Tampilkan postingan dengan label Olah Rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olah Rasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Desember 2023

Si Paling Menderita(?)

Kadang, rezeki itu sesimpel...

Kena lampu merah melulu karena dihindarkan dari musibah;

penundaan bukan kegagalan, tapi sedang diselamatkan. Kalaupun berhasil cepat, memangnya sedang berlomba dengan (si)apa?

Didatangkan teman-teman yang mekso ngajak ketawa;

lalu membayangkan ada orang lain yang jauh menderita yang butuh bantuan dan penghiburan. Mungkin kita jadi alasan orang lain menghidupkan hidup!

Diperlihatkan daun gugur di jalan, yang tak mungkin bukan seizin Allah;

mungkin ini kelihatannya nasib jelek, tapi kita nggak pernah tau kalau kita sebenarnya SUDAH diselamatkan dari kondisi yang lebih buruk.

(Another random thought, 20-12-2023)

Selasa, 31 Desember 2019

23.23

Dua tiga dua tiga
Kapan atau dimana satu, aku tak tau
Suatu yang ganjil butuh digenapkan segera
Tapi yang digenapkan harus mengingat Yang Satu

Adalah salah selalu mengutamakan aku atau kamu
Ada keyakinan yang mengikat kepada Yang Satu
Aku dan kamu itu harusnya kita sebagai ummat
Tiangnya menuju Yang Satu adalah janji yang mengikat

Satu tak terlihat olehku
Ia berupa frekuensi satu-satu-satu
Sebelas kali
Ku membaca bunyi

Dua tiga
Satu
Satu

...hasil "membaca" Tarikh Agama Islam - H.O.S. Tjokroaminoto dan Membongkar Tiga Rahasia - Agus Mustofa...
biasanya angka jam kembar semacam 23.23 yang dilihat secara tidak sengaja diartikan sedang ada yang merindukan kita. Daripada berpikir tentang "diri sendiri", kenapa tidak merefleksikan ke hal yang lebih luas? :)
#Zelfbestuur #Aksi

Kamis, 12 September 2019

Yatim Piatu

Olah rasa siang ini. Saat air mata ingin menetes di keramaian..
...
Menjelang 1 Muharram, aku dan teman-teman menghadiri istighosah oleh institusi. Aku dasarnya yang pethakilan langsung menyodorkan kepalaku ke arah teman-teman wanita saat mendengar,"Pas Suro ada anjuran mengusap kepala anak yatim........"
Kontan aja, nggak kredit ya wkwk, teman-teman langsung tertawa dan mengusap dengan kekuatan lebih. Bisa dibilang melampiaskan dendam, alias lebih ke kudu ngeplak daripada keberkahan dari Gusti Allah. Hahaha.
...
Beberapa hari lalu saat ada pendataan anak yatim dari pemerintah melalui RT, Bu RT sibuk meminta data anak yatim melalui grup whatsapp. Grup bagaikan angin musim kemarau khas negara di garis khatulistiwa. Kering dan panas. Tak ada satupun yang menjawab. Lalu satu ibu mulai mengajukan nama tetangganya, ganti yang satunya lagi, agak lama ada satu nama lagi. "Ayo..ayo.." batinku sebagai penonton yang tidak hafal nama anak kecil di sekitarku. Beberapa di antaranya anak titipan ke yangkung dan yangtinya, yang ku tak tau menau kondisi ayah ibu kandungnya. Tapi semuanya berakhir saat satu ibu mengajukan dirinya sebagai anak yatim piatu. Semuanya tiba-tiba kacau bagai pasar. Beberapa ibu mengajukan diri, sampai akhirnya Bu RT menyampaikan info tambahan usia maksimal 15 tahun.
Lalu sepi.
...

Oh, betapa tidak tau dirinya seseorang yang selalu minta dikasihani. Jika di atas langit masih ada langit, maka di bawah ketidakberuntungan akan ada kemalangan yang lebih. Atau jika kita melihat ini sebagai sebuah rancangan "kesempurnaan", maka setiap orang akan merasakan kesempurnaan sesuai rasa syukurnya. Akan ada bopeng dan kekurangan di sana sini di setiap diri manusia, tapi barangkali itu tidak akan dirasakan karena tertutup rasa cukup.
Akan ada saatnya seseorang merindukan ayah ibunya, tapi bukan menjadi alasan untuk bermanja-manja sepanjang waktu. Karena jika itu dilakukan, siapakah yang akan menjadi orang tua bagi adik-adik yatim piatu lainnya? Siapakah yang akan melanjutkan perjuangan ayah ibu, jika terus sibuk mengasihani diri? Anak kandung selayaknya juga jadi anak ideologis. Mengingat sejarah para tokoh dan anak keturunannya yang banyak gagal waris nilai-nilai kebaikan, mengapa aku menyerah? :)

#zelfbestuur #aksi
Madiun, dari balik meja, saat merindu orang tua, mengintisari buah pikir guruku, hingar bingar Aku Lala Padamu, dan seabreg kontemplasi.

Minggu, 15 April 2018

Jam Pasir


“Hidup tinggal beberapa hari saja, masih kebanyakan permintaan.”
Kira-kira begitu kalimat kurang ajar yang kudengar hari ini. Bukan kalimat sinetron. Bukan pula orang berlatih drama.
Kalimat ini lebih jahat daripada vonis seorang dokter kepada pasiennya tentang usia tinggal setahun.
Betapa ekspektasian dan kalimat prediksi itu jahat. Dalam olah rasa mendalam, rasakan yang mengucapkan kalimat itu ingin mengalahkan Tuhan yang tau segalanya.
Jahatnya bukan main, tidak sekedar pengharapan ala remaja,”aku berekspektasi kau mencintaiku, dan nyatanya tidak.”
Betapa ekspektasian itu jahat. Terlalu berorientasi ke masa depan, terstruktur dan kaku membuat kita tidak menyadari adanya masa kini. Sekarang. Menikmati dan mensyukuri bahwa sekarang kita masih ada dan diberi kesempatan berbuat baik.
Betapa ekspektasian itu tega. Jika setiap orang sudah tau masa depannya, sudah tau kontraknya selesai kapan, tidak akan usaha di waktu sekarang. Antara dia menyombong layaknya Sang Pemilik Waktu atau dia akan menyerah. Ah, cepat atau lambat kan bakal mati. Justru sombong dan menyerahnya orang inilah yang disebut “kelumpuhan”.

Senin, 11 September 2017

Sedikit Lari Dari Kemapanan Konsep Diri (Panganan Opo Iki? Wkwkwk)

Sesuai dengan judulnya, ide tulisan ini terangkat dari jurang imajinasi (percayalah imajinasiku sering membuat geleng-geleng daripada angguk-angguknya :D ) di saat aku lari pagi. Mungkin kita sedikit basi mendengar guyonan “lari dari kenyataan”, tapi lari pagi ini benar adanya merupakan pelarianku dari naiknya berat badan. Hihi.

Beberapa blok kulewatin dengan bekal musik jedag jedug sampai akhirnya kaki melangkah di depan rumah guru olahraga pas jaman SMP. Langsung ingat betapa sakit hatinya dulu pada saat aku dibully karena kegemukan. Kalo dipikir lagi sekarang sih malah lucu ya, kan nggak semua orang terlahir dengan badan kerempeng atau ala pragawati, trus ngapain aku dulu ikut marah-marah geje sampai merutuki diri sendiri karena dikatain orang? Aku masuk menghina ciptaan Tuhan dong ya.. :)

Seorang guru olahraga boleh saja meremehkan anak overweight karena tidak sesuai dengan kriteria “sehat” menurut pandangannya. Beliau kan nggak tau perjuangan anak bongsor dalam mengatur pola makan. Sampai aku pernah kena gejala tipus 3 kali. Mungkin kalo sekali lagi kena, aku bisa dapat hadiah kulkas. Hehe. Beliau nggak tau dan nggak mau tau. That’s the problem.

Itulah definisi kesombongan diri. Kita kadang terlalu memegang teguh apa yang kita anggap benar, sampai menyalah-nyalahkan pandangan orang lain. Kita kadang meremehkan orang lain tanpa memandang usahanya, dan lebih beriorientasi hasil yang tampak. Kita sibuk berbangga diri karena standar diri terlampaui, mengklaim “berkat aku maka ada sesuatu”, ih emang situ Tuhan? Mak jedyer, kun fayakun? wkwkwk

Lain cerita, sore ini aku dan salah satu kolega bercanda tentang pemaknaan teks. Aku dengan khayalan yang bikin geleng-geleng itu mulai bercanda nggak karuan. Tanpa berniat dan berprasangka buruk, dia bertanya kepadaku yang kira-kira,”Kok bisa sih kayak gitu salah interpretasi?”.
Kujawab,”Lho dulu item pertanyaan kuesionerku pas penelitian aja bisa salah dimaknai (sama responden) kok, bu.” Ya, apalagi pernyataan atau kondisi umum. Masing-masing orang memiliki kemampuan berbeda dalam memahami, kecerdasan, emosional, pengalaman, latar belakang keluarga, lingkungan, teman-teman yang diajak bertukar pikiran, dan banyak hal lain yang berbeda.
Aku nggak mau sok iyes memprediksi kemampuan seseorang untuk meyakini sesuatu, karena kuyakini determinan suatu hal itu tak terbatas jumlahnya, hanya Tuhan yang tau. Daripada aku harus menyebutkan istilah “error” layaknya paradigma statistika. Mau dibagi menurut pandangan orang yang selalu berpikir positif dengan yang buruk itupun memuat banyak dimensi. Kita bisa saja menganggap orang yang terlalu pasrah atau berlindung mengikuti arus sebagai orang yang lemah dan terlalu positive thinking menghadapi segala hal sampai pada hal yang sifat menjajah dirinya sendiri. Kita bisa saja menganggap orang yang cerdas dan visioner sebagai orang yang selalu menangkap hal buruk dari segala sesuatu sehingga kita mengatainya orang garis keras, nggak santay beudh atau selalu negative thinking. Mau nangkep dari dimensi terlalu positif atau terlalu negatif juga bisa. Kebiasaan bisa mengakar sampai level overdosis, menangkap segala sesuatu selalu baik atau selalu buruk, padahal yang keterlaluan itu tidak baik.

Pusing nggak nih? Hihi.

Kesimpulannya, jangan sok iyes. Bisa aja kamu salah, sisakan kemungkinan yakinmu tidak tepat. Bisa aja dia yang salah, atau mereka, atau kami, bahkan kita yang salah. Seluas-luasnya pandangan, masih ada yang lebih luas. Kamu nggak tau yang ia atau mereka alami, pembentuk “ia” atau “mereka” yang menyebabkan munculnya keyakinan tertentu.

Ah, kayaknya yang baca tambah pusing. Akupun pusing saat mengurai ideku kali ini. Hihi. Tulisan perdana setelah melalui masa kehilangan sang surya, yang diangkat dari jurang imajinasi dan beberapa pengalaman yang diizinkan melintas yang tak bisa kusebutkan satu per satu. Hahaha.
Semoga menjadi pelajaran untukku untuk selalu menjaga asumsi, perbuatan, dan lisan.

Senin, 26 Juni 2017

Berhala Gaya Baru: Menyembah Ego

Ujian kehidupan itu tak mesti yang tampak nyata atau hadir pada tema besarnya. Ada hal-hal yang kita pikir “wajar”, tapi Yang Satu mulai diduakan.

Mamaku pergi untuk selamanya. Lebih dari kehilangan sosok mama jasmaniyah, aku sempat trauma pada detik-detik mama dicabut nyawanya. Saat memori itu lewat, nyawaku tercerabut. Setiap pagi aku menangis, semakin keras saat orang-orang ingin tau cerita detilnya saat takziah. Aku mati rasa atas hingar bingar Lebaran. Setiap dari kita pasti pernah patah hati. Rasanya kali ini, milyaran kali lebih menyakitkan.

Patah hatiku mengganda saat melihat papa berteriak histeris saat mengenang mama. Kupahami, mereka lebih dari sepasang suami-istri, mereka rekan seperjuangan, kakak dan adik yang saling memanjakan dan menjaga, teman belajar otodidak, cinta pertama dan terakhir. Papa merasa karenanyalah, kesehatan mama memburuk, yaitu saat papa ditakdirkan menjalani kemoterapi. Kenyataannya adalah, tanpa papa ketahui, tahun lalu mama pernah bersumpah nyawanya seperti dicabut saat papa sakit. Di sinilah isak tangisku muncul lagi dan lagi karena pada waktu dan tempat yang berbeda, keduanya saling menyatakan cinta dan sayang melalui diriku. Keduanya saling jaga, saling rindu. Kehilangan salah satunya, aku seperti dipukul mundur, lebih baik mengurung diri atau menyibukkan diri sampai aku lupa kenapa aku harus bersedih.

Aku di sudut hatiku yang paling dalam mengajukan protes kepada Tuhan, kenapa mama diambil sebelum aku bisa memberikan sesuatu yang berarti, kenapa aku tak diizinkan terlebih dahulu minta maaf sebanyak-banyaknya, kenapa aku tak diizinkan menikah dengan mama di sampingku atau setidaknya mama mengenal calon mantunya, kenapa aku tak diizinkan menyandang gelar Doktor..kenapa... Keadaan semakin parah karena aku tau mama adalah wanita sederhana dengan segudang cita-cita. Aku terus menangisi kesempatan-kesempatan yang tidak diperoleh mama. Aku yang ekstrovert berubah menjadi introvert, malas berbicara. Tapi lagi-lagi, menjelang subuh, aku kembali menangis dan mengomel. Tuhan kali ini mengizinkan adik mama satu-satunya untuk tinggal beberapa hari bersamaku. Ohya, aku hanya tinggal berempat di kota kecil ini: mama, papa, aku, dan kakak. Seandainya tidak ada orang terdekat yang kuajak bicara selama beberapa hari semenjak mama tiada, mungkin “ela”-lah yang tiada. Biasanya mama yang mendengarkan ceritaku, segalanya.
Lukaku masih belum sembuh benar saat tante harus pulang. Kini aku sendirian harus menjaga dan membesarkan hati papa. Kami menangis berdua saat tamu menanyakan cerita itu lagi. Kami menangis saat kami tidak sengaja memanggil mama saat kami tak bisa melepaskan kebiasaan pamit atau mengajak semua anggota keluarga untuk melakukan suatu hal bersama-sama.

Sampai suatu saat..
Aku merenung dan bertanya darimana datangnya kesedihan ini.

Aku adalah orang mengikuti kondisi kesehatan mama, tau betapa sakitnya mama pada saat terakhir dan betapa lemah kondisi mama setahun terakhir. Mama meninggal layaknya orang tertidur, cantik. Saat menatap jenazah mama, aku membayangkan mama yang terbebas dari tubuh renta dan segala rasa sakit itu. Mama selalu menahan sakit itu sendirian, sebelum mau bercerita kepada orang lain. Ketika ada kalimat ucapan duka cita yang bilang “Allah sayang mamanya Ela”, aku mengartikannya sebagai pembebasan dari segala sakit duniawi. Anak macam apa yang tega melihat orang tuanya kesakitan? Jika pengobatan dan doa adalah cara mencapai kesembuhan, bagaimana jika dicabutnya nyawa adalah cara satu-satunya mengakhiri rasa sakit? Mahluk macam apa yang menentang keputusan Tuhannya? Dan aku.. Aku ingin menunda lepasnya nyawa dan badan karena pencapaian-pencapaian dunia yang ingin kutunjukkan pada mama. Aku yang menginginkan mama masih di sini karena aku ingin melihat wujudnya mendampingiku, tanpa mengetahui penderitaan macam apa mungkin disimpan mama. Semua itu soal egoku, (mungkin juga) ego mama. Aku berusaha menawar, menentang, mempertanyakan keputusan Tuhan, karena ego. Seolah ego lebih tinggi derajatnya daripada Tuhan.
Pada saat mama tiada, aku baru mengetahui betapa mama bangga atas pencapaianku selama ini, betapa mama baik kepada sesama dari pendapat orang lain. Kusangka mama belum begitu puas, ternyata mama bangga. Dapat kusimpulkan, umur memang terbatas, kebutuhan pencapaian duniawi jika dituruti jadinya memabukkan, namun amal dan perbuatan akan dikenang.
Diambilnya mama dari dunia adalah takdir, kewajibanku kini adalah menyelamatkan mama dari sempitnya kubur, serta menjaga papa layaknya mama. Egoku harus diselesaikan melalui perjuangan. Ego mama harus dituntaskan melalui mengalirnya nilai-nilai kebaikan dari mama untukku, dan untuk semesta. Ada alasan kenapa seorang Cahaya lahir dari rahim Matahari. Semoga Allah merestui perjuanganku.
Aamiin.


Dalam kenangan tak terbatas,

Mama, Suryaku, Suryaningsih.

Kamis, 27 April 2017

Cinta Dalam Pandangan Saya

Pernah aku tak mau mendefinisikan jatuh cinta itu apa.

Pandangan ilmiah menyatakan jatuh cinta itu proses membau wanita kepada pria sehingga memicu bla bla bla..

Zat dalam coklat juga dipercaya setara dengan hormon tertentu saat jatuh cinta. Kehadiran seseorang masa seharga sebatang coklat? Hihihi.

Ada pula yang membuat seminar cinta untuk politisasi penemuan jodoh. Sampai majalah remaja dan artikel daring pun acapkali menyediakan tips cara memikat si dia dan ciri-ciri ia jatuh cinta padamu.

Motivator membuat pernyataan jika tidak kehilangan logika, bukan cinta namanya. Ah, jangan-jangan ini cinta buta atau kebenaran yang ditangkap dari pengalamannya semata.

Para wanita lajangpun sibuk membicarakan kriteria pria yang ideal menjadi jodohnya. Padahal semakin tua, semakin kurasakan perasaan itu tak bisa tercipta semudah melengkapi checklist.

Ada yang bilang, ia yang rela menunggumu dan menghubungimu setiap saat adalah mereka yang mencintaimu penuh kesungguhan. Aku bertanya, apakah yang semacam ini akan berlangsung selamanya? Jika sudah seatap seiya setidak sekata sekalimat separagraf janji suci, yakinkah tidak merasa bosan? Padahal manusia tercipta tak ada yang sama. Berusahalah sesuai ukurannya. Kadang aku menjumpai cerita orang pacaran kalau makan suap-suapan, setelah menikah malah nggak ada romantisnya. Lucu. :D

Kuamati pasangan yang melalui tahapan bertemu setiap hari, berbincang setiap kesempatan, lalu pacaran. Pacaranpun kalau putus seolah aib jika menjomblo terlalu lama dan tidak segera menemukan yang baru. Mengapa memangnya kalau tidak melalui tahapan itu? Misalnya cara yang semi nonmainstream seperti mengetahui keluarganya, lingkungannya, atau yang super aneh, yaitu berdebat sampai tingkatan langit ketujuh terlebih dahulu? Kupikir itu lebih adil, karena segala pencitraan berlebihan tak diberi kesempatan. Mengapa selalu mengandalkan analisis yang tampak, sedangkan wanita unggul dalam berfirasat? Hehe.

Pada beberapa orang yang sakit hati, kutemui rasa tidak percaya akan masa depan yang masih suci. Masalah lama dan cinta searah masih diungkit, seolah hal itu adalah sampel untuk populasi: semua lawan jenis di dunia sama aja. Aku kayaknya pernah nulis, kalau waktu ga akan pernah menyembuhkan luka, kalau dirinya sendiri ga berusaha. Trus nanti datang tuduhan sama orang yang sudah menguasai ilmu feel free kayak aku, dikiranya ga pernah jatuh cinta, ga normal. Lho jangan salah, setiap orang yang datang di hidupku, apapun niatnya, apapun ceritanya, membantu mengasah “berlian”ku kok. Hehe. #ifyouknowwhatimean

Pertanyaan terakhir, apakah perilaku seseorang is always to predict and to explain? Karena kalimat-kalimat yang kutulis di atas itu sifatnya teori, kesimpulan manusia, tak mesti berlaku untuk semua keadaan.

Aku tak pernah merencanakan kepada siapa aku tertambat.

Pernah ku mengetik kata-kata indah, lalu kuhapus karena malu atau kecewa.
Mengapa?
Kupikir aku yang labil. Ternyata aku membongkar teoriku sendiri. Tak ada yang abadi. Perjalanan harus bergerak maju, siap direvisi, agar tak terkungkung dalam satu paradigma. Haha. Kalau ngeyel di situ-situ aja, udah sempit, kuno, egois lagi. Hehehe.
Eniwey, saya menertawai Ela sebelum detik postingan ini dibuat. Kalau mau ketawa bareng-bareng, nggih monggo.. :D

---

Karena kujatuh cinta, kujadi bertanya. Tak jadi menjawab, namun terus mencari. Kini, tak pernah kurencanakan aku tersipu karena apa, hal-hal kecil terkoneksi pada siapa, bahkan ia tak mungkin tau betapa kagetnya aku oleh hal-hal sepele –bagi orang lain- namun gencar membuatku tersipu.
Kalau kuminta hal serupa terjadi padanya, ah aku transaksional. Salah satu sifat yang kubenci, karena memicu ada apanya, bukan apa adanya.

Aku dalam kepasrahan mendalam, memohon keselamatan kepadaNya untuknya. Kalau memang ditakdirkan bersatu, ya dia akan melamar karena keyakinan mendalam soalku. Jika tidak? Ia diberi keraguan untuk menyelamatkan kami dalam jalan masing-masing.

Bukankah segala yang terjadi atas kehendakNya? Ia akan memantik api kesungguhan, hanya karena Ia lah segalanya padam. Jatuh cinta itu rezeki, aku rahmat baginya, ia rahmat bagiku, berdua memeluk semesta.

Cinta, dalam sudut pandang wanita (yang seperti saya).

Selasa, 14 Februari 2017

Komedi Anak Akuntansi

"Lho katamu aku disuruh tunggu di gedung F, malah kamunya udah di gedung G. Aku udah di sini, kamu suruh tunggu di sana? Gimana sih?"kataku.

"Lho aku nggak maksud gitu. Kecepatanmu untuk datang lebih daripada permintaanku untuk nunggu. Jadi ya udah, kita ketemu di sini." justifikasinya.

"Oke, stop! Kamu tau siapa yang salah di sini?" balasku.

"Siapa?" tantangnya.

"Gaya gravitasi! Gravitasi hatimu membuat aku cepat ketarik ke sini. Ke ruangan ini."

EAAAAAA..

sementara ituu.., adik-adik di ruangan itu yang mendengarkan celotehku dan sahabatku (cewek) langsung nyeletuk,"Aku pusing dengerin mbak berdua ini."

Bwahahahaha

-----------------------

Berfikir jauh ke depan itu penting, tapi menikmati ke-disini-an dan ke-sekarang-an itu lebih penting. Transkrip percakapan ini ditulis saat aku berpikir apakah derai tawaku tadi adalah yang terakhir di kota ini, bersama sahabatku?

Sebuah cerita dari bunga dan pohon di taman yang sama.
Terima kasih telah berjuang bersamaku, AIK.

------------------------

Peringatan:
Jangan pernah berharap wajah kami serius, karena hahaha.., ekspektasimu mungkin jauh lebih tinggi daripada kenyataan, tentang anak pascasarjana, bu ibu dosen, filsuf, atau apalah sebutannya. :D

Senin, 13 Februari 2017

Kehilangan Makna

Saat hujan,
dalam perjalanan pulang..
Aku baru menyadari jalanan lebih lengang, padahal di jam yang sama, sama-sama hari kerja.
Yang membedakan hari ini dengan hari-hari itu adalah.. hujan.
Lalu aku terbahak, apalah gunanya mobil, kendaraan beratap..jika dibandingkan dengan sepeda motorku. Apalah gunanya jas hujan.. Apalah gunanya payung..
Kenapa hujan begitu menakutkan?
Dengan kata lain, mobil kehilangan fungsinya untuk melindungi pengendara dan barang-barang di dalamnya dari cuaca.
Jas hujan dan payung juga kehilangan fungsinya untuk jadi alat bantu menembus hujan, hanya karena orang-orang takut basah.
Takut basah. Takut keluar. Terlalu banyak ketakutan yang menghalangi kita bersenang-senang.
Waktu untuk pulang dan hujan tak terlalu deras, mau takut apa lagi? Takut baju basah dan make up luntur? Buat apa? Rumah adalah tempat yang hangat yang menerima kita apa adanya. Mau sampai ke rumah dengan acak-acakan, pintu itu akan selalu terbuka. Jika ada orang yang kusayangi menunggu di rumah, buat apa menunda pulang? tidakkah kau khawatir bahwa ia (mereka) di rumah mencemaskanmu? Sepadankah dengan hujan yang tak terlalu deras?
Ah, sudahlah. Belum tentu mereka yang berkendara lebih elit padaku bertujuan pulang. Bisa jadi mau belanja, jalan-jalan, tak punya tujuan, atau tak punya rumah yang hangat. Jangan-jangan pandanganku yang terlalu normatif. Yang seharusnya. Lho, tetapi kan aku melakukannya.

Lebih kasihan lagi jas hujan dan payung. Dibeli tapi belum tentu dipakai. Dicari tapi kehilangan makna intinya.

terpekik kegirangan saat melintasi genangan,
penutup dalam bab perjuangan kali ini,

Cahaya.

Keakuan

Aku. Aku. Aku.
Dunia hanya untukku.
Kubagi sedikit untuk yang lain.
Agar aku terlihat dermawan.
Aku. Aku. Aku.
Apalah arti kita, jika aku lebih daripada kamu.
Jika kusedih, kau kawan.
Jika bahagia, kau kulupakan.
Aku. Aku. Aku.
Aku adalah prioritas.
Pentingmu tak pantas.
Aku aku. Kamu kamu.
Aku. Aku. Aku.
Pokoknya aku.
Kau mengadu pada Tuhan?
Aku lebih sering menyebutnya dengan fasih, nyaring.
Kau bisa lihat kan?
Tuhan pasti akan berpihak padaku.
Aku. Aku. Aku.

Baiklah..
Semuanya ayo bersorak... Aku. Aku. Aku.
Bahkan dunia punya hak berhenti berputar.
Buat apa terus mengelilingi tata surya,
manusia cuma bisa menyampah.
Tabrakkan saja ke mekurius atau venus.
Karena aku ya aku.

..sebuah ucapan bela sungkawa tentang keakuan yang tinggi.
Langkanya kami, kita, kalian, mereka, dan empati yang memanusiakan manusia.

Jumat, 15 Juli 2016

Mengalahkan Kecerdasan Seorang Wanita

Entah kenapa obrolan sore bersama seorang kawan membuat jariku ingin mengelus laptop. WIDAAA, KAMU KUSEBUT LHOO.. *lalu aku dilindes motornya agar bungkam* wkwkwkwk

Riset menyatakan kecerdasan anak diturunkan sekitar 75% dari ibunya dan 25% dari ayahnya. Mendengar hasil riset, harusnya pria lajang berlomba-lomba mencari wanita single cerdas.
Tapi nyatanya wanita cerdas disegani, bahkan ditakuti. Apalagi yang gelarnya sepanjang coki-coki, sekolahnya setinggi langit di angkasa. Meskipun tak bertitel bukan berarti tak cerdas. Mamaku contohnya, gadis lulusan SMA yang mengabdikan dirinya untuk keluarga. Kan nggak mungkin kakakku, si juara bertahan dari SD sampai kuliah, mengambil DNA tetangga atau ibu-ibu yang numpang lewat depan rumah. Jadinya ntar FTV Anakku Bukan Anakmu. Eh? wkwkwk

Aku sering kok diganggu, sampai dibully kaum adam, karena dia merasa "senior". Biasanya setelah tau aku anak pasca, dia bungkam. MAS, NGGAK TAU AKU ANAK SIAPA HAH??? uwuwuwuw.
Padahal kan niatku jujur. Aku anaknya ga sombong kok, serta suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Eh, malah sononya yang kayak ganti kebully. wkwkwk.

Selain perkara gengsi, ada juga pria yang segan ngibulin wanita cerdas. Lho, cari partner sehidup semetong, apa nyari "calon korban penipuan" sih? mwahaha.
Aku jadi ingat kajian pranikah beberapa minggu lalu. Garis besarnya adalah kita perlu menentukan tujuan kita dalam mencari pasangan, apakah mencari yang cocok dengan diri kita.., atau mencari seseorang yang dapat menjadi ayah (ibu) anak-anak kita kelak.
Maksudnya, kita diajak menjadi visioner. Kita membayangkan versi yunior dari seseorang -yang jadi target kita- dengan segala sifatnya yang melekat di dirinya. Sifat anak kan pasti didapatkan dari orang tua. Nah, bayangin mbesok anak kita kayak apa kalo sifat orang tersebut menurun. Kupikir, ini juga perkara kecerdasan.
Bedanya dimana? Ya kalau para pria mementingkan gengsi ya harus cari yang wanita yang level kecerdasan di bawahnya. Kan biar cocok sama maunya.
Kalau pria tersebut mampu berpikir visioner, ya pasti cari wanita yang -kalo bisa- lebih cerdas daripada dia. Untuk Indonesia yang lebih cerdas, mas~ uwuwuwuw~


Terus, menyoroti perkara gengsi.. Pria takut kalah debat? Itu mau lomba apa nikah sih? hahaha.
Takut dikudeta? Buset dah, kecerdasan ada 3 lho. Intelektual, emosional, spiritual. Seseorang dengan kecerdasan emosional dan spiritual tinggi tak mungkin menyakiti orang lain memakai intelektualnya.
Takut ga bisa naklukin? Setiap wanita punya perasaan yang bisa kamu kuasai dulu, sebelum menundukkan dia, secerdas atau sehebat apapun ia. Eaaa..


Dari tempat legalisir ijazah dengan cinta,

anak manis

Senin, 04 Juli 2016

Harusnya Tak Berakhir

Bagiku Ramadhan itu [harusnya] tak berakhir dalam 2 hari. Karena kalau di-cut-off begitu, kebaikan super yang kita usahakan [inshaallah] sepenuh hati dan totalitas di dalam bulan ini akan menurun atau tiada di bulan-bulan selanjutnya. Bulan Ramadhan itu masaku untuk belajar. Bulan-bulan selanjutnyalah yang merupakan ujian. [Kurasa] Bodohlah aku di depan Tuhanku jika aku melupakan pelajaran sabar dan ikhlas di keseharian, hanya karena hari itu bukan termasuk bulan Ramadhan.




Fajar di tanah kelahiran,

mahlukNya yang mencoba mengurai huru hara pikiran dan haru biru perasaan.

Minggu, 19 Juni 2016

Jari Menari

Menulis dan mempublikasikannya...
..adalah salah satu caraku melepaskan sesuatu yang jalan-jalan di dalam kepalaku, agar ia berlari keliling dunia.
..adalah salah satu cara mengabadikan sesuatu yang kasat mata, yang terbuat dari perasaan dan pemikiran.
..adalah salah satu memperkenalkan diriku kepada dunia, karena menurutku mengenal seseorang tak cukup dari kehadiran secara fisik, namun substansiku juga perlu diketahui bagi mereka yang peduli padaku. Namun, ide tanpa perwujudan juga kuanggap tak utuh.
..adalah caraku mengungkapkan dengan mendalam, daripada melihatku sedih atau tertawa, bahkan saat mulutku terkunci. Biar jariku yang bergerak. Namun, yang terdalam masih ada di hati. Tulisan hanya penawar untuk yang teracuni, penenang untuk yang bergejolak.
..adalah latihan keberanian dan tanggung jawab. Layaknya saat berbicara, ideku belum tentu diterima, dimengerti, sebaik apapun niatnya. Berbicara lewat tulisan pun harus diniatkan tak menyakiti dan diungkapkan seelegan mungkin.
..adalah latihan mengerti tulisan orang lain. Tak perlu mengusik yang galau, tak usah menghina yang berbeda, tak usah berprasangka yang aneh-aneh. Kalau aku tak ingin dikomentari yang menyakitkan, ya jangan membegitukan orang lain. Aturan yang kusepakati dengan diriku sih begitu, walau kadang masih sering "mirroring". Dasar melankolis! :))
..adalah caraku berpikir ulang. Emosi yang dituliskan itu lebih lambat daripada yang terucap. Dengan menulis, kadang membuatku berpikir dua kali. Tidak jadi diposting? Oh sering! Lebih baik tidak jadi, daripada terlanjur dan menghapus. Wanita pun belajar bersikap kesatria, walau lebih mementingkan perasaan daripada logika.
Akhir kata, sebagian duniaku ada di tulisanku. Selamat menonton tarian jariku. Tapi ingat, ini cuma pecahan diriku. :)

Jadi, kamu sudah menulis apa hari ini?

Senin, 13 Juni 2016

Ngepoin Diri Sendiri

Menghirup udara malam, kuberusaha mengusir keterdesakan.
Terdesak rindu, namun tak berpenghubung. Oh Tuhan, syukurlah aku masih punya cinta.
Terdesak kewajiban, namun waktuku terbatas. Syukurlah, aku punya rasa tanggung jawab.

Tapi, tunggu.. Kenapa aku merasa terdesak? Apakah aku sedang tak bahagia?
Bahagiaku sepertinya dimakan kekhawatiran.
Khawatir tak dicintai, mungkin.
Khawatir tak menyelesaikan kewajiban dengan baik, mungkin.

Kenapa aku khawatir?
Apakah keikhlasan di dalam diriku sedang anjlok?
Karena aku takut ketidakpastian dan efek remuk redam saat menghadapi hal terburuk?
Karena aku takut rencanaku tak indah lagi saat realisasi?

Karena ikhlas menerima tak semudah ikhlas saat memberi, kawan. Ikhlas menghadapi ketidakpastian. :)

(Sebuah contoh mencari sumber galau, semoga aku menuliskannya dengan elegan. Hehe..)

Minggu, 15 Mei 2016

Kau Mencintaiku dengan Istimewa

Entahlah, perasaan apa ini.
Dari sekian perasaan aneh, bagai dinosaurus (bukan kupu-kupu biasa) terbang di rongga perutku, kali ini aku tak berusaha mengenyahkannya. Hihihi.
Hanya saja kali ini, aku membalik perspektifku, mungkin saja peningkatan atas kesadaranku.. bahwa segala rasa atau kejadian yang datang adalah jalan yang mendekatkan aku pada penciptaku.
Khilafku dulu, aku baru mengingat Tuhan saat ada momen tertentu, misal jatuh cinta atau jelang ujian. Duh, maaf Tuhan.. Aku meng-intervening-kan Engkau.
Maaf maafkan aku...
Aku baru memohon lebih daripada biasanya, menyebut namaMu lebih sering daripada biasanya, karena aku ada maunya. Huhuu..

Sekarang, kusadari segala urusan duniakulah yang menjadi alat atau cara untuk lebih mencintaiMu. Susah senang, tawa tangis ada karena Engkau ingin mengajariku sesuatu. Terjadi atau tidak terjadi suatu peristiwa istimewa, aku kini menghadirkanMu. Mungkin karena itulah, meskipun ada kupu-kupu segede dinosaurus gentayangan di perutku, hatiku tetap tenang. Kesabaran tertinggi yang ada di dalam hidupku. Atau mungkin kepasrahan?
Karena kuyakin, segala yang berasal dariMu, akan kembali padaMu.

Setelah semua perjalanan itu.. Ceritaku mungkin tak seperti orang kebanyakan. Karena kurasa Engkau mencintaiku dengan cara yang istimewa. :)