaren nangis cuma dari hal-hal sepele [sepele kalo dilihat dari sudut pandang kita yang sekarang].


Terus, kalo ga cepet-cepet ntar kan nggak bisa menjalani perjuangan yang selanjutnya?

Perjuangan? Yakin itu perjuangan? Bukan siksaan, tuntutan, atau permintaan orang lain? Yakin itu maumu? *jawil dagu* :D
Kalo cepet-cepet itu adalah sebuah seni atau sejenis refreshing dalam hidupmu ya monggo, silahkan terburu-buru dengan senang hati. Kesadaran dan kemampuan masing-masing orang berbeda. Percayalah, mereka yang melakukan sesuatu yang mereka cintai tidak akan merasa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, atau aslinya berproses sangat amat lama tapi kerasa cepat karena bahagia. Beda sama orang yang terburu-buru menyelesaikan sesuatu karena tidak betah, jatohnya malah kerasa lama, stress, insomnia, rambut rontok, borong cemilan, sesenggukan di pojokan lemari... Hehehe..

Yawes. Segitu aja. Dari tadi bacanya jurnal psikologi, mikirnya malah ke sini.. mwahaha..


(anak manis yang suka gagal fokus)
mumumu~

Kamis, 12 November 2015

Tulisan Gadis Penyusup: Deskonstruksi Makna Profit

PROFIT

oleh:
Elana Era Yusdita


"ini tugasku saat sit in di kelas Kapita Selekta beberapa minggu yang lalu. Simpel saja, berdzikirlah..dan maknai profit. Kamu harus melepaskan makna profit yang sudah merajalela di buku, jurnal, aturan. Makanya, aku bilang di awal, kalo definisi yang kuciptakan ini dibuat sebelum membaca materi yang diberi pakprof. Sebagai penjelas bahwa aku punya pandanganku sendiri dan nggak gampang goyah. Etapi, kalo kamu mau menggoyahkan hatiku, silakan loh ya.. *diuyel-uyel* *ngakak*"

Tulisan ini adalah hasil renungan saya, sebelum membaca jurnal untuk materi kuliah tentang profit.
Profit.. nilai tambah bagi dari apa yang kita dapatkan, dari apa yang kita keluarkan. Lupakan soal materi dulu, saya ingin bicara soal hati, perasaan. Profit dapat berupa perasaan, seperti puas, ikut senang ketika melihat orang lain juga bahagia. Semua rasa itu adalah sesuatu yang ditangkap oleh perasaan kita, misalnya karena kita ikut senang melihat pelanggan senang saat membeli dagangan kita. Senang dan ikut senang.
Sekarang saya bertanya pada diri saya sendiri, jika orang lain mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, sedangkan saya tidak, lalu orang tersebut bahagia, apakah saya juga ikut senang? Dia senang, tapi saya tidak. Di mana profitnya? Saya merasakannya sebagai, “jika sesuatu itu buruk substansinya bagi saya, meskipun menurut orang lain itu bagus, Allah menyayangi saya dengan menjauhkan hal tersebut. Tuhan Maha Tau, sedangkan pengetahuan saya masih seperti debu, tak berarti dan amat terbatas.” Saya akan tetap merasa mendapat profit. Profit saya ya diselamatkan dari hal buruk dan telah diberi kesempatan untuk belajar.
Lalu saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimana jika orang lain tertawa di atas penderitaan saya? Kan dianya bahagia, saya sedih. Jika dimetaforakan, dia mendapat untung, sedangkan saya rugi. Kembali lagi ke olah rasa saya di atas, kehidupan adalah buku pelajaran raksasa. Misalkan, saya digunjingkan, maka sebenarnya sedang untung, karena menurut hadist, saya sedang menerima pasokan pahala dari mereka yang sedang menggunjing. Jadi ya, seharusnya saya doakan dia rajin beribadah, tapi hentikan gunjingannya, karena “profit”nya menipis setelah ditransfer ke saya. Kasihan. Hehehe.
Lalu saya merasa, “Lho, saya masih merasa kasihan?” Wah, itu profit tambahan buat saya. Alhamdulillah.. :D

Dari renungan saya itu saya mengambil kesimpulan, bahwa profit adalah segala sesuatu yang membuat kita “mati”, menuju kepada-Nya. Apapun bentuknya, baik yang tampak (misalnya harta) dan yang tak tampak (misalnya kebahagiaan), asal kita mengingat Tuhan di dalamnya, kita mendapatkan keuntungan. Manusia yang mengingat Tuhan, tak mungkin mencederai fisik dan perasaan sesama ciptaan-Nya. Dengan segala yang ia peroleh, ia bersyukur. Tidak perlu saingan memaksimalkan “profit” untuk sesuatu yang sebenarnya sudah (di)cukup(kan). ;)

"statusku mahasiswa konsentrasi akuntansi bisnis. TAPI KOK NGERTI BEGINIANNN?? kan bisnis ala kapitalis. Mwahaha.. aku sit in ndak sengaja, tapi kulanjutkan untuk tiga tujuan: (1) pengen tau, (2) mendengarkan komentar sang pakar tentang syariah yang sekarang banyak dibisnisin (baca: dijadiin cap doang), (3) memberi pelajaran pada yang lain bahwa jangan menilai jiwa seseorang dari apa yang tampak, substance over form! *ketawa jahil di pojokan*"

Minggu, 12 April 2015

Tentang Pembalasan

"Berhenti jd cermin, nona! Jika kamu beriman, percayalah Allah Maha Mengetahui. Tiap getaran dari niat jelek akan dikembalikan oleh semesta."

Aku marah hari ini.
Kepada diriku sendiri.
Kepada sifat melankolis, yang mampu mencatat secara detail "kapan dan dengan cara apa kau menyakiti perasaanku.. dimana.. siapa saksinya.. dan dampaknya..".
Kepada sifat cerminku, yang mampu menjadikanku sayang.. sangat sayang pada orang yang begitu baik hati padaku.. Dan membalas jutaan kali lebih menyakitkan ketika ada orang yang menyakitiku..dan orang yang kusayangi.

Aku yang semakin menua tiap harinya..
Mengapa sifat ini tak kunjung lenyap juga.
Seharusnya aku sadar, ketika aku beriman atas adanya Tuhan, aku tak perlu lama merasa sakit hati.. karena suatu hari pasti akan diganjar dengan tawa. Aku akan menertawai kegalauanku hari ini.
Kalau aku beriman kepadaNya, aku tak perlu repot-repot membalas. Mengapa aku meragukan kekuatan getaran semesta dengan gelombang karmanya? Aku kok kayak orang bodoh.. yang nggak pernah baca buku tasawuf modern aja.. yang nggak pernah diberi nasihat oleh orang-orang dengan kualitas EQ dan SQ super.
Kalau aku diberi kelebihan berupa "kesetiaan, kejujuran, dan keinginan untuk membantu orang", mengapa aku merusak nikmat itu hanya gara-gara perlakuan mahluk-mahluk utilitarian?
Kalau aku mengakui diriku manusia, punya akal, nafsu, nurani... mengapa aku malah membalas "sifat hewan: makan atau dimakan" dengan menjadi hewan pula? Aku manusia!

Mengapa aku tak fokus untuk melakukan kebaikan? Mengapa aku membiarkan nuraniku..hartaku sebagai manusia tergores oleh mahluk-mahluk tak bertanggung jawab... dan kubiarkan meledak karena menyimpan rasa sakit?
Bukannya Tuhanku melarang untuk menyakiti diri sendiri?
Sudahlah, maafkan... meskipun file-file itu tersimpan rapi untuk menjadi pelajaran... memaafkan, bukan berarti melupakan. Itulah mengapa ada seorang kawan yang percaya bahwa "karma berlaku dua arah".
Perbuatan pelaku akan merubah hidup korbannya.
Bagiku, ini kesempatan untuk memanfaatkan karma itu untuk jadi lebih dewasa.
Bukankah aku berjanji untuk menjadi semakin cantik setiap harinya?


"Ayo, nona.. Kamu bisa! Hidup itu terlalu singkat..untuk hanya menyimpan sakit hati."

Dariku, untukku,
yang sedang diseret untuk maju.

Minggu, 08 Februari 2015

Di Balik Sebuah Doa

Jadiii, begini ceritanya.. tengah semester kedua matkul Etika Profesi & Spiritualitas muncul kesepakatan baru. Salah dua dari anggota kelompok yang bertugas presentasi, juga berkewajiban untuk memimpin doa pembuka dan penutup sesi perkuliahan.
Kelompokku adalah kelompok penutup. Dan aku memilih memimpin doa penutup. Itu berarti terakhirnya terakhir. Kehormatan bagiku, karena kan biasanya pemeran utama emang muncul terakhir. *kibas jilbab* *pasang pose pahlawan bertopeng* *dikeplak* :p
Ini doanya:


"Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Kami bersyukur ya Tuhan..
atas segala nikmat yang Kau berikan.
Terima kasih, karena telah mengizinkan kami berkumpul di dalam kelas ini.
Presentasi, berdiskusi... sampai bercanda... bertemu teman2 tersayang dan dosen merupakan anugrah, yang mungkin sering kami lalaikan untuk disyukuri..
Terima kasih telah Kau jalinkan persaudaraan di atas segala perbedaan yang kami miliki. Semoga jalinan ini tetap terjaga walau pada akhirnya kami harus berpisah..
Terima kasih, karena telah kau beri kesehatan dan kemampuan untuk berbagi ilmu hari ini...
Beri kami kesembuhan dari sakit, baik itu yang ada pada raga maupun jiwa dan hati kami..
Beri kami kelancaran berpikir, ketenangan hati, dan mudahkanlah atas segala yang kami perjuangkan.
Jadikanlah kami versi terbaik dari diri kami.
Engkaulah Maha Mendengar harapan, Maha Melihat usaha kami... Sesungguhnya yang berasal dariMu, akan kembali padaMu..
Kabulkanlah doa kami ya Tuhan..

Aamiin.."

..itu teks versi print out sih. Sebenarnya di teks aslinya, ada tambahan kalimat lainnya sih.. lebih dramatis jadinya.. Hehee.. Tapi suer, itu nulisnya tulus setulus-tulusnya.. Dan hasilnya, si penulisnya sendiri nahan biar ga nangis pas mbaca di depan kelas.


FAQ #1 Tapi, Laa.. kok doanya bahasa Indonesia?

Aku pengen memastikan orang yang mengamini doaku itu tau apa yang diamini olehnya. Memang mayoritas pemeluk Islam. Tapi rasa persaudaraanku sama pak-bro dan bu-sist yang memeluk Hindu, yang bikin aku nulis doa pakai bahasa Indonesia. Toh, kalau kamu yakin Tuhan itu Maha Mendengar, apapun bahasanya, menurutku nggak masalah.

FAQ #2 Doanya gitu amat yak.. semacam lebay kayak mau pisah apa aja..

Iya, tiap teman, apalagi yang berjuang bersama, selalu kuanggap seperti saudara sendiri. Imajinasiku yang selalu jauh ke depan ini ngasi bayangan betapa berbeda rasanya kalau nggak ada mereka (edisi komplit). Yang nekat mamam di kampus walau lampu udah dipadamin lah, yang kerja kelompok dibelain break buat bobok kece 5 menit sambil duduk lah, yang karaokean setelah 3 hari full tugas & 3 hari kuliah lah, yang nari india sambil foto-foto sambil jalan ke kantin sambil nggalao tugas lah.. Hahaha

FAQ #3 Kok harapannya dikit amat yak? Malah banyak terima kasihnya?

Nah itu dia! Aku ngerasa tiap kita berdoa seringnya pake kalimat yang diawali "tolong ya Tuhaannnn...", atau "Semoga aku.." atau "Kenapa oh kenapa, Tuhannn...".. Trus ujung-ujungnya lupa bersyukur.. Nah, untuk mengingatkan teman-teman untuk banyak bersyukur biar nikmatnya ditambah dan ditambah lagi, untuk menghargai yang udah kita dapat, dan untuk menyadari rezeki yang udah dikasi Tuhan yang serinnnnggg banget ga kita sadari karena ketutup sama keluhan, makanya aku pake banyak kata terima kasih. Yang aku terimakasihkan di atas itu, misal nggak dikasi sama Tuhan, imajinasiku bilang... hidupku ga bakal seindah hari ini dan ga ada Ela yang ada di depan kelas buat mimpin doa.

FAQ #4 Ebuset, niat amat bikin latar belakang buat doa? Kayak pendahuluan makalah ajaa..

Sahabatku bilang, niat itu emang yang mengawali segalanya. Nah, moga-moga dengan niat penyusunan doa yang baik dan tulus, doanya capcus dikabulkan sama Tuhan. Aku sih...mengusahakan segala sesuatu yang aku lakukan ada maksud baik untuk kebaikan bersama. Doa yang terucap boleh sama, niat dan kadar ketulusan bisa beda.. Ada yang 24 karat, ada yang karatan.. Nyahahaha... *hush*
Dan ini bukan maksudku buat pamer atau apa yaa.. Sudut pandangku ini adalah bahwa berbagi itu indah. Berbagi nggak mesti materi. Semangat, inspirasi, ide...juga bisa dibagikan.

Dan akhir kata..
boleh kan minta aamiin-nya? :)

Rabu, 04 Februari 2015

Menggores Kacamata

Sore ini..
Di lindungan sebuah atap di dasar kawah..
di bawah langit yang menangisi kisah kita..
Kita bercerita tentang menemukan dan kehilangan.
Jauh dan dekat.
Kasih sayang dan kekecewaan.
Aku katakan sekali lagi judul sub bab dari novel favoritku,
orang yang membuatmu kecewa adalah orang yang paling kamu sayangi.
..kita tak pernah paham perasaan orang lain.
Tidak akan pernah.
Perkara sudut pandang akan selalu menjadi perkara,
pengadilan yang kasat mata, langsung dari perasaan.

Dalam kisah yang berbeda,
kita bicara tentang cara menghapus goresan di kacamata orang.
Bahkan yang tak sengaja kita lakukan.
Seseorang pernah berkata padaku, kacamata hancur bisa diperbaiki, kalau hubungan itu yang susah.
...karena kita tak pernah mendengar senyaring apa raungan seseorang yang tergores perasaannya.
Yang bisa kita lakukan adalah menjadi kesatria: meminta maaf.
Di posisi yang terkecewakan, meminta maaf itu jauh lebih gampang daripada memaafkan.

Di antara cerita kita..
Di tengah isakan langit..
Kita mengenal tentang menemukan dan kehilangan.
Jauh dan dekat.
Kasih sayang dan kekecewaan.
Harapan. Cinta.
Kita mendewasa darinya.

Bahwa tak ada satupun yang abadi di dunia.
Jika cinta dapat menggelora dalam waktu yang terbatas, (seharusnya) begitupun dengan amarah.
Maju.. majulah ksatria..


Dariku, untukmu dan aku. :)

Jumat, 09 Januari 2015

Mana Aku Tau

Mana aku tau akan berada dimana.
Siapa yang tau aku akan jadi apa.
Aku di sana setahun lalu takkan menyangka ada aku yang di sini hari ini.
Aku datang untuk menemukanku yang menujuNya.
Mampirku tak lama, sia sialah jika tak menjadi siapa siapa.
Bukan mengenai yang tampak, tapi yang ada di dalam,
yang di luar hanya bungkus dari cita rasa kehidupan.

Aku mencari isi untuk yang hampa,
untuk nantinya menjadi kosong kembali.
Titipan untukku di dunia masih tercecer,
terkumpul akan menjadi bekal.
Untukku.
Untuk kebaikan.
Untuk pertanggungjawaban mengapa aku di dunia.

Semoga berkah.
Semoga bertemu dengan yang kucitakan.
Semoga akan dibimbing oleh yang maju beriringan.
Aamiin.