Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Mahasiswi Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Mahasiswi Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2025

Hidup, Part Sekian....

 “Mbak, jangan menikah!”

“Wah, komentarnya beda nich!” kataku dalam hati. Saking semangatnya, pengucapan “nich” sampai terbawa sebagaimana mestinya.

N-I-C-H.

Bukan NIH.

---------------------------

Aku mengintip smartwatch yang menunjukkan debaran jantungku meningkat seiring dekatnya jarum panjang ke angka 12 dan jarum pendek di angka 8. Aduh, kesiangan, pasti antrian loket RS sudah mengular.

Tapi hari ini aku mencoba mindfulness. Ah, meskipun telat, aku berusaha beres dengan diriku sendiri. Aku sudah sarapan dengan layak, sudah mandi dengan tenang dan dandan cantik sekali. Aku melirik outfit yang tidak biasa kukenakan ke RS, jeans biru, kemeja putih, jilbab abu tua, wedges pink, dan tas merah menyala. Biasanya, aku hanya mengenakan celana kain, kemeja tabrak warna, sandal jepit, seperti pasien pada umumnya, yang penting antri.

Ternyata antrian di loket sidik jari tak serepot biasanya, alatnya mau bekerja sama denganku untuk mengenali jempol kananku dengan sekali sentuh. Alat cetak Surat Eligibilitas Pasien juga sempat ngambek sekali, selebihnya dia mau memuntahkan kertas putih bertuliskan identitasku.

Kusapa perawat yang juga langsung mengenaliku dan dengan seloroh seperti biasa,”Keluar dulu, masih luamaaa.”

Aku dengan riang menjawab,”Okeee..” sambil melirik isi tasku. Buku bacaan dan sebotol penuh air mineral yang penting ada bersamaku, tak masalah menunggu lama.

Menuju ruang tunggu aku kebingungan, melihat ternyata tak ada kursi yang tersisa. Bahkan keluarga pasien rela duduk di petak-petak ubin yang tersisa di antara kursi-kursi dan tembok. Bagaimana dengan pasien? Mereka di atas kursi roda dan tempat tidur yang berderet rapi memblokade jalan lalu lalang, sudah seperti kendaraan macet saat arus mudik. Di antara bingungku, ternyata ada satu keluarga pasien yang dipanggil, beranjak meninggalkan satu kursi kosong.

Aku dengan cepat menujunya dan minta izin orang di sebelahnya,”Kosong? Boleh saya duduk di sini?”

Si Ibu mengangguk dan mengamatiku dari atas ke bawah. Daftar FAQ otomatis menyala di otakku, sambil menunggu komentar atau pertanyaan apa yang akan diberikan.

Ternyata si Ibu hanya senyum, tapi senyumnya pahit.

Karena kusadari kita adalah mahluk hidup yang tidak mungkin diam saja berjam-jam, kuputuskan bertanya duluan,”Ibu ke poli apa?”

Kamipun saling bercerita poli dan dokter yang menangani. Kudapati si Ibu adalah kaum mendang-mending. Dia selalu menilai dirinya orang tidak beruntung sedunia karena sakitnya sudah parah. Yaaa, sebenernya aku juga sih, cuma tembok yang kubangun tinggi sekali sehingga orang-orang melihatku sebagai orang yang selalu sehat dan ceria.

Tidak lama, ternyata si Ibu dipanggil masuk poli. Tapi hanya sebentar, dia keluar dan kali ini berdiri di sampingku karena kursi penuh. Dia menjelaskan bahwa dia tidak mau mendengar komentar dokter kalau sakitnya memburuk, hanya ingin tau penanganan lebih lanjut saja, jadi dokter di sini sedang konsultasi lebih lanjut dengan dokter di Surabaya. Lalu dia menggumam,”Saya sendirian, saya ditinggalkan suami ketika saya sakit,….. mbak masih mending..”

Oke, cukup.

Aku mencoba melakukan smiling eyes karena tidak mau membuka masker saat itu, lalu menyahut,”Saya juga sendirian, ke sini tidak ada yang menemani, orang tua saya meninggal, saudara tidak ada di sini, sayapun operasi dengan membayar penunggu-rewang, dan saya masih single.”

Saat bersamaan kursi di sebelahku kosong, si Ibu bergegas duduk dan tiba-tiba bilang,”Mbak, jangan menikah!”

Aku diam saja mendengarkan. Biasanya orang di sekitarku sibuk menjodohkan atau sekadar menjadi pengingat berjalan kalau sudah waktunya menikah. Kok, ini beda. Hahaha.

“Menikah itu menyakitkan. Padahal saya sudah hijrah, meninggalkan hobi lama saya (penata rias), saya umrah dan ikut kajian. Pada akhirnya ketika saya sakit, saya tidak dipedulikan..”

…….

“Dulu saya cantik dan terawat, mbak.. Nggak kayak gini…”

Yang terjadi selanjutnya, dia menunjukkan foto suaminya, kenangannya saat umrah sebagai kado pernikahan, momen saat dia kajian, saat dulu aktif bersama teman sesama penata rias, dan terakhir foto beberapa mukena putih bersimbah darah.

Air mata yang tadi ditahan akhirnya berubah jadi tangisan deras di keramaian. Dia merasa sendiri dan ditinggalkan. Ketika disakiti, luka bekas operasinya akan mengeluarkan banyak darah. Lucunya, orang-orang yang duduk di sekitar kami sepertinya ikut mendengarkan, mencuri pandang, dan mencodongkan badan mendekat. Apakah ini yang dinamakan ketika dunia tau deritamu, tak semua mau memelukmu? Mereka cuma ingin memuaskan rasa ingin tau mereka.

“Suamiku NPD, mbak.. dia menyebarkan fitnah dan tidak ada satupun dari saya yang ia percayai. Darah tadi dituduh obat merah.”

Satu-satunya barang yang kuambil dari tasku saat itu cuma tisu untuk meredakan badai.

Dia lanjut bercerita mengenai terapi-terapi kesehatan sambil memperlihatkan luka bekas operasi di pelipis. Aku hanya menanggapi sesekali,”Wah saya bahkan tidak memperhatikan luka bekas operasi itu..saya fokus cerita Ibu.”

“Saya berani bercerita ini karena mbak tidak kenal saya, jadi tidak perlu mengulik-ngulik kehidupan saya, cukup dengarkan dan ambil hikmahnya.. mungkin setelah ini kita tidak ketemu lagi, saya dikenang sebagai perempuan yang berusaha kuat ketika sakit saja sudah cukup.”

Ketika ia puas bercerita, kini giliranku yang bercerita. Sebelumnya aku klarifikasi bahwa ucapanku tidak untuk membandingkan penderitaan, ini hanya sharing.

“Ya betul, Ibu.. Mending tidak usah menikah. Betul. Tidak usah menikah kalau belum bersahabat,” kata-kataku menarik perhatian si Ibu. “Tidak usah menikah kalau hanya kenal dari sosial media atau kenal biasa. Jalinlah persahabatan dulu, dengan demikian sifat baik dan buruk kedua belah pihak sudah sama-sama tau. Tidak usah menikah kalau hanya dituntut karena dinilai sudah terlalu tua, karena judgement orang lain, karena tuntutan orang tua atau lingkungan sosial, atau hanya ingin punya anak.”

“Nah, betul jangan dengarkan kata orang,” kata si Ibu bersemangat.

“Saya juga melalui beberapa tahap hidup dimana tujuan saya berubah seiring berjalannya waktu. Yang saya katakan tadi hasil perenungan saya terakhir, selepas saya sakit. Saya hanya ingin bersahabat sekarang, selama tidak terlalu mengenal seseorang, saya tidak mau melangkah lebih lanjut. Selama si pria tidak ada inisiatif, saya menilai dia tidak bisa memimpin keluarga.”

“Perempuan hanya ingin dibahagiakan oleh laki-laki,” gumam si Ibu sambil kembali flashback.

“Ya, tapi sebenarnya saling ya bu.. saya bisa bilang begini karena kedua orang tua yang memberi contoh. Mereka sampai akhir hayat, memberi contoh saya persahabatan yang terikat komitmen pernikahan. Mereka masih bisa adu argumen, tapi masih bisa saling memaafkan. Mereka melakukan apa yang mereka suka, tapi dengan jujur dan saling mengerti. Di kala hidup ada naik turunnya, mereka tetap kompak.”

“Hmm, iya sih.. sekarang lagi marak taaruf…tapi nggak kenal sepenuhnya pasangannya gimana..”

“Oh, saya memang tidak pacaran, tapi juga tidak setuju kalau kita menikah dengan orang yang tidak kita kenal. Makanya saya bilang sebaiknya bersahabat dulu..”

……

“Bu, kalau boleh saya sarankan.. Ibu bilang tadi Ibu sudah mau mengurus cerai dan pindah keluar rumah suami?”

“Ya, ini sudah kontak pengacara..,” diapun memperlihatkan beberapa lemari besar yang dimuat ke atas pick up, disusul dengan chatnya dengan seseorang yang ia panggil pengacara.

“Nah, kalau misalnya Ibu melakukan apa yang Ibu suka lagi? Entah menata rambut atau sekedar MUA bagaimana? Lakukan yang jadi hobi Ibu, mungkin Ibu bisa sembuh dan pulih kembali karena bahagia..”

“Tapi saya sudah hijrah…”

“Memangnya kalau hijrah pakai jilbab dan umroh, tidak boleh menata rambut orang lain?”

…….

“Yang kedua, masalah NPD ya bu.. tadi Ibu menyebut suami Ibu NPD. Sayapun mengalami kejadian tidak menyenangkan dengan NPD. Sudah bu, jangan bereaksi.. Lepaskan ikatan Ibu dan jangan memberi reaksi apapun.. Memang sulit, tapi saya juga belajar untuk tidak memberi panggung maupun diseret ke panggung mereka.”

“Oh gitu ya mbak?”

“Tipsnya begitu bu.. Mereka yang percaya dengan cerita bohong itu, biarkan.. artinya ya memang mereka ini bukan teman yang baik. Anggap saja eliminasi..”

“Suami begitu karena masih sakit hati dengan masa lalu, jadi curiganya terbawa sampai sekarang..”

“Yang belum sembuh biarkan saja.. yang penting kita sembuh agar tidak merugikan orang lain..”

Kususul dengan beberapa tips kesehatan yang kutau dari membaca, konsultasi, dan eksperimen. Si Ibu mendengarkan dan bertanya balik untuk hal asing, setidaknya kali ini isak tangisnya sudah mereda. Sampai akhirnya, namaku dipanggil masuk ruang periksa.

Kulirik smartwatch-ku. Pukul 10.00.

Setelah pamit, bergegas kumasuki poli dengan pandangan kepo. Wow, dokter subspesialisku sudah ada! Semua dokter yang kukenal, kusapa.. dan mereka bercanda di depanku.

“Datang 6 bulan lagi ya..” kata dokterku mengakhiri rutinitas hari itu.

Biasanya kalau antrian dimulai pukul 07.00, antrian periksa selesai di pukul 14.00. Ini 2 jam saja dan penuh makna. Kulirik buku yang belum sempat kubaca dan air mineral yang utuh di tasku, unpredictable!

……………..

Ada orang yang hanya ingin didengarkan untuk mencari obat.

Ada orang yang memandang pernikahan sebagai tahapan yang harus dilalui, padahal itu pilihan. Kalau ada yang cocok, kalau ada yang paham, kalau….ah, isi sendiri ya.. :)

Ada orang yang menderita karena framing orang lain dan berusaha waras setiap hari bersinggungan dengan NPD.

Orang boleh sakit, tapi harus berusaha sembuh. Orang tidak move on dari rasa sakitnya cenderung menyakiti orang lain, disadari atau tidak. Temukan alasan untuk sembuh, temukan pula pendukungmu untuk bergerak kembali, sekecil apapun itu.

Pada kenyataannya, otot dan otak memiliki memori untuk mengingat sensasi. Sakit fisik dan hati punya kedudukan yang sama.

Dengan memutus hubungan dari orang yg menyakitkan, sama juga memutus rantai penyakit.

Mungkin kamu tidak penting di dunia, tapi pastikan kamu adalah duniamu.. mereka yang mengakui planetmu, akan otomatis mendekat padamu...

Jumat, 22 Desember 2023

Si Paling Menderita(?)

Kadang, rezeki itu sesimpel...

Kena lampu merah melulu karena dihindarkan dari musibah;

penundaan bukan kegagalan, tapi sedang diselamatkan. Kalaupun berhasil cepat, memangnya sedang berlomba dengan (si)apa?

Didatangkan teman-teman yang mekso ngajak ketawa;

lalu membayangkan ada orang lain yang jauh menderita yang butuh bantuan dan penghiburan. Mungkin kita jadi alasan orang lain menghidupkan hidup!

Diperlihatkan daun gugur di jalan, yang tak mungkin bukan seizin Allah;

mungkin ini kelihatannya nasib jelek, tapi kita nggak pernah tau kalau kita sebenarnya SUDAH diselamatkan dari kondisi yang lebih buruk.

(Another random thought, 20-12-2023)

Rabu, 28 Juni 2023

126

 


Kalau kata-kata bisa menggugah jiwa, tindakan merupakan bukti nyata. 
Kadang orang meraih sesuatu untuk membuktikan bahwa "aku lebih hebat dari orang lain", tidak untukku... maka kunikmati pencapaian sebagai pembuktian ketidaksempurnaanku yang kukalahkan. 
Aku tidak pernah salah karena tidak sempurna. 
Aku salah jika memaksa sempurna. 

Kata-kata ini kuharap bisa menjadi motivasi orang yang mengalami hari buruk, diperlakukan tidak pantas oleh orang lain, tidak sempurna fisik dan/atau nonfisik, atau sedang distandarisasi paksa hidupnya oleh orang lain. 


Selasa, 03 Mei 2022

Koma

Tuhan menghadirkan koma

untuk kita menghela nafas

koma

memperbarui angan

memilah mana yang harus dipikirkan dan memilih yang memikirkan

koma

membersihkan perasaan

mana yang harus dipedulikan dan terbukti mempedulikan

koma

untuk membereskan kekacauan

menyudahi yang melelahkan

memberi kesempatan pada hal baru datang

koma

menyadari bahwa suatu hal kadang diakhiri bukan salah siapa-siapa

namun kitanya yang bukan prioritas pertama

koma

buta tuli bisu dari kata dan sangkaan menyimpang jauh berbeda

karena memang tak ada seorangpun punya titik kulminasi sama

koma

ketika Tuhan menumpulkan yang satu

maka yang lain akan dipertajam

seperti energi

rahmatNya tak pernah terputus

koma

pasti ada jalan

di antara koma-koma

sebelum titik.



 

Minggu, 27 Maret 2022

Kata Tangan Kanan

Jika aku putus asa,

aku menyia-nyiakan pengorbanan kedua orang tuaku

yang dulu rela melakukan apapun

dari mengantarkanku lahir ke dunia,

membesarkanku,

mendidikku,

memastikan aku makan dengan cukup dan layak,

melindungiku dari panas dan hujan, sehingga aku tidur nyenyak.

Jika aku putus asa,

aku mengkhianati orang-orang yang menahan air matanya agar tidak menetes di depanku,

orang yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantuku tanpa mengeluh,

orang yang khawatir dan memastikan aku baik-baik saja dalam semua aspek padahal mereka juga sedang berjuang dan mungkin sedang tidak baik-baik saja.

Jika aku putus asa,

aku menyia-nyiakan bagian tubuhku yang lain yang baik-baik saja,

aku melanggar kontrak hidupku untuk menjadi sebaik-baiknya manusia,

aku tidak tepat janji untuk bertemu dengan papa mama di surga,

aku membiarkan persepsi diriku menganiaya diriku sendiri.

Jangan harap orang lain paham, jika engkau tak mampu memeluk dirimu sendiri terlebih dahulu.


Minggu, 02 Februari 2020

Rumput di Halamanku Memang Lebih Hijau!

Saat itu petang sudah menguasai langit kota dimana aku menuntut ilmu. Sesama anak kos berkumpul untuk menceritakan pengalaman di kampus sesiangan, maklum beda fakultas. Beda ilmu, budaya, termasuk jam makan. Hehe.
Aku mengaduk mie instan yang baru matang di depanku, ketika tiba-tiba temanku nyeplos, "Aku pegel mbek awakmu! (Aku sebel sama kamu!)."
"Lho lapo? (Lha kenapa?)," kataku bertanya karena tidak merasa berbuat sesuatu yang menyakitkan orang lain.
"Lha kamu tu kalo maem kelihatannya enak banget. Aku kan jadi laper lagi. Nyebelin."
Glek! Padahal ini makan malamku. Satu-satunya asupanku malam ini.
"Lho ayo ta, maem bareng?" kataku menawarkan.
"Aku udah maem barusan," katanya sambil melirik piringku.

Jadi, aku yang salah atau persepsinya yang salah? Jadi, cara makanku yang salah atau ketertarikannya yang salah? Ini aku atau dia yang harusnya tersinggung? Aku yang terlalu menikmati hidupku atau dia yang kurang bersyukur? Oh aku selama ini biasa-biasa aja, orang lain melihatnya luar biasa? Oh aku bisa gitu yaa..
Kukunyah mie goreng dengan perlahan sambil memikirkan perspektif orang.

"Tuh kan! Sebel!" ujar temanku memalingkan muka.

Oh, ini mienya yang salah! Batinku tak mau berlelah diri. Biarlah lakuku menunjukkan tanpa harus menagar "always alhamdulillah". Nikmat itu relatif, kalau sederhana tapi bersyukur ternyata bisa kelihatan mewah juga.

Refleksifitasku kini, tentu merepotkan menjawab satu per satu dugaan manusia. Waktu terus berjalan, akan ada banyak perjuangan. Budi pekerti tak dapat tumbuh di dalam kubangan kebendaan. Man robbuka? tak mungkin dijawab "mie goreng", "uang", atau "udahlah, malaikat..kita kan fren. Nggak usah jawab nggak papa ya?" karena kita fokus kepada yang terlihat enak pada orang lain. Tapi nggak sadar atau tak pernah lihat lebihnya diri.
Huhu.

*Sugih tanpo bondo, digdoyo tanpo aji (Sosrokartono)*

Selasa, 28 Januari 2020

Kecelakaan Beruntun

Saat itu aku baru sampai di rumah duka. Terlihat lengang dari halaman depan. Wajar, aku menuruti kata hati ke kantor dulu untuk membimbing anak, baru siangnya mampir ke blok sebelah untuk takziah. Aku mengintip ruang tamu, masih ada tikar tergelar. Segera ada wanita yang menyambutku saat aku mengucapkan salam. Aku duduk dengan manis setelah bersalaman dengan si wanita, lalu pada empat orang ibu-ibu yang kuduga sama-sama pelayat, pada seorang bapak yang terlihat lelah melayani tamu, lalu ada seorang laki-laki muda mungkin sedikit lebih tua daripada aku.
Lelaki tua terlihat mencoba mengenaliku. Kusebut nama papaku, yang akhirnya dapat memahamkan beliau sekaligus membuka memori masa mudanya. Sekumpulan ibu-ibu itu rupanya paham arah pembicaraan akan berubah mengepoiku dan mereka tak tertarik, lalu memutuskan pamit. Seperti biasa, ada pelayat yang akan mendoakan secara lantang,"Semoga almarhumah ibu diampuni dosa-dosanya nggih. Diterima amal ibadahnya..."
Semua sepakat mengaminkan sebelum si ibu menunjuk wanita muda yang tadi menyambutku,"...sama mbaknya, sampeyan belum punya momongan kan? Segera lho yaa.."
Sejenak batinku berbisik kurang ajar atas kekurang ajaran ibu yang satu ini. Suasana duka berubah canggung, si wanita hanya tersenyum. Laki-laki di sebelahnya mengangguk saja. Oh, ternyata suami-istri toh.
Ibu-ibu itu bergegas pulang setelah puas ber'empati'. Si bapak tua lalu segera menjadikanku tokoh utama dalam obrolan. Aku mengimbanginya dengan bertanya almarhumah sakit apa, dimakamkan jam berapa, dan lain sebagainya. Tapi lagi-lagi si bapak seperti tanpa koma dan jeda mengembalikan cerita ke arahku,"Mbak putranya sudah berapa?" Mungkin beliau menghitung usia papa mamaku yang seharusnya sudah menggendong beberapa cucu sebelum tiada.
"Belum. Saya masih single,"kataku santai.
"Lho kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kok belum menikah?"
"Ya kan belum ketemu jodohnya,"kataku yang justru tertawa dalam hati. Pertanyaan retoris wkwkwk.
"Lho kok belum sih? Kok terlambat?"kata beliau mengejar.
Mak deg. Dia ngremehin Gusti Allah nih. "Maaf, pak. Urusan jodoh itu nggak ada kata terlambat atau kecepetan. Semua sudah diatur," aku melirik lelaki muda yang duduk diam sedari tadi mulai mengangguk-angguk.
Kalau aku telat menemukan jodohku, berarti putra bapak kecepetan nikah dong? Lha wong belum dikasi keturunan..
Imajinasiku mulai kurang ajar.
Astaghfirullah.
"
Semua rezeki juga Allah yang ngatur. Kalau memang belum saatnya, ya namanya bukan terlambat juga kan?" kataku masih dalam kuasa nada merdu, tak meninggi.
Lelaki muda di depanku semakin lebar senyumnya dan anggukannya bertambah sekian kali. Sayangnya, istrinya sudah masuk dan menghilang setelah rombongan ibu-ibu tadi pulang. Ya Allah, pak.. Anakmu pak, anakmu.. Kok aku yang gemes sih.. Kok aku yang belain sih..
"Oh yaya, semuanya Tuhan yang ngatur ya.." kata si bapak dengan pandangan menerawang.
Jadi, selama ini apa yang kau pikirkan kisanak, soal jodoh, rezeki dan segalanya dalam hidup? Masalah cepet-cepetan? Ibu panjenengan barusan meninggal dalam usia 97. Papaku dalam usia 73 meninggal dunia. Itu juga masalah siapa yang paling cepat? Aku mencoba mengendalikan perdebatan dalam diriku.

Kurasa pembahasan ini harus diakhiri dengan mengucap,"Maaf pak, saya harus kembali ke kantor sekarang. Jam istirahat habis."
Alhamdulillah.
Kecelakaan beruntun dari hati ke hati itu semoga sukses membentur pikiran peniadaan Tuhan pada keseharian. Kalau rangka kendaraan dapat saling hantam dan penyok, maka kata-kata dapat membuat lebamnya hati. Hati-hati. Habluminallah, habluminannas.

Minggu, 19 Januari 2020

Kecerdasan Melintasi Ruang dan Waktu: Mbak Rewang

"Mbak, yang di kaca jangan dihapus!" tunjukku ke arah meja rias berukuran 1,5 kali 1 meter.
"Kenapa?"
"Ya soalnya itu ada tulisannya."
Mbak rewang mendekat sebelum berkata,"Astaghfirullah, mbakkk... Papan tulis apa gunanya kok kaca dibuat nulis?"
Padahal kupikir mbak rewang sudah terbiasa melihat kelakuanku yang mungkin antimainstream kalau dibanding bos-bos lainnya,"Papanku nggak cukup, makanya pakai kaca." Aku tertawa. Mbak rewang mendekat dan mulai membaca.
"Kenapa isinya nama surat Al Quran?"
"Bahan tulisan,"kataku singkat sambil tertawa melihat mbak rewang masih geleng-geleng kepala.
...
Suatu hari, ia tiba-tiba datang sambil ngomel.
"Eh, di WA bilang jam 1, kok jam 11 udah datang?" kataku membukakan pintu.
Dia mulai bercerita. Lebih tepatnya pada akhirnya saling bercerita. Sampai akhirnya ia bertanya,"Mbak ela mau kemana?"
"Tenang, kalau kita kan sudah terikat gara-gara papaku nunjuk mbak biar nemenin aku kalau papa udah ndak ada."
"Kita terikatnya sama Gusti Allah ya mbak?"katanya menyimpulkan.
"Iya. Namanya janji harus ditepati."
Sejenak ia berpikir. Mungkin sedang suntuk berat. Terdengar dari ceritanya, segala beban ia bawa sendiri ke sana kemari, tanpa menangis.
"Berarti tiap orang punya cerita beda-beda ya mbak? Ndak mesti aku thok yang nggak enak?"
"Ya, tentu aja. Dramaku sendiri, mbak. Si A ceritanya sendiri. Si B beda lagi. Lha dipikir orang ketawa-ketawa thok, ga punya masalah?" jawabku.
"Oh yaya."
Kulihat dia berpikir sambil hendak menjemur baju di lantai 2.
"Mbak.."
"Ya?" langkahnya terhenti, satu kakinya sudah memijak di anak tangga pertama.
"Tau nggak aku sekian banyak baca buku, dapat apa?"
"Apa?" si mbak rewang terlihat membayangkan tumpukan buku yang belum sempat kubereskan di depan meja rias.
"Islam mengajarkan 2 hal penting. Pertama, kedermawanan selama hidup. Mbak sudah to, lha itu ceritanya ngasi-ngasi? Yang kedua, budi pekerti. Dijaga pakai sholat. Itu bekalnya hidup 'mbesok'. Paham maksudku?"
"Iya mbak."
"Taklanjutin ya..pas baca buku itu aku nangis. Tau kenapa?"
"Emang kenapa mbak ela?"
"Aku juga punya janji sama papaku buat ketemu di 'sana'. Harus ketemu lagi, aku mama papa, katanya. Padahal ya mbak..surga sama neraka kan nggak kekal."
"Lhoo mana bisaaa?" kata mbak rewang sedikit tidak terima.
"Kan yang kekal cuma Gusti Allah. Setelah habis semua orang menerima azab di neraka, yang berbuat baik di dunia dapat balesan pahala..mungkin semuaaaanya kembali ke nol lagi."
"...."
"Jadi niatnya mbak berbuat baik itu apa? Sudah berusaha tapi masih diperlakukan nggak adil, itu enaknya gimana?"
"Udah tak takut-takutin lho mbak, yang suka ngatain itu..hayoo..gitu terus..mulutmu disiksa sampek ndak mbentuk di neraka.."
Aku tertawa terpingkal mendengarkan celotehnya yang dibarengi ilustrasi memakai wajahnya.
"Orang yang suka bantuin orang lain kayak mbak itu artinya memberikan energi, memancarkan untuk orang lain..jadi nanti bakal diisi ulang 'mbesok'.. Orang yang suka ngambil haknya orang lain dan tega, artinya menyerap energi. Soalnya kebanyakan nampung energi buat dirinya sendiri itu, makanya kudu dibakar di neraka. Paham ndak, mbak?"
Ia mengangguk. Mbak rewang tampak berpikir lagi dan meneruskan pekerjaannya. Ketika turun kembali dia kembali mengoceh,"Aku udah tambah tua."
"Oya jelas itu mbak, semua juga gitu. Hidup kan cuma sementara," sahutku mengalihkan kegalauannya.
"Aku kerja buat apa? Aku harus ngapain lagi? Aku ditawarin sekolah ngaji, mbak. Cuma 50 ribu kok, ah ngapain takpikir..lhawong uang bisa dicari. Mosok ditabung thok," cerocosnya.
Agak ajaib aku mendongak,"Oh lha terus?"
"Jamnya sama kayak jadwalnya ke mbak ela."
"Halah, ke rumahku mundur sejam."
"Gitu ya mbak?"
"Lho iya. Kan sejam to?"
"Iya."
"Sejam buat belajar ngaji. Syukur-syukur ngajari keluarganya kalau udah bisa. Waktumu pagi sampai malem full seminggu masa mau kerja aja?"
"Ndak, mbak. Hidup kan cuma sementara. Aku butuh 'sangu'."
....
Kecedasan seorang asisten rumah tangga kadang mengalahkan yang punya jabatan tinggi atau rentetan gelar, hanya karena budi pekerti yang tumbuh dan satunya dibiarkan kerdil karena pencapaian dunia penuh ego-diri. Definisi cerdas di sini berdasarkan Memeriksai 'Alam Kebenaran oleh H.O.S. Tjokroaminoto.
(psst, cerita ini ditulis dengan segala sensor dari masalah sebenarnya, tanpa mengurangi makna di dalamnya.)

Selamat berpikir! Semoga kita semua semakin cerdas. ^^

Kamis, 12 September 2019

Yatim Piatu

Olah rasa siang ini. Saat air mata ingin menetes di keramaian..
...
Menjelang 1 Muharram, aku dan teman-teman menghadiri istighosah oleh institusi. Aku dasarnya yang pethakilan langsung menyodorkan kepalaku ke arah teman-teman wanita saat mendengar,"Pas Suro ada anjuran mengusap kepala anak yatim........"
Kontan aja, nggak kredit ya wkwk, teman-teman langsung tertawa dan mengusap dengan kekuatan lebih. Bisa dibilang melampiaskan dendam, alias lebih ke kudu ngeplak daripada keberkahan dari Gusti Allah. Hahaha.
...
Beberapa hari lalu saat ada pendataan anak yatim dari pemerintah melalui RT, Bu RT sibuk meminta data anak yatim melalui grup whatsapp. Grup bagaikan angin musim kemarau khas negara di garis khatulistiwa. Kering dan panas. Tak ada satupun yang menjawab. Lalu satu ibu mulai mengajukan nama tetangganya, ganti yang satunya lagi, agak lama ada satu nama lagi. "Ayo..ayo.." batinku sebagai penonton yang tidak hafal nama anak kecil di sekitarku. Beberapa di antaranya anak titipan ke yangkung dan yangtinya, yang ku tak tau menau kondisi ayah ibu kandungnya. Tapi semuanya berakhir saat satu ibu mengajukan dirinya sebagai anak yatim piatu. Semuanya tiba-tiba kacau bagai pasar. Beberapa ibu mengajukan diri, sampai akhirnya Bu RT menyampaikan info tambahan usia maksimal 15 tahun.
Lalu sepi.
...

Oh, betapa tidak tau dirinya seseorang yang selalu minta dikasihani. Jika di atas langit masih ada langit, maka di bawah ketidakberuntungan akan ada kemalangan yang lebih. Atau jika kita melihat ini sebagai sebuah rancangan "kesempurnaan", maka setiap orang akan merasakan kesempurnaan sesuai rasa syukurnya. Akan ada bopeng dan kekurangan di sana sini di setiap diri manusia, tapi barangkali itu tidak akan dirasakan karena tertutup rasa cukup.
Akan ada saatnya seseorang merindukan ayah ibunya, tapi bukan menjadi alasan untuk bermanja-manja sepanjang waktu. Karena jika itu dilakukan, siapakah yang akan menjadi orang tua bagi adik-adik yatim piatu lainnya? Siapakah yang akan melanjutkan perjuangan ayah ibu, jika terus sibuk mengasihani diri? Anak kandung selayaknya juga jadi anak ideologis. Mengingat sejarah para tokoh dan anak keturunannya yang banyak gagal waris nilai-nilai kebaikan, mengapa aku menyerah? :)

#zelfbestuur #aksi
Madiun, dari balik meja, saat merindu orang tua, mengintisari buah pikir guruku, hingar bingar Aku Lala Padamu, dan seabreg kontemplasi.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Bukan Hanya Menerima, Tapi Meminta Maaf

Dini hari, 15 Agustus 2019. Aku begitu penat hati dan tubuh menghadapi kapitalis yang menyamar dalam tubuh ringkih dan praduga-praduga lainnya, menciptakan masalah yang seharusnya tak ada: prasangka buruk dari dalam diri untuk apa yang kuhadapi 7 jam lagi. Aku mulai berdoa untuk berserah, bahwa segala urusan duniawi hanya sementara, kalau Sang Sutradara berkehendak terjadi, maka terjadilah. Jika hilang, hilanglah. Jika mendekat, maka mendekatlah. Rezeki yang diusahakan memang lebih baik daripada diam meratap. Tapi jika sudah diusahakan, ia tak datang, maka cari, atau bahkan buatlah pintu yang lain! Buat apa pula meratap bersedih? Mempertanyakan doa, meragukan Tuhan akan mengabulkan permintaanmu, bukankah sama dengan menghinaNya? Itu ceracauku dalam hati sambil terkantuk terbentur-bentur kaca jendela kereta api yang kutumpangi. Hanya menerima. "Nerimo".
Di luar dugaan, dalam sehari, aku mendapat kesuksesan dan kegagalan di urusan yang berbeda. Sesungguhnya setelah kesulitan muncul kemudahan. Jadi kumenyangka kegagalanku dalam satu dimensi hidup adalah jawaban untuk meneruskan rencana lainnya. Sebagian besar keputusanku memang melibatkan intuisi, yang kunilai lebih unik daripada kecerdasan. Tidak, aku bukan anak jenius yang orang lain pikirkan, percuma juga memprediksiku atau memujiku atas sesuatu. Aku hanyalah manusia biasa. Aku hanya menempuh tujuan sama lewat jalur yang tidak biasa. Aku menerima keputusan Tuhan atas hidupku. Hanya itu. "Nerimo".
Siang hari, 17 Agustus 2019, aku terlibat diskusi dengan salah satu rekan aktivis. Beliau berkata dalam penanganan bencana, lebih sering dikaitkan dengan pikiran rasional dan meniadakan Tuhan. Tuhan hanya hadir untuk dzikir di akhir sesi penanganan trauma korban agar "nerimo". Tidak ada proses atau penyadaran meminta maaf kepada Sang Pencipta karena sains menganggap bencana terjadi pergeseran lempeng dsb, bukan karena cobaan atau hukuman dari Tuhan. Wow.
Hanya menerima, tanpa meminta.
Kapan ya terakhir aku minta maaf sama Tuhan saat ada masalah? Kapan aku mengucap istighfar dengan spontan saat ada bencana, atau sekedar hati merasa tak enak? Jangan-jangan nggak pernah. Aku selama ini hanya menerima, tanpa meminta maaf. Jangan-jangan aku memahami takdir masih secara terstruktur, hanya sebatas aksi-reaksi antarmanusia dan kasatmata. Jangan-jangan, iya. Aku lupa. Astaghfirullahal 'adzim. :(

Dalam persinggahan satu ke yang lainnya.
Mutiara Selatan, 17 Agustus 2019

Senin, 15 Juli 2019

Sakit

Rupanya gadis ini tak hanya sakit badan. Ia menangkap realitas nano-nano di sekitarnya. Bahwa ada orang yang menilai sebuah hubungan hanya sebatas materi, nama besar, dan perihal duniawi lainnya, masalah tanggung jawab adalah nomor belakang. Ada yang mendekat ketika materi berkilau disuguhkan padanya. Oh, seandainya mereka tau ada orang yang kerja tak berbayar, pasti hujatan GILA yang dilayangkan padanya. Ketika segala sesuatu di sekitar tubuh tak seiya sekata, maka sakit yang terasa, bahkan atom terkecil di dalam tubuh menolak. Proses, bukan hasil. Nilai, bukan materi. Aksi, bukan ngomong aja.
"Kenapa kamu marah-marah? Kenapa kamu gelisah? Tekanan itu datang darimana? Sekitarmu lho baik-baik saja," tanyanya pada diri sendiri.
Jawabnya sendiri, "Aku ingin merdeka! Aku ingin bebas! Aku ingin pergi dari sini, muak melihat segala politik yang mencarut marutkan ikatan darah. Politik pencitraan, sampai kapitalisasi ilmu. Bahkan teori ketidakpercayaan dan manusia utilitarian dalam akuntansi kutolak. Aku alergi, aku jijik. Aku ingin terbang melampaui ilmu itu sendiri, mencari kebenaran. Aku berjanji menyelamatkan dua orang agar dapat bertemu di keabadian."
Entah imam macam apa yang bisa mengendalikan gadis gila macam ini, mungkin lebih gila dan ekstraordinari. Huhu. Terlalu visioner juga membuatmu sakit, wahai gadis.
:)

"Muntahan" di sore hari,
ketika ketikan melampaui pita suara.
Madiun, 15 Juli 2019.

Senin, 01 Juli 2019

Reflektif Retrospektif


Ada gadis yang melongo mendengarkan penjelasan filosofis nan memerdekakan di kelas pengauditan. Sang Guru berkata, “…jadi kamu mau menangkap fenomena seperti apa? Apakah dalam kekakuan hubungan antarvariabel atau bagaimana? Apakah iya, realitas dapat dipahami secara demikian sederhana?” (kira-kira gitu sih ya, maklum si gadis pelupa wkwkwk)
Sang Guru tersenyum melihat 9 mahasiswa tampak berfikir di depannya, meskipun beberapa di antaranya mengakui secara tidak terang-terangan ra shanggup diajak mikir filosofis. Mau “naik” tapi apadaya “sayapnya” nggak mengepak kuat, karena memilih untuk mode hari biasa daripada untuk malam hari (mikir opo hayooo? Huahahaha).
Lalu, di lain kesempatan di kelas metodologi penelitian positif, dia kena bentak salah seorang professor, karena bertanya sampel di eksperimen. “GIMANA SIH, MANA ADA SAMPEL DI EKSPERIMEN?? KAN LANGSUNG DIUJIKAN KE SUBJEKNYA!” Sekilas amukan itu HANYA ditujukan untuk kegagalpahaman si gadis pada metode penelitian dan sempat membuat kecil hati atas sangkaan kebodohan diri, puadahalll…di kemudian hari ia sadar betapa laknatnya menguji coba sesuatu seolah peneliti adalah Tuhan dari pernyataan tersebut. Opo-opo diuji, dalam kerangka teori,”Cah kae tak ngenekne, kudune ngefek ngene.” Padahal iyo lek ngene, lek ngono? Hayo piye jal?? Wkwkwk
Positivist menangkap segala sesuatunya harus terukur, observable, nyata, logika. Wah gimana nih, AgnezMo yang go international aja sempat nyanyi Tak Ada Logika. Ndak logis ini, ndak ilmiah, ndak bisa ini, ndak bisaa! Hahaha. Kaum ini menyangka-nyangka sebuah kejadian hanya sesederhana kerangka teori. Kalau ada Y, maka ada X yang menganu-anu Y. Waini, anu-nya signifikan positif apa negatif yhaa~~~ gimana yhaa~~~ ditolak apa diterima yhaa~~~ hahaha. Padahal kalau si X punya pengaruh ke Y tapi R square nya kecil, nanti lak alasan, ada sesuatu di luar kuasa si peneliti. Terus ada “error” yang akan diterjemahkan sebagai hubungan X dan Y itu ndak jadi karena ada yang lain-lain. Lha lain-lain itu apa? Lagi-lagi peneliti akan mengatakan “itu semua di luar kuasaku”. Iyayalah, coy, semua yang terjadi ini atas kehendak Sang Pencipta. Terus, kamu ngatain kuasa-Nya sebagai error?
Bagaimanapun, ada Guru yang lain dari si gadis yang berkata bahwa masing-masing dari kita punya pandangan berbeda, bahkan dari penampilan sudah bisa dikira-kira dia itu “gimana”. Lho lak menduga lagi seh, padahal belum tentu lho. Si A pakai baju cerah karena dia bahagia dan cenderung feminin, padahal setelah ditanya ternyata dia suka pakai baju gelap karena dia maskulin (gender menurut Hofstede, sepurane lur, bukan merujuk pada pria wanita), namun hari itu dia pakai baju cerah karena baju-bajunya yang gelap belum garing di laundry. Yang tiwas menyiapkan indikator maskulin feminin dengan simbol 1-0 pada pengujian statistik mengira dia adalah laki-laki feminin dan menandai ia “nol” dalam maskulinitas. Kan nyakitin yha~~~ Lha kon sopo, kenal ora, nuduhan iyo. Wkwkwk. Menariknya Guru ini selalu mengajarkan “kamu sudah diajarin beberapa macam paradigma, kamu bisa jadi yang lebih paham dari yang kamu hadapi, sudah, ngalah aja. Atau cari alternatif cara menghadapinya. Lulusan sini, yang dapat mata kuliah Multiparadigma harusnya bisa ngadepin orang dengan lebih cerdas.” Si Gadis paham hal ini, tapi dalam beberapa hal ia tak dapat setuju begitu saja. Jadi idealis kadang tak dapat banyak teman, tapi sekalinya ada yang menemaninya, ia sekufu, sepaham, sevisi misi. Ndak kayak anak balita yang bisa diculik om-om atau tante-tante asing dengan tawaran es krim atau permen. “Maaf ya, yang lebih mahal, ada?”
#lho
#marikemanamana
:)))

Kamis, 20 Juni 2019

Kata Siapa Riset Tidak Mempengaruhi Pola Pikir Seseorang?


Pasti nak kanak kuantitatif dan positivist njawab,”Sayaaa!”
Wkwkwk
Jadi, pada suatu hari, di penghujung hari yang melelahkan jiwa raga menghadapi manusia dengan kepribadian berbeda (mulai jam 7 pagi kepanitiaan sampai ngajar, kepanitiaan lagi, ngajar lagi, bimbing skripsi, lanjut bimbing PKM sampai jam 7 malam nonstop dan setelah itu masih ditunggu kegiatan di lingkungan rumah), emosiku tak terkontrol lagi. Mungkin karena tekanan kanan kiri oke, sakit lahir batin datang bulan, ditambah bumbu pernyataan kurang bersahabat, kekecewaan dan kurang empatinya sekitar, untuk yang pertama kalinya aku marah. Aku tidak sabar dengan cara yang tidak elegan. Pernyataan,”Bu ela, semangat bu..” tidak berhasil meredam panas dalam hamba di kelas.
Saat sesi terakhir, pembimbingan PKM, entah menyimpulkan dari gerak gerik ibunya yang aneh atau ia sudah dengar dari anak kelas sebelumnya, ia bertanya. Menohok.
“Bu Ela, dapat berapa (Rupiah) kok dibela-belain sampai lembur gini, banyak ya bu?”
Aku ketawa dan menyebut tarif honorarium bimbingan skripsi per semester, karena sebelumnya dia menyaksikan ibunya membimbing kakak-kakaknya skripsi dengan yaaa…agak nggak sabar kayak biasanya.
“HAH? Terus ibu kenapa masih terus malem-malem gini?”
“Kewajiban moral saya mungkin,” aku tersenyum sambil mikir semoga anakku tidak mengganggap idealisku adalah bahan lelucon.
“Hweee..kan  itu rugi, bu. Dapet segitu, bu ela capek sampai lembur-lembur.”
“Itu kan secara materi. Tapi saya aslinya untung. Dapat pahala.”
“…”
“Kalau kamu nggak percaya saya untung, coba temuin malaikat yang sedang bertugas mencatat amalan saya. Tanya sana, saya banyakan dosanya apa amal baiknya.”
Ketiga anak yang ada di kelas tertawa.
“Bu ela ajarin saya pake aplikasi ini, bu. Ayolah bu, nanti saya janji ajarin yang lain, biar bu ela pahalanya tambah banyak kalo ilmunya mengalir.”
Ya Gusti Maha Pembolak Balik Hati, mood-ku yang anjlok seharian tiba-tiba kembali. Anak ini sedang berjuang menunjukkan kepada dunia bahwa kecerdasaan intelektual tanpa adanya emosional dan spiritual adalah percuma. Ia sedang berjuang melawan blok pikirannya sendiri bahwa berfikir out-of-gedebog itu bukan kesalahan dan keanehan, tapi keluwesan dan jalan menuju-Nya. Ia sedang melawan persepsi orang sekitar bahwa semuanya harus serba terukur. Ia sedang belajar menulis keluar dari paradigma itu-itu aja. Kalaupun ia kalah melawan kekakuan justifikasi positivist, ia tetap menang di hati ibunya. Ia menang melawan pola pikir sekitarnya dan seusianya. Ia justru adalah bukti dari apa yang ia tulis, yang orang-orang ragukan. Ia melampaui apa yang anak akuntansi bisa hitung, pendapatan – beban = laba/rugi.

Aku dan anakku, kepada siapa hatiku dan ilmuku kuwariskan.
Madiun, 19 Juni 2019