Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Kisah - Saya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2020

Kecelakaan Beruntun

Saat itu aku baru sampai di rumah duka. Terlihat lengang dari halaman depan. Wajar, aku menuruti kata hati ke kantor dulu untuk membimbing anak, baru siangnya mampir ke blok sebelah untuk takziah. Aku mengintip ruang tamu, masih ada tikar tergelar. Segera ada wanita yang menyambutku saat aku mengucapkan salam. Aku duduk dengan manis setelah bersalaman dengan si wanita, lalu pada empat orang ibu-ibu yang kuduga sama-sama pelayat, pada seorang bapak yang terlihat lelah melayani tamu, lalu ada seorang laki-laki muda mungkin sedikit lebih tua daripada aku.
Lelaki tua terlihat mencoba mengenaliku. Kusebut nama papaku, yang akhirnya dapat memahamkan beliau sekaligus membuka memori masa mudanya. Sekumpulan ibu-ibu itu rupanya paham arah pembicaraan akan berubah mengepoiku dan mereka tak tertarik, lalu memutuskan pamit. Seperti biasa, ada pelayat yang akan mendoakan secara lantang,"Semoga almarhumah ibu diampuni dosa-dosanya nggih. Diterima amal ibadahnya..."
Semua sepakat mengaminkan sebelum si ibu menunjuk wanita muda yang tadi menyambutku,"...sama mbaknya, sampeyan belum punya momongan kan? Segera lho yaa.."
Sejenak batinku berbisik kurang ajar atas kekurang ajaran ibu yang satu ini. Suasana duka berubah canggung, si wanita hanya tersenyum. Laki-laki di sebelahnya mengangguk saja. Oh, ternyata suami-istri toh.
Ibu-ibu itu bergegas pulang setelah puas ber'empati'. Si bapak tua lalu segera menjadikanku tokoh utama dalam obrolan. Aku mengimbanginya dengan bertanya almarhumah sakit apa, dimakamkan jam berapa, dan lain sebagainya. Tapi lagi-lagi si bapak seperti tanpa koma dan jeda mengembalikan cerita ke arahku,"Mbak putranya sudah berapa?" Mungkin beliau menghitung usia papa mamaku yang seharusnya sudah menggendong beberapa cucu sebelum tiada.
"Belum. Saya masih single,"kataku santai.
"Lho kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kok belum menikah?"
"Ya kan belum ketemu jodohnya,"kataku yang justru tertawa dalam hati. Pertanyaan retoris wkwkwk.
"Lho kok belum sih? Kok terlambat?"kata beliau mengejar.
Mak deg. Dia ngremehin Gusti Allah nih. "Maaf, pak. Urusan jodoh itu nggak ada kata terlambat atau kecepetan. Semua sudah diatur," aku melirik lelaki muda yang duduk diam sedari tadi mulai mengangguk-angguk.
Kalau aku telat menemukan jodohku, berarti putra bapak kecepetan nikah dong? Lha wong belum dikasi keturunan..
Imajinasiku mulai kurang ajar.
Astaghfirullah.
"
Semua rezeki juga Allah yang ngatur. Kalau memang belum saatnya, ya namanya bukan terlambat juga kan?" kataku masih dalam kuasa nada merdu, tak meninggi.
Lelaki muda di depanku semakin lebar senyumnya dan anggukannya bertambah sekian kali. Sayangnya, istrinya sudah masuk dan menghilang setelah rombongan ibu-ibu tadi pulang. Ya Allah, pak.. Anakmu pak, anakmu.. Kok aku yang gemes sih.. Kok aku yang belain sih..
"Oh yaya, semuanya Tuhan yang ngatur ya.." kata si bapak dengan pandangan menerawang.
Jadi, selama ini apa yang kau pikirkan kisanak, soal jodoh, rezeki dan segalanya dalam hidup? Masalah cepet-cepetan? Ibu panjenengan barusan meninggal dalam usia 97. Papaku dalam usia 73 meninggal dunia. Itu juga masalah siapa yang paling cepat? Aku mencoba mengendalikan perdebatan dalam diriku.

Kurasa pembahasan ini harus diakhiri dengan mengucap,"Maaf pak, saya harus kembali ke kantor sekarang. Jam istirahat habis."
Alhamdulillah.
Kecelakaan beruntun dari hati ke hati itu semoga sukses membentur pikiran peniadaan Tuhan pada keseharian. Kalau rangka kendaraan dapat saling hantam dan penyok, maka kata-kata dapat membuat lebamnya hati. Hati-hati. Habluminallah, habluminannas.

Kamis, 22 Agustus 2019

Berbicara Rasis Dalam Berbicara


Rasis tidak melulu masalah kesukuan.
Rasis itu kesukaan diri menghujat orang lain, dengan asumsi aku lebih daripadamu. Versiku.
Rasis tidak hanya di jalan, tempat ibadahpun jadi. Padahal harusnya ibadahnyalah yang tak hanya di atas sajadah, semua aspek hidup adalah menuju ketiadaan.
“Lhoo, dengaren kelihatan (sholat berjamaah)?” ujar ibu-ibu kepada seorang gadis, seusai dzikir.
“Lha panjenengan (Anda) kemarin juga nggak kelihatan di mushola.”
“Oh ya?” senyum kecut merekah.
“Iya!” senyum ramah membalaskan dendam atas segala rasis urusan akhirat. Wkwk
Pelajarannya adalah, bersyukurlah bagi engkau yang mengimani bahwa malaikat itu ada, dan tugas satu di antaranya adalah mencatat amal ibadah. Coba malaikat kemampuannya selevel manusia, wah cilokooo.. Hahaha.


Rasialisme, menurut KBBI, adalah (1) prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; (2) paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul.

Madiun, selepas Maghrib, mengadu, mengaduk masalah dan canda. Satir.
 


Minggu, 17 September 2017

Prekuel Catatan Gadis Penyusup (2)

Beberapa dasawarsa lalu..
Gadis itu menatap pria berbadan tegap yang sangat ia kenal berlalu begitu saja dengan sepedanya, tanpa menyapa, padahal biasanya menggoda, atau curi-curi pandang ke arahnya. Lelaki yang biasanya ia hindari, karena ajaran soal dosa, berkaitan dengan harga diri wanita pula. Biasanya.
...
"Papamu itu cuek ternyata. Ga nyadar ada mama di sampingnya. Lewat aja. Mbablas, ga noleh-noleh," kata wanita itu mengaku. Dari sudut pandangnya, ia gemas ketika suatu waktu tidak diperhatikan oleh lelaki yang ia cintai. Satu-satunya di sepanjang hidupnya. Wanita tua itu terdiam membayangkan masa mudanya.
Putrinya ikut terdiam, karena kaget bukan main.

Minggu, 21 Mei 2017

Papa

Papa adalah orang pertama yang kuuji kesabarannya dengan segala “kejahilanku”. Bahkan dari pertama kali aku menghirup udara di bumi, papa adalah lelaki yang memacu kendaraannya dengan kalap karena dipikirnya aku tiada sesaat setelah hadir di peluknya. Nyatanya aku masih hidup.

Papa adalah lelaki pertama yang kusungkani karena ketegasannya, kasih sayangnya kepada istri dan anaknya, ngamuk tingkat tinggi jika tau putrinya diganggu walau itu hanya seekor nyamuk. Kami sama keras kepalanya, tapi aku sungkan dan hormat, bukan takut padanya. Papa adalah komisi disiplinku pada saat masih kecil. Maafkan aku, pa. Mungkin aku menjengkelkan karena selalu mempertanyakan aturanmu. Kalau aku tidak yakin, ya tidak kukerjakan.

Papa adalah orang yang mendengarkanku, walau terkesan cuek dan cool, lalu memberi masukan yang rasional, meskipun akhirnya ikut baper karena ada hati yang lembut di balik wajahnya yang sangar. Justru karena lelaki tidak mudah mengekspresikan emosi, bapernya berasa shocking soda.

Papa adalah lelaki yang menganggap suaraku paracetamol sekaligus penurun asam lambung. Papa adalah lelaki yang selalu menggumam “anakku sudah makan apa belum ya”, saat menyendok makanannya sendiri di rumah.

Papa adalah orang yang ngambek saat melihatku terus lembur saat kejar deadline. Papa terlalu khawatir aku sakit, tapi jatohnya marah-marah. Penjelasanku dicuekin, apalah deadline itu. wkwkwk

Papa adalah cowok cakep luar-dalam, yang bikin aku iri sama mama, “beruntung sekali wanita berjodoh sama cowok secakep papa.” Dan itu kuucapkan frontal di depan keduanya. Biasanya, papa senyum cakep 1000000000 kali lipat, dengan sedikit bergaya. Dan mama melengos sambil berusaha mementahkan argumentasi dengan malu-malu. That's love! :)

Papa dan aku adalah tim usil yang setia ngisengin mama. Kami suka bercanda, kalau sudah duet, mama yang sebal. Mungkin karena sering jadi korban. Hehe.

Papa adalah lelaki setia, yang walau banyak fans, hanya satu wanita yang selalu diperlakukan secara romantis: mama. Mungkin aku membenci perganjenan juga karena mengamati dan mendengarkan masa muda orang tua. Hehe

Papa adalah orang yang membebaskanku tidak berhijab, karena diinginkannya aku beribadah sesuai kesadaranku saat dewasa. Aku malah berhijab dan melaksanakan kewajibanku sebagai muslimah bukan karena amukan atau suruhan papa, melainkan contoh darinya. Aku juga mengenal kemakrifatan, tidak berhenti di syariah karena papa. Aku tidak disuruh untuk mengikuti, tapi aku membaca apa yang papa baca. Pelajaran ketauhidan pertamaku. Kata orang mungkin aneh, tapi aku suka. Aku yakin atas pembahasan "kemana-mana" itu.

Papa juga yang mengajariku menghargai perbedaan, baik perbedaan agama, ras, suku. Papa selalu kasi contoh cerita di kampung halamannya dulu, dimana kampung Madura, kampung Arab, dan kampung Cina bisa hidup berdampingan dan bahkan saling mendoakan. Kakekku yang asli Madura selalu dimintai tolong temannya, etnis Tionghoa, untuk selamatan jika beli truk baru dan mau beroperasi. :)

Papa adalah pasien pertamaku yang kurawat sepenuh hati, walau aku sekarang adalah akuntan pendidik, bukan dokter seperti yang orang tua harapkan. Papa juga adalah orang yang ditakuti orang sekitarnya, tapi malah takut padaku jika sudah ada dasar yang pasti dan aku menuntut kedisiplinan yang sama dari papa. Haha.

Papa. Papa. Papa.
Sembuhlah pa. Kalau Allah mengizinkan, papa yang menikahkanku kelak dengan orang yang mirip dengan papa. Karena aku putrimu, aku ingin putra putriku juga tak jauh dari warisanmu. Aku fans papa. Aku putri bungsumu yang belum bisa ngasi apa-apa.

Sembuh ya, pa..

Kamis, 27 April 2017

Cinta Dalam Pandangan Saya

Pernah aku tak mau mendefinisikan jatuh cinta itu apa.

Pandangan ilmiah menyatakan jatuh cinta itu proses membau wanita kepada pria sehingga memicu bla bla bla..

Zat dalam coklat juga dipercaya setara dengan hormon tertentu saat jatuh cinta. Kehadiran seseorang masa seharga sebatang coklat? Hihihi.

Ada pula yang membuat seminar cinta untuk politisasi penemuan jodoh. Sampai majalah remaja dan artikel daring pun acapkali menyediakan tips cara memikat si dia dan ciri-ciri ia jatuh cinta padamu.

Motivator membuat pernyataan jika tidak kehilangan logika, bukan cinta namanya. Ah, jangan-jangan ini cinta buta atau kebenaran yang ditangkap dari pengalamannya semata.

Para wanita lajangpun sibuk membicarakan kriteria pria yang ideal menjadi jodohnya. Padahal semakin tua, semakin kurasakan perasaan itu tak bisa tercipta semudah melengkapi checklist.

Ada yang bilang, ia yang rela menunggumu dan menghubungimu setiap saat adalah mereka yang mencintaimu penuh kesungguhan. Aku bertanya, apakah yang semacam ini akan berlangsung selamanya? Jika sudah seatap seiya setidak sekata sekalimat separagraf janji suci, yakinkah tidak merasa bosan? Padahal manusia tercipta tak ada yang sama. Berusahalah sesuai ukurannya. Kadang aku menjumpai cerita orang pacaran kalau makan suap-suapan, setelah menikah malah nggak ada romantisnya. Lucu. :D

Kuamati pasangan yang melalui tahapan bertemu setiap hari, berbincang setiap kesempatan, lalu pacaran. Pacaranpun kalau putus seolah aib jika menjomblo terlalu lama dan tidak segera menemukan yang baru. Mengapa memangnya kalau tidak melalui tahapan itu? Misalnya cara yang semi nonmainstream seperti mengetahui keluarganya, lingkungannya, atau yang super aneh, yaitu berdebat sampai tingkatan langit ketujuh terlebih dahulu? Kupikir itu lebih adil, karena segala pencitraan berlebihan tak diberi kesempatan. Mengapa selalu mengandalkan analisis yang tampak, sedangkan wanita unggul dalam berfirasat? Hehe.

Pada beberapa orang yang sakit hati, kutemui rasa tidak percaya akan masa depan yang masih suci. Masalah lama dan cinta searah masih diungkit, seolah hal itu adalah sampel untuk populasi: semua lawan jenis di dunia sama aja. Aku kayaknya pernah nulis, kalau waktu ga akan pernah menyembuhkan luka, kalau dirinya sendiri ga berusaha. Trus nanti datang tuduhan sama orang yang sudah menguasai ilmu feel free kayak aku, dikiranya ga pernah jatuh cinta, ga normal. Lho jangan salah, setiap orang yang datang di hidupku, apapun niatnya, apapun ceritanya, membantu mengasah “berlian”ku kok. Hehe. #ifyouknowwhatimean

Pertanyaan terakhir, apakah perilaku seseorang is always to predict and to explain? Karena kalimat-kalimat yang kutulis di atas itu sifatnya teori, kesimpulan manusia, tak mesti berlaku untuk semua keadaan.

Aku tak pernah merencanakan kepada siapa aku tertambat.

Pernah ku mengetik kata-kata indah, lalu kuhapus karena malu atau kecewa.
Mengapa?
Kupikir aku yang labil. Ternyata aku membongkar teoriku sendiri. Tak ada yang abadi. Perjalanan harus bergerak maju, siap direvisi, agar tak terkungkung dalam satu paradigma. Haha. Kalau ngeyel di situ-situ aja, udah sempit, kuno, egois lagi. Hehehe.
Eniwey, saya menertawai Ela sebelum detik postingan ini dibuat. Kalau mau ketawa bareng-bareng, nggih monggo.. :D

---

Karena kujatuh cinta, kujadi bertanya. Tak jadi menjawab, namun terus mencari. Kini, tak pernah kurencanakan aku tersipu karena apa, hal-hal kecil terkoneksi pada siapa, bahkan ia tak mungkin tau betapa kagetnya aku oleh hal-hal sepele –bagi orang lain- namun gencar membuatku tersipu.
Kalau kuminta hal serupa terjadi padanya, ah aku transaksional. Salah satu sifat yang kubenci, karena memicu ada apanya, bukan apa adanya.

Aku dalam kepasrahan mendalam, memohon keselamatan kepadaNya untuknya. Kalau memang ditakdirkan bersatu, ya dia akan melamar karena keyakinan mendalam soalku. Jika tidak? Ia diberi keraguan untuk menyelamatkan kami dalam jalan masing-masing.

Bukankah segala yang terjadi atas kehendakNya? Ia akan memantik api kesungguhan, hanya karena Ia lah segalanya padam. Jatuh cinta itu rezeki, aku rahmat baginya, ia rahmat bagiku, berdua memeluk semesta.

Cinta, dalam sudut pandang wanita (yang seperti saya).

Selasa, 14 Februari 2017

Komedi Anak Akuntansi

"Lho katamu aku disuruh tunggu di gedung F, malah kamunya udah di gedung G. Aku udah di sini, kamu suruh tunggu di sana? Gimana sih?"kataku.

"Lho aku nggak maksud gitu. Kecepatanmu untuk datang lebih daripada permintaanku untuk nunggu. Jadi ya udah, kita ketemu di sini." justifikasinya.

"Oke, stop! Kamu tau siapa yang salah di sini?" balasku.

"Siapa?" tantangnya.

"Gaya gravitasi! Gravitasi hatimu membuat aku cepat ketarik ke sini. Ke ruangan ini."

EAAAAAA..

sementara ituu.., adik-adik di ruangan itu yang mendengarkan celotehku dan sahabatku (cewek) langsung nyeletuk,"Aku pusing dengerin mbak berdua ini."

Bwahahahaha

-----------------------

Berfikir jauh ke depan itu penting, tapi menikmati ke-disini-an dan ke-sekarang-an itu lebih penting. Transkrip percakapan ini ditulis saat aku berpikir apakah derai tawaku tadi adalah yang terakhir di kota ini, bersama sahabatku?

Sebuah cerita dari bunga dan pohon di taman yang sama.
Terima kasih telah berjuang bersamaku, AIK.

------------------------

Peringatan:
Jangan pernah berharap wajah kami serius, karena hahaha.., ekspektasimu mungkin jauh lebih tinggi daripada kenyataan, tentang anak pascasarjana, bu ibu dosen, filsuf, atau apalah sebutannya. :D

Jumat, 15 Juli 2016

Mengalahkan Kecerdasan Seorang Wanita

Entah kenapa obrolan sore bersama seorang kawan membuat jariku ingin mengelus laptop. WIDAAA, KAMU KUSEBUT LHOO.. *lalu aku dilindes motornya agar bungkam* wkwkwkwk

Riset menyatakan kecerdasan anak diturunkan sekitar 75% dari ibunya dan 25% dari ayahnya. Mendengar hasil riset, harusnya pria lajang berlomba-lomba mencari wanita single cerdas.
Tapi nyatanya wanita cerdas disegani, bahkan ditakuti. Apalagi yang gelarnya sepanjang coki-coki, sekolahnya setinggi langit di angkasa. Meskipun tak bertitel bukan berarti tak cerdas. Mamaku contohnya, gadis lulusan SMA yang mengabdikan dirinya untuk keluarga. Kan nggak mungkin kakakku, si juara bertahan dari SD sampai kuliah, mengambil DNA tetangga atau ibu-ibu yang numpang lewat depan rumah. Jadinya ntar FTV Anakku Bukan Anakmu. Eh? wkwkwk

Aku sering kok diganggu, sampai dibully kaum adam, karena dia merasa "senior". Biasanya setelah tau aku anak pasca, dia bungkam. MAS, NGGAK TAU AKU ANAK SIAPA HAH??? uwuwuwuw.
Padahal kan niatku jujur. Aku anaknya ga sombong kok, serta suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Eh, malah sononya yang kayak ganti kebully. wkwkwk.

Selain perkara gengsi, ada juga pria yang segan ngibulin wanita cerdas. Lho, cari partner sehidup semetong, apa nyari "calon korban penipuan" sih? mwahaha.
Aku jadi ingat kajian pranikah beberapa minggu lalu. Garis besarnya adalah kita perlu menentukan tujuan kita dalam mencari pasangan, apakah mencari yang cocok dengan diri kita.., atau mencari seseorang yang dapat menjadi ayah (ibu) anak-anak kita kelak.
Maksudnya, kita diajak menjadi visioner. Kita membayangkan versi yunior dari seseorang -yang jadi target kita- dengan segala sifatnya yang melekat di dirinya. Sifat anak kan pasti didapatkan dari orang tua. Nah, bayangin mbesok anak kita kayak apa kalo sifat orang tersebut menurun. Kupikir, ini juga perkara kecerdasan.
Bedanya dimana? Ya kalau para pria mementingkan gengsi ya harus cari yang wanita yang level kecerdasan di bawahnya. Kan biar cocok sama maunya.
Kalau pria tersebut mampu berpikir visioner, ya pasti cari wanita yang -kalo bisa- lebih cerdas daripada dia. Untuk Indonesia yang lebih cerdas, mas~ uwuwuwuw~


Terus, menyoroti perkara gengsi.. Pria takut kalah debat? Itu mau lomba apa nikah sih? hahaha.
Takut dikudeta? Buset dah, kecerdasan ada 3 lho. Intelektual, emosional, spiritual. Seseorang dengan kecerdasan emosional dan spiritual tinggi tak mungkin menyakiti orang lain memakai intelektualnya.
Takut ga bisa naklukin? Setiap wanita punya perasaan yang bisa kamu kuasai dulu, sebelum menundukkan dia, secerdas atau sehebat apapun ia. Eaaa..


Dari tempat legalisir ijazah dengan cinta,

anak manis

Minggu, 08 Februari 2015

Di Balik Sebuah Doa

Jadiii, begini ceritanya.. tengah semester kedua matkul Etika Profesi & Spiritualitas muncul kesepakatan baru. Salah dua dari anggota kelompok yang bertugas presentasi, juga berkewajiban untuk memimpin doa pembuka dan penutup sesi perkuliahan.
Kelompokku adalah kelompok penutup. Dan aku memilih memimpin doa penutup. Itu berarti terakhirnya terakhir. Kehormatan bagiku, karena kan biasanya pemeran utama emang muncul terakhir. *kibas jilbab* *pasang pose pahlawan bertopeng* *dikeplak* :p
Ini doanya:


"Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..
Kami bersyukur ya Tuhan..
atas segala nikmat yang Kau berikan.
Terima kasih, karena telah mengizinkan kami berkumpul di dalam kelas ini.
Presentasi, berdiskusi... sampai bercanda... bertemu teman2 tersayang dan dosen merupakan anugrah, yang mungkin sering kami lalaikan untuk disyukuri..
Terima kasih telah Kau jalinkan persaudaraan di atas segala perbedaan yang kami miliki. Semoga jalinan ini tetap terjaga walau pada akhirnya kami harus berpisah..
Terima kasih, karena telah kau beri kesehatan dan kemampuan untuk berbagi ilmu hari ini...
Beri kami kesembuhan dari sakit, baik itu yang ada pada raga maupun jiwa dan hati kami..
Beri kami kelancaran berpikir, ketenangan hati, dan mudahkanlah atas segala yang kami perjuangkan.
Jadikanlah kami versi terbaik dari diri kami.
Engkaulah Maha Mendengar harapan, Maha Melihat usaha kami... Sesungguhnya yang berasal dariMu, akan kembali padaMu..
Kabulkanlah doa kami ya Tuhan..

Aamiin.."

..itu teks versi print out sih. Sebenarnya di teks aslinya, ada tambahan kalimat lainnya sih.. lebih dramatis jadinya.. Hehee.. Tapi suer, itu nulisnya tulus setulus-tulusnya.. Dan hasilnya, si penulisnya sendiri nahan biar ga nangis pas mbaca di depan kelas.


FAQ #1 Tapi, Laa.. kok doanya bahasa Indonesia?

Aku pengen memastikan orang yang mengamini doaku itu tau apa yang diamini olehnya. Memang mayoritas pemeluk Islam. Tapi rasa persaudaraanku sama pak-bro dan bu-sist yang memeluk Hindu, yang bikin aku nulis doa pakai bahasa Indonesia. Toh, kalau kamu yakin Tuhan itu Maha Mendengar, apapun bahasanya, menurutku nggak masalah.

FAQ #2 Doanya gitu amat yak.. semacam lebay kayak mau pisah apa aja..

Iya, tiap teman, apalagi yang berjuang bersama, selalu kuanggap seperti saudara sendiri. Imajinasiku yang selalu jauh ke depan ini ngasi bayangan betapa berbeda rasanya kalau nggak ada mereka (edisi komplit). Yang nekat mamam di kampus walau lampu udah dipadamin lah, yang kerja kelompok dibelain break buat bobok kece 5 menit sambil duduk lah, yang karaokean setelah 3 hari full tugas & 3 hari kuliah lah, yang nari india sambil foto-foto sambil jalan ke kantin sambil nggalao tugas lah.. Hahaha

FAQ #3 Kok harapannya dikit amat yak? Malah banyak terima kasihnya?

Nah itu dia! Aku ngerasa tiap kita berdoa seringnya pake kalimat yang diawali "tolong ya Tuhaannnn...", atau "Semoga aku.." atau "Kenapa oh kenapa, Tuhannn...".. Trus ujung-ujungnya lupa bersyukur.. Nah, untuk mengingatkan teman-teman untuk banyak bersyukur biar nikmatnya ditambah dan ditambah lagi, untuk menghargai yang udah kita dapat, dan untuk menyadari rezeki yang udah dikasi Tuhan yang serinnnnggg banget ga kita sadari karena ketutup sama keluhan, makanya aku pake banyak kata terima kasih. Yang aku terimakasihkan di atas itu, misal nggak dikasi sama Tuhan, imajinasiku bilang... hidupku ga bakal seindah hari ini dan ga ada Ela yang ada di depan kelas buat mimpin doa.

FAQ #4 Ebuset, niat amat bikin latar belakang buat doa? Kayak pendahuluan makalah ajaa..

Sahabatku bilang, niat itu emang yang mengawali segalanya. Nah, moga-moga dengan niat penyusunan doa yang baik dan tulus, doanya capcus dikabulkan sama Tuhan. Aku sih...mengusahakan segala sesuatu yang aku lakukan ada maksud baik untuk kebaikan bersama. Doa yang terucap boleh sama, niat dan kadar ketulusan bisa beda.. Ada yang 24 karat, ada yang karatan.. Nyahahaha... *hush*
Dan ini bukan maksudku buat pamer atau apa yaa.. Sudut pandangku ini adalah bahwa berbagi itu indah. Berbagi nggak mesti materi. Semangat, inspirasi, ide...juga bisa dibagikan.

Dan akhir kata..
boleh kan minta aamiin-nya? :)

Sabtu, 03 Januari 2015

Fenomenologi in Love

Ini soal bagaimana kamu menerjemahkan suatu simbol.
Tuhan menciptakan skenario,
Alam menyediakan petunjuk,
Seberapa berarti bagimu itu masalahnya...

Ketika suatu simbol yang dapat merupakan sampah bagi yang lain,
bagimu itu dapat mendegupkan jantungmu lebih cepat.
Itulah cinta.. dari perasaan terdalam.
Itulah perasaan yang membuatmu tersesat dalam labirin.
Pengingat tentang rasa yang terpendam.

Semesta seolah menggodamu saat semua tampak sepertinya,
semua pertanda mengarah padanya,
oh, mungkin ini letak kebutaan dalam cinta,
selama logikamu tidak hilang, kau tak benar-benar jatuh cinta.
Jatuh yang tak menyakitkan,
Karena yang berlaku hanya gravitasi bulan,
kamulah air laut yang sedang pasang.

Cinta yang paling berbahaya adalah cinta yang tak pernah surut oleh waktu.




Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang pernah merasakan hilangnya logika.
*kedip penuh arti*

Selasa, 31 Desember 2013

Untuk Yang Belum Kuketahui

Hai, seseorang-yang-belum-kuketahui...
Aku menulis ini kemarin malam. Dengan mata sembab. Dan penuh perasaan, ehm, cinta? Haru? Ah, entahlah. Yang pasti aku setengah terbawa suasana dan sisanya dikuasai harapan.


Pagi tadi, 44 tahun yang lalu, orang tuaku menikah. Tidak ada perayaan meriah untuk memperingatinya. Cukup doa dan nasi kuning, kebersamaan penuh cinta.
Taukah kau, bahwa aku juga punya doa khusus saat peringatan tadi.
Aku ingin jadi setangguh mama, jadi pendamping sekaligus sahabat terhebat untukmu. Lalu, khayalanku berkuasa sejenak. Kubayangkan aku tersenyum menatapmu setiap hari, sampai rambut kita memutih. Ya, aku ingin menua bersama orang yang aku sayangi (dan tentunya menyayangiku dengan caranya sendiri). Akan aku jadikan itu resolusi seumur hidup. Karena aku akan tau keinginanku terwujud atau tidak, ketika maut memisahkan kita.
Kini, yang bisa kulakukan "hanya" berusaha menjadi gadis yang makin cantik dari hari ke hari. Kalau yang kau kira kecantikan itu fisik, maka izinkan aku melengkapi pendapatmu. Mendewasa juga bagian darinya, sayang.
Seolah sehari ini bertema cinta sejati, tiba-tiba ada Habibie dan Ainun menemaniku menulis.
Dibilang nonton, aku malah setengah melamun. Badan di depan televisi, pikiran entah kemana.
Ke kamu? Mungkin. :)
Kamu.. Walaupun kelak kujuluki Mr. Right, sesempurna apakah kamu?
Kalau aku.., aku adalah gadis yang punya kekurangan di sana sini di balik kesan humoris atau apalah ini. Pertanyaanku, maukah kamu jadi pelengkapku?
Dan bisakah aku mengertimu pula? Sepertinya, tak hanya menua, tapi kita juga perlu mendewasa bersama.

Ketika aku iseng membuka-buka majalah lama, kudapati kutipan bagus.
"Ada rumus menarik yang dibuat seorang psikolog dan astrolog. Cinta pada pandangan pertama = mendapatkan soulmate potensial. Cinta yang mengalahkan segala tantangan = soulmate sesungguhnya."
Kau tau artinya, kan?
Cepatlah temukan aku.
Ya, kita butuh bertemu dan menaklukkan tantangan sesungguhnya: menjalani hubungan. :)