Tampilkan postingan dengan label Puisi Si Anak Manis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Si Anak Manis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2015

Menggores Kacamata

Sore ini..
Di lindungan sebuah atap di dasar kawah..
di bawah langit yang menangisi kisah kita..
Kita bercerita tentang menemukan dan kehilangan.
Jauh dan dekat.
Kasih sayang dan kekecewaan.
Aku katakan sekali lagi judul sub bab dari novel favoritku,
orang yang membuatmu kecewa adalah orang yang paling kamu sayangi.
..kita tak pernah paham perasaan orang lain.
Tidak akan pernah.
Perkara sudut pandang akan selalu menjadi perkara,
pengadilan yang kasat mata, langsung dari perasaan.

Dalam kisah yang berbeda,
kita bicara tentang cara menghapus goresan di kacamata orang.
Bahkan yang tak sengaja kita lakukan.
Seseorang pernah berkata padaku, kacamata hancur bisa diperbaiki, kalau hubungan itu yang susah.
...karena kita tak pernah mendengar senyaring apa raungan seseorang yang tergores perasaannya.
Yang bisa kita lakukan adalah menjadi kesatria: meminta maaf.
Di posisi yang terkecewakan, meminta maaf itu jauh lebih gampang daripada memaafkan.

Di antara cerita kita..
Di tengah isakan langit..
Kita mengenal tentang menemukan dan kehilangan.
Jauh dan dekat.
Kasih sayang dan kekecewaan.
Harapan. Cinta.
Kita mendewasa darinya.

Bahwa tak ada satupun yang abadi di dunia.
Jika cinta dapat menggelora dalam waktu yang terbatas, (seharusnya) begitupun dengan amarah.
Maju.. majulah ksatria..


Dariku, untukmu dan aku. :)

Jumat, 09 Januari 2015

Mana Aku Tau

Mana aku tau akan berada dimana.
Siapa yang tau aku akan jadi apa.
Aku di sana setahun lalu takkan menyangka ada aku yang di sini hari ini.
Aku datang untuk menemukanku yang menujuNya.
Mampirku tak lama, sia sialah jika tak menjadi siapa siapa.
Bukan mengenai yang tampak, tapi yang ada di dalam,
yang di luar hanya bungkus dari cita rasa kehidupan.

Aku mencari isi untuk yang hampa,
untuk nantinya menjadi kosong kembali.
Titipan untukku di dunia masih tercecer,
terkumpul akan menjadi bekal.
Untukku.
Untuk kebaikan.
Untuk pertanggungjawaban mengapa aku di dunia.

Semoga berkah.
Semoga bertemu dengan yang kucitakan.
Semoga akan dibimbing oleh yang maju beriringan.
Aamiin.

Sabtu, 03 Januari 2015

Fenomenologi in Love

Ini soal bagaimana kamu menerjemahkan suatu simbol.
Tuhan menciptakan skenario,
Alam menyediakan petunjuk,
Seberapa berarti bagimu itu masalahnya...

Ketika suatu simbol yang dapat merupakan sampah bagi yang lain,
bagimu itu dapat mendegupkan jantungmu lebih cepat.
Itulah cinta.. dari perasaan terdalam.
Itulah perasaan yang membuatmu tersesat dalam labirin.
Pengingat tentang rasa yang terpendam.

Semesta seolah menggodamu saat semua tampak sepertinya,
semua pertanda mengarah padanya,
oh, mungkin ini letak kebutaan dalam cinta,
selama logikamu tidak hilang, kau tak benar-benar jatuh cinta.
Jatuh yang tak menyakitkan,
Karena yang berlaku hanya gravitasi bulan,
kamulah air laut yang sedang pasang.

Cinta yang paling berbahaya adalah cinta yang tak pernah surut oleh waktu.




Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang pernah merasakan hilangnya logika.
*kedip penuh arti*

Jumat, 26 Desember 2014

Normatif Romantis

Kasih sayang itu hangat menggelora,
namun tak membakar.

Sejuk,
namun tak membekukan.

Memeluk,
namun tak meremukkan.

Nyaman.

Lembut.

Layaknya sebuah selimut,
yang tiba-tiba menyelubungimu saat jari-jarimu mulai kaku membeku.

Ada energi di dalamnya.
Kemauan untuk melindungi, yang mampu mengusap tangis, sembuhkan lara.

Kerinduan adalah dahaga.

Tatap mata memacu detak, perlakuan memicu decak.

Tak ada keraguan ataupun ketakutan,
karena kamu percaya dengannya kau aman.
padanya kau titipkan hatimu.
bersamamu ia isi harinya.

Tanpa kau mengemis, ia mengakui,
kaulah bidadarinya,
di depan semesta, ia bersumpah.

Merasa, mengakui, memperlakukan...
selain pada kehidupan,
belum pernah kukecap perasaan itu.


Salam,


yang ingin ditemukan dan dijatuhcintakan

Selasa, 24 Desember 2013

Harapan

Aku tau kamu ada, tapi belum tau kamu yang mana.
Kamu tau aku ada, tapi kamu mungkin belum tau jalannya.
Aku tau kamu akan menemukanku. Kita di planet yang sama.
Kamu mungkin pernah melihatku, tapi tak kuperhatikan.
Aku sekarang menyapamu dalam doa, tapi tak kau dengar.
Yang jelas kita bernaung di bawah langit yang sama. Tuhan kita satu. Dia yang akan buatmu membaca ini, bagaimanapun caranya.
Dalam jodoh, tak ada kata tidak, namun belum.
Aku percaya, orang yang pantas diperjuangkan adalah dia yang memperjuangkanku.
Aku belum tau. Semoga cepat tau. Aku "buta" kini, tapi mata hati harusnya tak pernah tertutup.
Meskipun juga "tuli" dan "bisu", tapi aku masih berfirasat.
Kamu ada.
Kamu akan menemukanku.
Jika bukan sekarang, ada besok, besoknya lagi.
Menualah bersamaku. Sutradara kita satu. Dia yang akan membuatmu juga mengaminkan ini, dimanapun kamu berada.

Untukmu, yang belum kuketahui.



(ditulis dalam keadaan ngantuk tapi nggak bisa tidur, tiduran tapi nggak jadi ngantuk. Hiyaa~ :D )

Senin, 29 Juli 2013

Bukan Cahaya Sisa

Matahari.
Dia tetap bersinar walau dimaki.
Kata manusia, kadang dia terlalu menyengat.
Padahal dia selalu jadi dirinya sendiri.
Dia cuma satu di antara sistem.
Lucunya, yang memaki, kadang masih memanfaatkan sinarnya.

Kamu hebat, matahari.
Bukan cahaya sisa.
Asli dan memberi.
Keterlaluanlah yang masih mempertanyakanmu.

Jangan fokus pada segelintir atau satu.
Ketika dunia membuatmu menangis,
semesta pasti akan mengembalikan senyummu.
Bersinarlah!
Sampai Tuhan memadamkanmu.




...menyambut mentari pagi hari ini...
Bersinarlah, walau dunia tak bersahabat!

*\(^o^)/*

Kamis, 18 April 2013

Langit Malam Ini

Gerah...
Aku menengadah...
Bulan bersembunyi di balik awan yang terarak tak merata.
Gugusan bintang di selatan, kerlap kerlip kilat di timur,
berpadu di hamparan ungu kelabu yang sama.
Tidak jelas.., harus kagum atau takut.
Tak ada suara, hanya cahaya.

Aku ingin hujan
hapus mendung menggantung.
Agar malam ini jelas,
semarak oleh rintik yang beradu
atau disorot rembulan dalam keheningan.

Hanya ada semarak hedon dari kejauhan,
barisan lampu jalan yang berdiri tegak,
rintihan pedal becak di depanku,
dan aku mendesah dalam gerah.