Minggu, 04 Mei 2025

Hidup, Part Sekian....

 “Mbak, jangan menikah!”

“Wah, komentarnya beda nich!” kataku dalam hati. Saking semangatnya, pengucapan “nich” sampai terbawa sebagaimana mestinya.

N-I-C-H.

Bukan NIH.

---------------------------

Aku mengintip smartwatch yang menunjukkan debaran jantungku meningkat seiring dekatnya jarum panjang ke angka 12 dan jarum pendek di angka 8. Aduh, kesiangan, pasti antrian loket RS sudah mengular.

Tapi hari ini aku mencoba mindfulness. Ah, meskipun telat, aku berusaha beres dengan diriku sendiri. Aku sudah sarapan dengan layak, sudah mandi dengan tenang dan dandan cantik sekali. Aku melirik outfit yang tidak biasa kukenakan ke RS, jeans biru, kemeja putih, jilbab abu tua, wedges pink, dan tas merah menyala. Biasanya, aku hanya mengenakan celana kain, kemeja tabrak warna, sandal jepit, seperti pasien pada umumnya, yang penting antri.

Ternyata antrian di loket sidik jari tak serepot biasanya, alatnya mau bekerja sama denganku untuk mengenali jempol kananku dengan sekali sentuh. Alat cetak Surat Eligibilitas Pasien juga sempat ngambek sekali, selebihnya dia mau memuntahkan kertas putih bertuliskan identitasku.

Kusapa perawat yang juga langsung mengenaliku dan dengan seloroh seperti biasa,”Keluar dulu, masih luamaaa.”

Aku dengan riang menjawab,”Okeee..” sambil melirik isi tasku. Buku bacaan dan sebotol penuh air mineral yang penting ada bersamaku, tak masalah menunggu lama.

Menuju ruang tunggu aku kebingungan, melihat ternyata tak ada kursi yang tersisa. Bahkan keluarga pasien rela duduk di petak-petak ubin yang tersisa di antara kursi-kursi dan tembok. Bagaimana dengan pasien? Mereka di atas kursi roda dan tempat tidur yang berderet rapi memblokade jalan lalu lalang, sudah seperti kendaraan macet saat arus mudik. Di antara bingungku, ternyata ada satu keluarga pasien yang dipanggil, beranjak meninggalkan satu kursi kosong.

Aku dengan cepat menujunya dan minta izin orang di sebelahnya,”Kosong? Boleh saya duduk di sini?”

Si Ibu mengangguk dan mengamatiku dari atas ke bawah. Daftar FAQ otomatis menyala di otakku, sambil menunggu komentar atau pertanyaan apa yang akan diberikan.

Ternyata si Ibu hanya senyum, tapi senyumnya pahit.

Karena kusadari kita adalah mahluk hidup yang tidak mungkin diam saja berjam-jam, kuputuskan bertanya duluan,”Ibu ke poli apa?”

Kamipun saling bercerita poli dan dokter yang menangani. Kudapati si Ibu adalah kaum mendang-mending. Dia selalu menilai dirinya orang tidak beruntung sedunia karena sakitnya sudah parah. Yaaa, sebenernya aku juga sih, cuma tembok yang kubangun tinggi sekali sehingga orang-orang melihatku sebagai orang yang selalu sehat dan ceria.

Tidak lama, ternyata si Ibu dipanggil masuk poli. Tapi hanya sebentar, dia keluar dan kali ini berdiri di sampingku karena kursi penuh. Dia menjelaskan bahwa dia tidak mau mendengar komentar dokter kalau sakitnya memburuk, hanya ingin tau penanganan lebih lanjut saja, jadi dokter di sini sedang konsultasi lebih lanjut dengan dokter di Surabaya. Lalu dia menggumam,”Saya sendirian, saya ditinggalkan suami ketika saya sakit,….. mbak masih mending..”

Oke, cukup.

Aku mencoba melakukan smiling eyes karena tidak mau membuka masker saat itu, lalu menyahut,”Saya juga sendirian, ke sini tidak ada yang menemani, orang tua saya meninggal, saudara tidak ada di sini, sayapun operasi dengan membayar penunggu-rewang, dan saya masih single.”

Saat bersamaan kursi di sebelahku kosong, si Ibu bergegas duduk dan tiba-tiba bilang,”Mbak, jangan menikah!”

Aku diam saja mendengarkan. Biasanya orang di sekitarku sibuk menjodohkan atau sekadar menjadi pengingat berjalan kalau sudah waktunya menikah. Kok, ini beda. Hahaha.

“Menikah itu menyakitkan. Padahal saya sudah hijrah, meninggalkan hobi lama saya (penata rias), saya umrah dan ikut kajian. Pada akhirnya ketika saya sakit, saya tidak dipedulikan..”

…….

“Dulu saya cantik dan terawat, mbak.. Nggak kayak gini…”

Yang terjadi selanjutnya, dia menunjukkan foto suaminya, kenangannya saat umrah sebagai kado pernikahan, momen saat dia kajian, saat dulu aktif bersama teman sesama penata rias, dan terakhir foto beberapa mukena putih bersimbah darah.

Air mata yang tadi ditahan akhirnya berubah jadi tangisan deras di keramaian. Dia merasa sendiri dan ditinggalkan. Ketika disakiti, luka bekas operasinya akan mengeluarkan banyak darah. Lucunya, orang-orang yang duduk di sekitar kami sepertinya ikut mendengarkan, mencuri pandang, dan mencodongkan badan mendekat. Apakah ini yang dinamakan ketika dunia tau deritamu, tak semua mau memelukmu? Mereka cuma ingin memuaskan rasa ingin tau mereka.

“Suamiku NPD, mbak.. dia menyebarkan fitnah dan tidak ada satupun dari saya yang ia percayai. Darah tadi dituduh obat merah.”

Satu-satunya barang yang kuambil dari tasku saat itu cuma tisu untuk meredakan badai.

Dia lanjut bercerita mengenai terapi-terapi kesehatan sambil memperlihatkan luka bekas operasi di pelipis. Aku hanya menanggapi sesekali,”Wah saya bahkan tidak memperhatikan luka bekas operasi itu..saya fokus cerita Ibu.”

“Saya berani bercerita ini karena mbak tidak kenal saya, jadi tidak perlu mengulik-ngulik kehidupan saya, cukup dengarkan dan ambil hikmahnya.. mungkin setelah ini kita tidak ketemu lagi, saya dikenang sebagai perempuan yang berusaha kuat ketika sakit saja sudah cukup.”

Ketika ia puas bercerita, kini giliranku yang bercerita. Sebelumnya aku klarifikasi bahwa ucapanku tidak untuk membandingkan penderitaan, ini hanya sharing.

“Ya betul, Ibu.. Mending tidak usah menikah. Betul. Tidak usah menikah kalau belum bersahabat,” kata-kataku menarik perhatian si Ibu. “Tidak usah menikah kalau hanya kenal dari sosial media atau kenal biasa. Jalinlah persahabatan dulu, dengan demikian sifat baik dan buruk kedua belah pihak sudah sama-sama tau. Tidak usah menikah kalau hanya dituntut karena dinilai sudah terlalu tua, karena judgement orang lain, karena tuntutan orang tua atau lingkungan sosial, atau hanya ingin punya anak.”

“Nah, betul jangan dengarkan kata orang,” kata si Ibu bersemangat.

“Saya juga melalui beberapa tahap hidup dimana tujuan saya berubah seiring berjalannya waktu. Yang saya katakan tadi hasil perenungan saya terakhir, selepas saya sakit. Saya hanya ingin bersahabat sekarang, selama tidak terlalu mengenal seseorang, saya tidak mau melangkah lebih lanjut. Selama si pria tidak ada inisiatif, saya menilai dia tidak bisa memimpin keluarga.”

“Perempuan hanya ingin dibahagiakan oleh laki-laki,” gumam si Ibu sambil kembali flashback.

“Ya, tapi sebenarnya saling ya bu.. saya bisa bilang begini karena kedua orang tua yang memberi contoh. Mereka sampai akhir hayat, memberi contoh saya persahabatan yang terikat komitmen pernikahan. Mereka masih bisa adu argumen, tapi masih bisa saling memaafkan. Mereka melakukan apa yang mereka suka, tapi dengan jujur dan saling mengerti. Di kala hidup ada naik turunnya, mereka tetap kompak.”

“Hmm, iya sih.. sekarang lagi marak taaruf…tapi nggak kenal sepenuhnya pasangannya gimana..”

“Oh, saya memang tidak pacaran, tapi juga tidak setuju kalau kita menikah dengan orang yang tidak kita kenal. Makanya saya bilang sebaiknya bersahabat dulu..”

……

“Bu, kalau boleh saya sarankan.. Ibu bilang tadi Ibu sudah mau mengurus cerai dan pindah keluar rumah suami?”

“Ya, ini sudah kontak pengacara..,” diapun memperlihatkan beberapa lemari besar yang dimuat ke atas pick up, disusul dengan chatnya dengan seseorang yang ia panggil pengacara.

“Nah, kalau misalnya Ibu melakukan apa yang Ibu suka lagi? Entah menata rambut atau sekedar MUA bagaimana? Lakukan yang jadi hobi Ibu, mungkin Ibu bisa sembuh dan pulih kembali karena bahagia..”

“Tapi saya sudah hijrah…”

“Memangnya kalau hijrah pakai jilbab dan umroh, tidak boleh menata rambut orang lain?”

…….

“Yang kedua, masalah NPD ya bu.. tadi Ibu menyebut suami Ibu NPD. Sayapun mengalami kejadian tidak menyenangkan dengan NPD. Sudah bu, jangan bereaksi.. Lepaskan ikatan Ibu dan jangan memberi reaksi apapun.. Memang sulit, tapi saya juga belajar untuk tidak memberi panggung maupun diseret ke panggung mereka.”

“Oh gitu ya mbak?”

“Tipsnya begitu bu.. Mereka yang percaya dengan cerita bohong itu, biarkan.. artinya ya memang mereka ini bukan teman yang baik. Anggap saja eliminasi..”

“Suami begitu karena masih sakit hati dengan masa lalu, jadi curiganya terbawa sampai sekarang..”

“Yang belum sembuh biarkan saja.. yang penting kita sembuh agar tidak merugikan orang lain..”

Kususul dengan beberapa tips kesehatan yang kutau dari membaca, konsultasi, dan eksperimen. Si Ibu mendengarkan dan bertanya balik untuk hal asing, setidaknya kali ini isak tangisnya sudah mereda. Sampai akhirnya, namaku dipanggil masuk ruang periksa.

Kulirik smartwatch-ku. Pukul 10.00.

Setelah pamit, bergegas kumasuki poli dengan pandangan kepo. Wow, dokter subspesialisku sudah ada! Semua dokter yang kukenal, kusapa.. dan mereka bercanda di depanku.

“Datang 6 bulan lagi ya..” kata dokterku mengakhiri rutinitas hari itu.

Biasanya kalau antrian dimulai pukul 07.00, antrian periksa selesai di pukul 14.00. Ini 2 jam saja dan penuh makna. Kulirik buku yang belum sempat kubaca dan air mineral yang utuh di tasku, unpredictable!

……………..

Ada orang yang hanya ingin didengarkan untuk mencari obat.

Ada orang yang memandang pernikahan sebagai tahapan yang harus dilalui, padahal itu pilihan. Kalau ada yang cocok, kalau ada yang paham, kalau….ah, isi sendiri ya.. :)

Ada orang yang menderita karena framing orang lain dan berusaha waras setiap hari bersinggungan dengan NPD.

Orang boleh sakit, tapi harus berusaha sembuh. Orang tidak move on dari rasa sakitnya cenderung menyakiti orang lain, disadari atau tidak. Temukan alasan untuk sembuh, temukan pula pendukungmu untuk bergerak kembali, sekecil apapun itu.

Pada kenyataannya, otot dan otak memiliki memori untuk mengingat sensasi. Sakit fisik dan hati punya kedudukan yang sama.

Dengan memutus hubungan dari orang yg menyakitkan, sama juga memutus rantai penyakit.

Mungkin kamu tidak penting di dunia, tapi pastikan kamu adalah duniamu.. mereka yang mengakui planetmu, akan otomatis mendekat padamu...

Jumat, 22 Desember 2023

Si Paling Menderita(?)

Kadang, rezeki itu sesimpel...

Kena lampu merah melulu karena dihindarkan dari musibah;

penundaan bukan kegagalan, tapi sedang diselamatkan. Kalaupun berhasil cepat, memangnya sedang berlomba dengan (si)apa?

Didatangkan teman-teman yang mekso ngajak ketawa;

lalu membayangkan ada orang lain yang jauh menderita yang butuh bantuan dan penghiburan. Mungkin kita jadi alasan orang lain menghidupkan hidup!

Diperlihatkan daun gugur di jalan, yang tak mungkin bukan seizin Allah;

mungkin ini kelihatannya nasib jelek, tapi kita nggak pernah tau kalau kita sebenarnya SUDAH diselamatkan dari kondisi yang lebih buruk.

(Another random thought, 20-12-2023)

Rabu, 28 Juni 2023

126

 


Kalau kata-kata bisa menggugah jiwa, tindakan merupakan bukti nyata. 
Kadang orang meraih sesuatu untuk membuktikan bahwa "aku lebih hebat dari orang lain", tidak untukku... maka kunikmati pencapaian sebagai pembuktian ketidaksempurnaanku yang kukalahkan. 
Aku tidak pernah salah karena tidak sempurna. 
Aku salah jika memaksa sempurna. 

Kata-kata ini kuharap bisa menjadi motivasi orang yang mengalami hari buruk, diperlakukan tidak pantas oleh orang lain, tidak sempurna fisik dan/atau nonfisik, atau sedang distandarisasi paksa hidupnya oleh orang lain. 


Selasa, 03 Mei 2022

Koma

Tuhan menghadirkan koma

untuk kita menghela nafas

koma

memperbarui angan

memilah mana yang harus dipikirkan dan memilih yang memikirkan

koma

membersihkan perasaan

mana yang harus dipedulikan dan terbukti mempedulikan

koma

untuk membereskan kekacauan

menyudahi yang melelahkan

memberi kesempatan pada hal baru datang

koma

menyadari bahwa suatu hal kadang diakhiri bukan salah siapa-siapa

namun kitanya yang bukan prioritas pertama

koma

buta tuli bisu dari kata dan sangkaan menyimpang jauh berbeda

karena memang tak ada seorangpun punya titik kulminasi sama

koma

ketika Tuhan menumpulkan yang satu

maka yang lain akan dipertajam

seperti energi

rahmatNya tak pernah terputus

koma

pasti ada jalan

di antara koma-koma

sebelum titik.



 

Minggu, 27 Maret 2022

Kata Tangan Kanan

Jika aku putus asa,

aku menyia-nyiakan pengorbanan kedua orang tuaku

yang dulu rela melakukan apapun

dari mengantarkanku lahir ke dunia,

membesarkanku,

mendidikku,

memastikan aku makan dengan cukup dan layak,

melindungiku dari panas dan hujan, sehingga aku tidur nyenyak.

Jika aku putus asa,

aku mengkhianati orang-orang yang menahan air matanya agar tidak menetes di depanku,

orang yang mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantuku tanpa mengeluh,

orang yang khawatir dan memastikan aku baik-baik saja dalam semua aspek padahal mereka juga sedang berjuang dan mungkin sedang tidak baik-baik saja.

Jika aku putus asa,

aku menyia-nyiakan bagian tubuhku yang lain yang baik-baik saja,

aku melanggar kontrak hidupku untuk menjadi sebaik-baiknya manusia,

aku tidak tepat janji untuk bertemu dengan papa mama di surga,

aku membiarkan persepsi diriku menganiaya diriku sendiri.

Jangan harap orang lain paham, jika engkau tak mampu memeluk dirimu sendiri terlebih dahulu.


Jumat, 24 Juli 2020

Menjaga Nyala

Pendidikan yang baik adalah yang menyadarkan.
Sadar berarti memandang sesuatu secara holistik, dibilang bebas nilai juga tidak, tapi terlalu subjektif juga tidak. Dalam subjektivitas ada objektivitas, dalam objektivitas ada subjektivitas. Jika tidak seimbang, kita akan menganggap orang lain sama dengan kita, padahal beda. Interpretasinya tidak sama dengan interpretasimu dan -ku. Tapi dalam -ku dan -mu ada juga butuh satu pernyataan bersama untuk  "yang benar bagaimana?".
Dalam kepentingan bersama, ada kepentingan pribadi yang jika tidak dipenuhi akan merusak satu per satu individu. Tapi jika individualisme itu terlampau penting, tak ada kata bersama.
...
Sadar juga penting untuk menghilangkan kata "takut, terlampau kagum, cinta buta" yang jika dituruti kita kehilangan makna dan arah. Jika tak ada si anu, berarti aku bisa nganu. Atau kalau tidak didikte si anu, aku tidak bisa nganu. Kalau nggak nganu sama dia, aku berhenti nganu.
Jika begitu, kreativitas, inisiatif, dan pemahaman tentang benar-salah akan tereduksi. Kerdil. Kebaikan hanya ada saat sesama ciptaan-Nya yang dikagumi atau ditakuti masih ada. Tongkat estafet kebaikan akan terputus saat sesama-Nya tak ada.
Menakutkan.
Padahal seharusnya dilihat maupun tidak, diawasi maupun tidak, individu harus terus menjalankan kebaikan. Kebaikan besar itupun takkan pernah tercapai tanpa kebaikan kecil. Menancapkan paku di pohon takkan menimbulkan kerusakan yang signifikan, tapi coba lakukan berulang kali, bisa jadi sebatang pohon menjadi jelek, bopeng, busuk, dan mati karenanya.
Tapi terlalu fokus pada kebaikan-kebaikan kecil juga akan memakan waktu kita, sehingga tidak sempat melakukan gerakan kebaikan besar.
...
Sadar juga berarti jatuh cinta terhadap Tuhan. Karena cinta terhadap Tuhan, maka cinta terhadap mahluk-Nya takkan berlebihan. Kebaikan untuk sesama adalah perwujudan cinta kita kepada Tuhan. Hormat, jatuh cinta, atau apapunlah bentuknya. Tapi bukan berarti jika mahluk yang jadi tempat kita mencurahkan rasa itu tiada, kita harus berhenti menjadi baik. Mereka yang dipertemukan dengan kita adalah salah satu jalan menemukan Tuhan.
... 
Itulah mengapa beberapa anak akan mengadu pada sang Ibu saat sesuatu buruk menimpanya. Sudah diberi pencerahan, kembali lagi. Sudah diberi jalan, akan kembali lagi kepada sang Ibu. Contoh dari Ibu bisa jadi melekat sederhana, kemampuan meniru mungkin sekedarnya, tapi sadar adalah kemampuan meneruskan dan mengembangkan potensi untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan besar. Seorang Ibu harus mengarahkan cinta si anak kepada Tuhan, untuk menjaga si anak tetap melakukan kebaikan walau nanti sang Ibu berpulang.
Bagi orang yang ibunya sudah berpulang,  saatnya menjadi ibu untuk anak-anak yang "dikagumkan" kepadanya.
Kenapa Ibu? Karena kepadanyalah dititipkan penyampai rasa, getok tular nilai. Semua wanita cerdas pada bidangnya masing-masing.
Nilai? Belum tentu semua punya.
Karena itulah, pendidikan terpenting dari Ibu kepada anak adalah kesadaran.
"Betapapun buruknya kehidupan dunia, cobalah bangkit dan jadi semakin kuat. Kau diciptakan untuk diuji, apakah pantas pulang ke tempat terbaik.... dengan mengajak orang lain." :)
...
Pembimbing yang dibimbing,
Tempat lahir dan terlahir kembali,
jelang akhir bulan ketujuh, dua ribu dua puluh
-refleksi bab awal Capra dengan I Ching-nya-

Minggu, 22 Maret 2020

Kau dan Corona

Hohoho, tidak.. aku tak ingin menggombal.. persamaan seseorang dengan virus. Harusnya kan aku yang digombali.. #loh :'))
...
Sudah sekitar 2 minggu dari munculnya kasus pertama positif Corona di eks Karesidenan Madiun.
Menjaga jarak dengan yang lain, tapi bukan berarti hatiku juga berjarak. Aku cuma tidak tahan...untuk menulis dan melukis realitas.
Sesiangan aku memutari kota lengkap dengan masker kain untuk berbelanja, sebelum yaaa kembali mengurung diri di rumah.
Lalu lintas di hari minggu sungguh lengang, tak seramai biasanya. Ada bus yang menepi, kernet dan kondekturnya tampak kebingungan di trotoar, mungkin ada setoran yang tak terkejar (lagi) hari ini.
Dua orang berjaket Gojek tanpa penumpang sedang bercakap sambil menunggu lampu hijau. Imajinasiku berkata yang satu bertanya tips pada yang satunya, bagaimana mendapat orderan di masa sulit ini.
Pasar-pasar mulai sepi. Hewan yang dikurung di lapak para pedagang mungkin bertanya-tanya, “Apakah manusia mulai meniruku?”
Beberapa pedagang kecil masih nekat buka, dan beberapa orang termasuk aku masih membelinya. “Gimana ya kalau orang-orang sudah tak mau keluar rumah lagi? Mereka makan apa? Apa mereka punya tabungan untuk masa-masa sulit seperti ini?” batinku. Ada yang tersenyum senang karena mungkin aku pembeli pertamanya di siang hari itu.
Pegawai pom bensin yang memberikan kembalian kepadaku tampak bergegas dan tak ingin menyentuh jariku. Aku hanya bisa berkata dalam hati,”Percuma mas, kalo sampeyan atau saya atau pemilik uang kertas sebelumnya bawa virus, sudah menjalar lewat uang itu.. tanpa bersentuhan antarjari pun bisa..”
Seorang wanita yang mengantri di ATM tampak menggunakan plastik kiloan untuk melindungi tangannya memencet tombol-tombol angka itu. Aku penasaran dengan caranya mencopot plastik itu nanti, apakah diinjak dengan alas kakinya atau bagaimana?
Sebuah tulisan di kaca apotek terpampang “Masker dan Hand Sanitizer Habis” menyambutku, seolah sudah jengah menghadapi beribu orang berduyun-duyun keluar masuk hanya untuk menanyakan hal itu.
Toko yang agak besar menyediakan wastafel dadakan untuk cuci tangan, pegawainya pun sudah memakai masker meskipun ada beberapa yang memelorotkannya saat ingin bercanda penuh totalitas dengan kawannya, atau menyeka keringat karena panasnya toko.
Aku menatap trotoar dimana aku biasa menggandeng gadis kecil pulang dari sekolah, tapi sekarang tak satupun kehidupan kujumpai di area itu. Terpikirkan kawan-kawanku dan astagaaa, sejak kapan aku tidak bersyukur kebersamaan yang menyenangkan itu, kenapa baru terasa sekarang? Kadang mencari bukti itu bukan sesuatu yang tampak, tapi dari sesuatu yang seharusnya ada tapi tidak ada. Kata buah pikir Aoyama Gosho melalui tokohnya, Conan. Atau bahasa akuntansinya… kehilangan itu kerasa belakangan, kalau di depan namanya down payment. Heuheu.. Ketawa, dong. Ayolah, demi sistem imun. :’))
Lamunan itu terus membersamai sampai aku tiba di depan rumah lagi, dan terhenyak ketika ada yang berkelakar satir,”OPO??? KERJA DI RUMAH??? KAPOK! AKU KAN BUKAN ORANG KANTORAN, NGGAK NGEFEK. HAHAHA” Dari sudut mataku, kumelihat ia menyambut beberapa orang tamu di rumahnya. Deg! Maknanya kerja dari rumah kan bukan kumpul-kumpul sambil kerja di rumah.
Aku masih punya pilihan, di kantor atau di rumah, hand sanitizer atau sabun cuci tangan, masker medis atau masker kain, masak sendiri atau beli. Bagaimana dengan mereka yang tidak punya pilihan? Tak punya pilihan untuk menghidupi diri atau mengedukasi diri.
Aku juga teringat adikku, kakak sepupuku yang berprofesi sebagai dokter. Mereka tidak punya pilihan selain mengahadapi resiko demi kemanusiaan, rahmatan lil alamin..
Aku sendiri tak pernah membayangkan akan menghadapi ini, sendiri (jika aku menghitung jumlah jiwa dalam rumahku) jikalau terjadi hal paling buruk. Atau pilihan kedua adalah, menghadapi ini sebagai umat, yaitu memandang aku sebagai kita, jadi membayangkan yang terburuk yang dihadapi orang lain, bangsa, atau lebih masif lagi..peradaban.

Kau... apa pilihanmu? Apa solusimu bagi mereka yang tak punya pilihan? Masa darurat corona oleh pemerintah Indonesia diperpanjang hingga 29 Mei 2020.


Minggu, 02 Februari 2020

Rumput di Halamanku Memang Lebih Hijau!

Saat itu petang sudah menguasai langit kota dimana aku menuntut ilmu. Sesama anak kos berkumpul untuk menceritakan pengalaman di kampus sesiangan, maklum beda fakultas. Beda ilmu, budaya, termasuk jam makan. Hehe.
Aku mengaduk mie instan yang baru matang di depanku, ketika tiba-tiba temanku nyeplos, "Aku pegel mbek awakmu! (Aku sebel sama kamu!)."
"Lho lapo? (Lha kenapa?)," kataku bertanya karena tidak merasa berbuat sesuatu yang menyakitkan orang lain.
"Lha kamu tu kalo maem kelihatannya enak banget. Aku kan jadi laper lagi. Nyebelin."
Glek! Padahal ini makan malamku. Satu-satunya asupanku malam ini.
"Lho ayo ta, maem bareng?" kataku menawarkan.
"Aku udah maem barusan," katanya sambil melirik piringku.

Jadi, aku yang salah atau persepsinya yang salah? Jadi, cara makanku yang salah atau ketertarikannya yang salah? Ini aku atau dia yang harusnya tersinggung? Aku yang terlalu menikmati hidupku atau dia yang kurang bersyukur? Oh aku selama ini biasa-biasa aja, orang lain melihatnya luar biasa? Oh aku bisa gitu yaa..
Kukunyah mie goreng dengan perlahan sambil memikirkan perspektif orang.

"Tuh kan! Sebel!" ujar temanku memalingkan muka.

Oh, ini mienya yang salah! Batinku tak mau berlelah diri. Biarlah lakuku menunjukkan tanpa harus menagar "always alhamdulillah". Nikmat itu relatif, kalau sederhana tapi bersyukur ternyata bisa kelihatan mewah juga.

Refleksifitasku kini, tentu merepotkan menjawab satu per satu dugaan manusia. Waktu terus berjalan, akan ada banyak perjuangan. Budi pekerti tak dapat tumbuh di dalam kubangan kebendaan. Man robbuka? tak mungkin dijawab "mie goreng", "uang", atau "udahlah, malaikat..kita kan fren. Nggak usah jawab nggak papa ya?" karena kita fokus kepada yang terlihat enak pada orang lain. Tapi nggak sadar atau tak pernah lihat lebihnya diri.
Huhu.

*Sugih tanpo bondo, digdoyo tanpo aji (Sosrokartono)*

Selasa, 28 Januari 2020

Kecelakaan Beruntun

Saat itu aku baru sampai di rumah duka. Terlihat lengang dari halaman depan. Wajar, aku menuruti kata hati ke kantor dulu untuk membimbing anak, baru siangnya mampir ke blok sebelah untuk takziah. Aku mengintip ruang tamu, masih ada tikar tergelar. Segera ada wanita yang menyambutku saat aku mengucapkan salam. Aku duduk dengan manis setelah bersalaman dengan si wanita, lalu pada empat orang ibu-ibu yang kuduga sama-sama pelayat, pada seorang bapak yang terlihat lelah melayani tamu, lalu ada seorang laki-laki muda mungkin sedikit lebih tua daripada aku.
Lelaki tua terlihat mencoba mengenaliku. Kusebut nama papaku, yang akhirnya dapat memahamkan beliau sekaligus membuka memori masa mudanya. Sekumpulan ibu-ibu itu rupanya paham arah pembicaraan akan berubah mengepoiku dan mereka tak tertarik, lalu memutuskan pamit. Seperti biasa, ada pelayat yang akan mendoakan secara lantang,"Semoga almarhumah ibu diampuni dosa-dosanya nggih. Diterima amal ibadahnya..."
Semua sepakat mengaminkan sebelum si ibu menunjuk wanita muda yang tadi menyambutku,"...sama mbaknya, sampeyan belum punya momongan kan? Segera lho yaa.."
Sejenak batinku berbisik kurang ajar atas kekurang ajaran ibu yang satu ini. Suasana duka berubah canggung, si wanita hanya tersenyum. Laki-laki di sebelahnya mengangguk saja. Oh, ternyata suami-istri toh.
Ibu-ibu itu bergegas pulang setelah puas ber'empati'. Si bapak tua lalu segera menjadikanku tokoh utama dalam obrolan. Aku mengimbanginya dengan bertanya almarhumah sakit apa, dimakamkan jam berapa, dan lain sebagainya. Tapi lagi-lagi si bapak seperti tanpa koma dan jeda mengembalikan cerita ke arahku,"Mbak putranya sudah berapa?" Mungkin beliau menghitung usia papa mamaku yang seharusnya sudah menggendong beberapa cucu sebelum tiada.
"Belum. Saya masih single,"kataku santai.
"Lho kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kok belum menikah?"
"Ya kan belum ketemu jodohnya,"kataku yang justru tertawa dalam hati. Pertanyaan retoris wkwkwk.
"Lho kok belum sih? Kok terlambat?"kata beliau mengejar.
Mak deg. Dia ngremehin Gusti Allah nih. "Maaf, pak. Urusan jodoh itu nggak ada kata terlambat atau kecepetan. Semua sudah diatur," aku melirik lelaki muda yang duduk diam sedari tadi mulai mengangguk-angguk.
Kalau aku telat menemukan jodohku, berarti putra bapak kecepetan nikah dong? Lha wong belum dikasi keturunan..
Imajinasiku mulai kurang ajar.
Astaghfirullah.
"
Semua rezeki juga Allah yang ngatur. Kalau memang belum saatnya, ya namanya bukan terlambat juga kan?" kataku masih dalam kuasa nada merdu, tak meninggi.
Lelaki muda di depanku semakin lebar senyumnya dan anggukannya bertambah sekian kali. Sayangnya, istrinya sudah masuk dan menghilang setelah rombongan ibu-ibu tadi pulang. Ya Allah, pak.. Anakmu pak, anakmu.. Kok aku yang gemes sih.. Kok aku yang belain sih..
"Oh yaya, semuanya Tuhan yang ngatur ya.." kata si bapak dengan pandangan menerawang.
Jadi, selama ini apa yang kau pikirkan kisanak, soal jodoh, rezeki dan segalanya dalam hidup? Masalah cepet-cepetan? Ibu panjenengan barusan meninggal dalam usia 97. Papaku dalam usia 73 meninggal dunia. Itu juga masalah siapa yang paling cepat? Aku mencoba mengendalikan perdebatan dalam diriku.

Kurasa pembahasan ini harus diakhiri dengan mengucap,"Maaf pak, saya harus kembali ke kantor sekarang. Jam istirahat habis."
Alhamdulillah.
Kecelakaan beruntun dari hati ke hati itu semoga sukses membentur pikiran peniadaan Tuhan pada keseharian. Kalau rangka kendaraan dapat saling hantam dan penyok, maka kata-kata dapat membuat lebamnya hati. Hati-hati. Habluminallah, habluminannas.

Minggu, 19 Januari 2020

Kecerdasan Melintasi Ruang dan Waktu: Mbak Rewang

"Mbak, yang di kaca jangan dihapus!" tunjukku ke arah meja rias berukuran 1,5 kali 1 meter.
"Kenapa?"
"Ya soalnya itu ada tulisannya."
Mbak rewang mendekat sebelum berkata,"Astaghfirullah, mbakkk... Papan tulis apa gunanya kok kaca dibuat nulis?"
Padahal kupikir mbak rewang sudah terbiasa melihat kelakuanku yang mungkin antimainstream kalau dibanding bos-bos lainnya,"Papanku nggak cukup, makanya pakai kaca." Aku tertawa. Mbak rewang mendekat dan mulai membaca.
"Kenapa isinya nama surat Al Quran?"
"Bahan tulisan,"kataku singkat sambil tertawa melihat mbak rewang masih geleng-geleng kepala.
...
Suatu hari, ia tiba-tiba datang sambil ngomel.
"Eh, di WA bilang jam 1, kok jam 11 udah datang?" kataku membukakan pintu.
Dia mulai bercerita. Lebih tepatnya pada akhirnya saling bercerita. Sampai akhirnya ia bertanya,"Mbak ela mau kemana?"
"Tenang, kalau kita kan sudah terikat gara-gara papaku nunjuk mbak biar nemenin aku kalau papa udah ndak ada."
"Kita terikatnya sama Gusti Allah ya mbak?"katanya menyimpulkan.
"Iya. Namanya janji harus ditepati."
Sejenak ia berpikir. Mungkin sedang suntuk berat. Terdengar dari ceritanya, segala beban ia bawa sendiri ke sana kemari, tanpa menangis.
"Berarti tiap orang punya cerita beda-beda ya mbak? Ndak mesti aku thok yang nggak enak?"
"Ya, tentu aja. Dramaku sendiri, mbak. Si A ceritanya sendiri. Si B beda lagi. Lha dipikir orang ketawa-ketawa thok, ga punya masalah?" jawabku.
"Oh yaya."
Kulihat dia berpikir sambil hendak menjemur baju di lantai 2.
"Mbak.."
"Ya?" langkahnya terhenti, satu kakinya sudah memijak di anak tangga pertama.
"Tau nggak aku sekian banyak baca buku, dapat apa?"
"Apa?" si mbak rewang terlihat membayangkan tumpukan buku yang belum sempat kubereskan di depan meja rias.
"Islam mengajarkan 2 hal penting. Pertama, kedermawanan selama hidup. Mbak sudah to, lha itu ceritanya ngasi-ngasi? Yang kedua, budi pekerti. Dijaga pakai sholat. Itu bekalnya hidup 'mbesok'. Paham maksudku?"
"Iya mbak."
"Taklanjutin ya..pas baca buku itu aku nangis. Tau kenapa?"
"Emang kenapa mbak ela?"
"Aku juga punya janji sama papaku buat ketemu di 'sana'. Harus ketemu lagi, aku mama papa, katanya. Padahal ya mbak..surga sama neraka kan nggak kekal."
"Lhoo mana bisaaa?" kata mbak rewang sedikit tidak terima.
"Kan yang kekal cuma Gusti Allah. Setelah habis semua orang menerima azab di neraka, yang berbuat baik di dunia dapat balesan pahala..mungkin semuaaaanya kembali ke nol lagi."
"...."
"Jadi niatnya mbak berbuat baik itu apa? Sudah berusaha tapi masih diperlakukan nggak adil, itu enaknya gimana?"
"Udah tak takut-takutin lho mbak, yang suka ngatain itu..hayoo..gitu terus..mulutmu disiksa sampek ndak mbentuk di neraka.."
Aku tertawa terpingkal mendengarkan celotehnya yang dibarengi ilustrasi memakai wajahnya.
"Orang yang suka bantuin orang lain kayak mbak itu artinya memberikan energi, memancarkan untuk orang lain..jadi nanti bakal diisi ulang 'mbesok'.. Orang yang suka ngambil haknya orang lain dan tega, artinya menyerap energi. Soalnya kebanyakan nampung energi buat dirinya sendiri itu, makanya kudu dibakar di neraka. Paham ndak, mbak?"
Ia mengangguk. Mbak rewang tampak berpikir lagi dan meneruskan pekerjaannya. Ketika turun kembali dia kembali mengoceh,"Aku udah tambah tua."
"Oya jelas itu mbak, semua juga gitu. Hidup kan cuma sementara," sahutku mengalihkan kegalauannya.
"Aku kerja buat apa? Aku harus ngapain lagi? Aku ditawarin sekolah ngaji, mbak. Cuma 50 ribu kok, ah ngapain takpikir..lhawong uang bisa dicari. Mosok ditabung thok," cerocosnya.
Agak ajaib aku mendongak,"Oh lha terus?"
"Jamnya sama kayak jadwalnya ke mbak ela."
"Halah, ke rumahku mundur sejam."
"Gitu ya mbak?"
"Lho iya. Kan sejam to?"
"Iya."
"Sejam buat belajar ngaji. Syukur-syukur ngajari keluarganya kalau udah bisa. Waktumu pagi sampai malem full seminggu masa mau kerja aja?"
"Ndak, mbak. Hidup kan cuma sementara. Aku butuh 'sangu'."
....
Kecedasan seorang asisten rumah tangga kadang mengalahkan yang punya jabatan tinggi atau rentetan gelar, hanya karena budi pekerti yang tumbuh dan satunya dibiarkan kerdil karena pencapaian dunia penuh ego-diri. Definisi cerdas di sini berdasarkan Memeriksai 'Alam Kebenaran oleh H.O.S. Tjokroaminoto.
(psst, cerita ini ditulis dengan segala sensor dari masalah sebenarnya, tanpa mengurangi makna di dalamnya.)

Selamat berpikir! Semoga kita semua semakin cerdas. ^^

Senin, 06 Januari 2020

Main Metafora: Indomie

Ketertarikan itu bagai bau indomie di tengah malam,
uapnya mengepul, menari-nari, memanggil lebih nyaring daripada tetes hujan di luar sana,
terhirup menjadi pemicu kerusuhan antara perasaan dan pikiran,
....
mau makan kok pas diet,
ini pas diet kok pengen makan.
...
Selama itu hanya bisa diendus,
ketertarikan itu wacana.
Kalau sudah bisa membatalkan diet..
itu baru realisasi!
Terimalah indomie itu dengan kurang lebihnya.
"Alhamdulillah, enak... astaghfirullah, aku nggak kurus-kurus.."
...
#imajinasisudahmenjadibubur
#mainkata
#maugalauapadayaketawa

Selasa, 31 Desember 2019

23.23

Dua tiga dua tiga
Kapan atau dimana satu, aku tak tau
Suatu yang ganjil butuh digenapkan segera
Tapi yang digenapkan harus mengingat Yang Satu

Adalah salah selalu mengutamakan aku atau kamu
Ada keyakinan yang mengikat kepada Yang Satu
Aku dan kamu itu harusnya kita sebagai ummat
Tiangnya menuju Yang Satu adalah janji yang mengikat

Satu tak terlihat olehku
Ia berupa frekuensi satu-satu-satu
Sebelas kali
Ku membaca bunyi

Dua tiga
Satu
Satu

...hasil "membaca" Tarikh Agama Islam - H.O.S. Tjokroaminoto dan Membongkar Tiga Rahasia - Agus Mustofa...
biasanya angka jam kembar semacam 23.23 yang dilihat secara tidak sengaja diartikan sedang ada yang merindukan kita. Daripada berpikir tentang "diri sendiri", kenapa tidak merefleksikan ke hal yang lebih luas? :)
#Zelfbestuur #Aksi

Senin, 09 Desember 2019

Detik Detik Lampu Merah

Tanpa bayang sehelai daunpun,
di tengah hiruk pikuk kota jelang malam,
hanya jajaran bangku pinggir jalan,
dengan tembok cerah ceria berbunga-bunga.
Seorang model wanita meliukkan tubuhnya,
bersedia dipotret entah untuk pameran apa atau apa yang ingin dipamerkan,
sepasang anak lelaki dan ibunya berhadapan berbincang dari hati ke hati seolah mereka baru dapat kesempatan berbincang,
sebaliknya sepasang muda mudi tampak terdiam bersebelahan seolah tak tau apa yang ingin diucap karena langit sudah menggambarkan betapa merah jambu perasaan masing-masing,
seorang petugas parkir sibuk mengatur motor agar cukup baginya selembar dua lembar lagi dua ribu masuk padanya.
...
Tak akan ada kesimpulan yang dapat ditarik karena keunikan individu.
Lewat paradigma apa, saya mencipta tulisan barusan ya?
#soalcaramemandang
#merisetituasik
Hihi, kok jadi gini.

Kamis, 12 September 2019

Yatim Piatu

Olah rasa siang ini. Saat air mata ingin menetes di keramaian..
...
Menjelang 1 Muharram, aku dan teman-teman menghadiri istighosah oleh institusi. Aku dasarnya yang pethakilan langsung menyodorkan kepalaku ke arah teman-teman wanita saat mendengar,"Pas Suro ada anjuran mengusap kepala anak yatim........"
Kontan aja, nggak kredit ya wkwk, teman-teman langsung tertawa dan mengusap dengan kekuatan lebih. Bisa dibilang melampiaskan dendam, alias lebih ke kudu ngeplak daripada keberkahan dari Gusti Allah. Hahaha.
...
Beberapa hari lalu saat ada pendataan anak yatim dari pemerintah melalui RT, Bu RT sibuk meminta data anak yatim melalui grup whatsapp. Grup bagaikan angin musim kemarau khas negara di garis khatulistiwa. Kering dan panas. Tak ada satupun yang menjawab. Lalu satu ibu mulai mengajukan nama tetangganya, ganti yang satunya lagi, agak lama ada satu nama lagi. "Ayo..ayo.." batinku sebagai penonton yang tidak hafal nama anak kecil di sekitarku. Beberapa di antaranya anak titipan ke yangkung dan yangtinya, yang ku tak tau menau kondisi ayah ibu kandungnya. Tapi semuanya berakhir saat satu ibu mengajukan dirinya sebagai anak yatim piatu. Semuanya tiba-tiba kacau bagai pasar. Beberapa ibu mengajukan diri, sampai akhirnya Bu RT menyampaikan info tambahan usia maksimal 15 tahun.
Lalu sepi.
...

Oh, betapa tidak tau dirinya seseorang yang selalu minta dikasihani. Jika di atas langit masih ada langit, maka di bawah ketidakberuntungan akan ada kemalangan yang lebih. Atau jika kita melihat ini sebagai sebuah rancangan "kesempurnaan", maka setiap orang akan merasakan kesempurnaan sesuai rasa syukurnya. Akan ada bopeng dan kekurangan di sana sini di setiap diri manusia, tapi barangkali itu tidak akan dirasakan karena tertutup rasa cukup.
Akan ada saatnya seseorang merindukan ayah ibunya, tapi bukan menjadi alasan untuk bermanja-manja sepanjang waktu. Karena jika itu dilakukan, siapakah yang akan menjadi orang tua bagi adik-adik yatim piatu lainnya? Siapakah yang akan melanjutkan perjuangan ayah ibu, jika terus sibuk mengasihani diri? Anak kandung selayaknya juga jadi anak ideologis. Mengingat sejarah para tokoh dan anak keturunannya yang banyak gagal waris nilai-nilai kebaikan, mengapa aku menyerah? :)

#zelfbestuur #aksi
Madiun, dari balik meja, saat merindu orang tua, mengintisari buah pikir guruku, hingar bingar Aku Lala Padamu, dan seabreg kontemplasi.

Kamis, 22 Agustus 2019

Berbicara Rasis Dalam Berbicara


Rasis tidak melulu masalah kesukuan.
Rasis itu kesukaan diri menghujat orang lain, dengan asumsi aku lebih daripadamu. Versiku.
Rasis tidak hanya di jalan, tempat ibadahpun jadi. Padahal harusnya ibadahnyalah yang tak hanya di atas sajadah, semua aspek hidup adalah menuju ketiadaan.
“Lhoo, dengaren kelihatan (sholat berjamaah)?” ujar ibu-ibu kepada seorang gadis, seusai dzikir.
“Lha panjenengan (Anda) kemarin juga nggak kelihatan di mushola.”
“Oh ya?” senyum kecut merekah.
“Iya!” senyum ramah membalaskan dendam atas segala rasis urusan akhirat. Wkwk
Pelajarannya adalah, bersyukurlah bagi engkau yang mengimani bahwa malaikat itu ada, dan tugas satu di antaranya adalah mencatat amal ibadah. Coba malaikat kemampuannya selevel manusia, wah cilokooo.. Hahaha.


Rasialisme, menurut KBBI, adalah (1) prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; (2) paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul.

Madiun, selepas Maghrib, mengadu, mengaduk masalah dan canda. Satir.